...belum ditemukan obat yang tepat dan ampuh...

Perihal tumor, yang sering disebut daging tumbuh, maka baik tumor jinak maupun tumor ganas yang dikenal sebagai kanker, penyebabnya masih diteliti, untuk membuktikan suatu teori.

Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang tepat dan ampuh untuk menangani pertumbuhan hingga penyebaran tumor.

Salah satu teori hasil penelitian terkini, tumor disebabkan oleh penumpukan protein berlebih pada area yang sama, pada bagian tubuh maupun organ manusia.

Penumpukan dikarenakan oleh perintah berulang untuk menghasilkan asam amino, suatu gugus utama pembentuk protein, sehingga pertumbuhannya menjadi tak terkendali, pada lokasi yang sama dalam tubuh.

Pertumbuhan sel-sel tubuh tersebut masih menjadi tumor jinak.

Ilustrasi Bentuk Double Helix Asam Deoksiribonukleat yang Mengandung Kode Genetika. Sumber: ‘How RNA Splicing Can Trigger Cancer’.

Apabila telah menjadi tumor ganas, maka perintah menghasilkan asam-asam amino, bakal menjadi lebih runyam. Bahkan, protein-protein yang tak sesuai kebutuhan dan keperuntukan pada tubuh maupun organ tertentu, tetap dihasilkan.



...karena adanya unsur-unsur radikal bebas yang menyelonong tak sopan...

Perintah Menumpuk

Perintah untuk menghasilkan asam-asam amino liar, lalu terkirim ke dalam ribosom, bagian dalam inti sel manusia tempat protein disintesa.

Kekeliruan perintah tersebut gara-gara Asam Deoksiribonukleat (DNA) mengalami kerusakan fungsi untuk memerintah sintesa protein melalui pengiriman kode genetika (kodon), yang menyebabkan terjadinya kebingungan atas peran tiga tipe Asam Ribonukleat (RNA), yang menjadi ‘bawahan’ DNA, yakni;

  1. RNA-transfer (t-RNA), yang membaca perintah asam-asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh. Perintah tersebut diterjemahkan menjadi kodon tertentu, yang kemudian ditransfer ke RNA-messenger.
  2. RNA-messenger (m-RNA), yang berfungsi sebagai pembawa pesan kodon ke ribosom, suatu organel sel dalam tubuh sebagai tempat sintesa protein.
  3. RNA-ribosome/replicate (r-RNA), yang berperan sebagai penerjemah pesan kiriman m-RNA, berupa rangkaian kodon pembentuk asam amino, sebagai penyusun protein.

Ilustrasi Ringkasan Proses Normal Sintesa Protein Dalam Ribosom. Sumber: Article A Short Explanation of the Fascinating Process of Protein Synthesis’

Kuat dugaan penyebab kerusakan DNA, karena adanya unsur-unsur radikal bebas yang menyelonong tak sopan, pada mekanisme sintesa protein dalam Ribosom.

Dampak bahan kimia berbahaya, polutan dan radiasi terhadap terbentuknya Radikal Bebas sebagai penyebab kerusakan DNA. Sumber; Article ‘Antioxidants in Periodontal Diseases.’

Tindakan tanpa permisi dari si radikal bebas tersebut menyebabkan penurunan fungsi DNA, dalam mengarsiteki sintesa protein melalui kode-kode genetika, yang dikirim kepada ketiga tipe RNA tersebut di atas.

Alhasil, jaringan dalam wilayah yang relatif sama, menjadi tumbuh tak normal.



...orang-orang yang tinggal di lingkungan berudara bersih...

Pantai Minim Radikal Bebas

Contoh kecil tumor jinak itu kutil, yang kebanyakan dimiliki oleh orang-orang perkotaan.  Diduga, asal kata kutil itu dari singkatan kulit dan mentil. Karena bentuknya yang cenderung kecil membulat, mentil, di atas permukaan kulit.

Tapi ingat! Jika nanti kutil membesar jadi mentol, maka tidak otomatis namanya berubah jadi kutol. Melainkan, benjolan.

Terjadinya kