Jikomalamo

Jikomalamo mungkin masih terdengar asing di telinga wisatawan nasional dan mancanegara, tapi bagi warga Kota Ternate Jikomalamo adalah destinasi wisata akhir pekan yang paling diminati. 

Bagi sebagian warga kota Ternate, baik muda-mudi, orang dewasa dan bahkan lansia, Jikomalamo merupakan tempat yang paling nyaman dan tepat untuk liburan, baik melepaskan penat dari kesibukan kerjaan, atau sekedar ingin menikmati kehangatan bersama pasangan dan keluarga tercinta di akhir pekan setalah melewati rutinitas keseharian.

Seperti umumnya warga Kota Ternate, akhir pekan kemarin saya berkesempatan melepaskan rindu pada samudera, menenangkan diri dengan bahagia, bersama beberapa sahabat di Jikomalamo. 

Tentu bukan hanya kami disana, kira-kira ada ribuan pengunjung lain yang sedang berwisata ke Jikomalamo seperti kami, ada yang sekedar bermain air, beberapa ada yang menyelam dan ada pula yang menikmati wahana banana boat yang disediakan oleh pengelola.

Akar Kecemasan

Sigmund Freud dalam karyanya An Outline Of Psychoanalysis yang diterbitkan pada tahun 1949, menerangkan bahwa kecemasan adalah keadaan afektif yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. 

Tentu seperti kata Freud barusan, itulah yang terjadi pada saya. Tentu di awalnya semua terasa baik-baik saja, setiap orang terlihat asik dengan kegiatannya di lokasi wisata Jikomalamo.

Namun bila boleh jujur, mata dan pikiran saya merasakan ada kecemasan yang tumbuh dalam tata kelola destinasi wisata Jikomalamo ini. Ada yang tidak baik-baik saja, seolah menanti waktu untuk mengegerkan suasana, merusak ketenangan, dan memerahkan cerita indah di balik keceriaan akhir pekan dengan darah dan sampah sebagai akibat dari tata kelola wisata yang mencemaskan.

Tentu ini bukanlah kecemasan yang berlebihan, mengingat telah banyak terjadi kecelakaan yang menyebabkan meninggal dunia di berbagai destinasi wisata pantai di Indonesia, bahkan di Kota Ternate sendiri. 

Seperti kejadian pada tahun 2019 lalu di Pantai Sulamadaha. Bahkan ada kecelakaan yang menyebabkan meninggal dunia yang terjadi dalam wahana Banana boat di beberapa kawasan wisata pantai di Indonesia, seperti pada Pantai Tanjung Karang di Donggala.

Sama seperti di Donggala, kekhawatiran itu berangkat dari pengamatan saya terhadap aktivitas wahana Banana boat yang beroperasi di kawasan ramai wisatawan, yang berenang bebas dan menikmati ketengan air di sekitaran rumah makan yang menjadi tempat pemberhentian setiap wisatawan sebelum menyeburkan diri ke lautan yang tenang dan nyaman. 

Bayangkan bila ada sedikit saja ketidak jelihan dari pengendara, tentu akan ada korban yang berjatuhan (tertabrak) sebagai akibat dari aktivitas Banana boat yang keluar masuk dengan kencang dalam kawasan ramai wisatawan yang berenang.

Tidak hanya soal aktivitas Banana boat, melainkan juga masalah sampah yang kian hari kian mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, sampah berserakan di mana-mana, bahkan hingga dasar laut yang masih jernih itu. 

Biru dan jernihnya laut seolah dihiasi oleh sampah yang mengapung hingga mengendap ke dasarnya. Sudah barang pasti ini merupakan satu hal yang mengkhawatirkan bagi lingkungan wisata sendiri dan problem ekologi yang kompleks.

Bila hal ini dibiarkan dan terus terjadi, bukan satu hal yang tak mungkin bila satu waktu nanti Jikomalamo akan tutup seperti beberapa destinasi besar Indonesia yang sempat tutup karena masalah sampah yang terlalu. 

Contohnya seperti destinasi wisata Manta Point, Nusa Penida, Bali, yang sempat ditutup setelah viral oleh video yang diunggah oleh seorang wisatawan asing yang berkunjung dan merekam lautan yang dipenuhi sampah saat menyelam di kawasan wisata.

Manajemen Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan Wisata

Tentu aktivitas Banana boat yang terasa membahayakan dan berpotensi mengasilkan korban itu karena tidak dikelola dengan tepat, serta sampah yang menumpuk seolah menjadi hiasan di lautan jernih Jikomalamo terasa perlu untuk mendapatkan perhatian khusus, dalam upaya menciptakan Jikomalamo sebagai destinasi wisata yang aman dan sehat, serta berdaya secara ekonomi untuk pelaku usaha di kawasan wisata.

Oleh karena itu terasa perlu untuk menghadirkan konsep SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) wisata alam dan Fasilitas Sanitasi Wisata Alam yang ideal untuk menjamin segala aktivitas wisata yang aman, nyaman, dan sehat bagi pelaku usaha, wisatawan, dan lingkungan alam di kawasan Jikomalamo. Maka kami menyebutnya dengan konsep Manajemen Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan yang terintergasi.

Arbi Siregar pada tahun 2018 lalu  meneliti soal Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Wisata Alam DIY, menemukan bahwa ternyata sebagian besar wisatawan alam tidak menyadari potensi bahaya, tidak memiliki Survival skill, tidak terlatih, sering kali abai dengan keselamatan dirinya dan dalam menerima informasi keselamatan. Hal ini terasa sangat relevan dengan kondisi destinasi pariwisata alam lokal Ternate dan Maluku utara, salah satunya Jikomalamo.

Dilain sisi Rahma Do Subuh dan Fitria Soamole pada tahun 2021 menerbitkan hasil penelitiannya soal Fasilitas Sanitasi Pada Objek Wisata Jikomalamo, yang dianggap masih jauh dari standar yang ditetapkan WHO. Sehingga dari sini dapat terlihat bahwa sebab dari menumpuknya sampah yang berpotensi merusak alam daerah wisata adalah sistem sanitasi yang masih belum optimal pada lokasi wisata.        

Oleh karena itu, diperlukan satu strategi aplikatif dan sluktif yang dapat diterapkan dalam rangka menghilangkan kecemasan akan bahaya yang akan menimpah destinasi wisata Jikomalamo, serta mewujudkan destinasi wisata yang aman, nyaman, sehat, dan bersih, terlebih lagi berdampak ekonomi bagi pelaku usaha di lingkungan destinasi wisata.

Strategi Dua Bangunan Satu Semangat

Strategi yang dimaksud adalah “Dua Bangunan Satu Semangat”. Dua bangunan yang perlu dibangun yaitu : Pertama, bangunan sentral K3, yang bertugas menjadi sentral informasi, pengawasan, serta penindakan pertama atas keamanan, keselamatan dan kesehatan lingkungan wisata. Kedua, Bangunan sanitasi dasar di setiap sudut lokasi wisata, berupa penyediaan air besih, bak sampah, toilet, dan pencahayaan.

Satu Semangat yang dimaksudkan adalah semangat kolaborasi, antara pemerintah, pengelola, pelaku usaha, dan pengunjung, serta komunitas masyarakat yang peduli pada isu pariwisata dan lingkungan. 

Kolaborasi antara berbagai pihak ini akan menghasilkan konsistensi pengembangan pariwisata alam Jikomalamo ini ke arah yang lebih baik ke depan, yaitu pariwisata yang aman, nyaman, sehat dan bersih serta berdaya ekonomi yang berkelanjutan.

Akhirnya, apabila ini dilakukan, kita akan menyaksikan satu perubahan ke arah yang lebih baik ke depan melalui manajemen keselamatan, kesehatan dan lingkungan wisata Jikomalamo ini. 

Kita memimpikan tidak akan ada lagi kecemasan pada pengunjung, akan tercipta kesadaran wisata aman pada setiap wisatawan, dan akan ada angin segar ke arah wisatawan global tentang jikomalamo yang layak bersaing sebagai destinasi wisata alam yang layak untuk dikunjungi.


Ternate, 2 Januari 2022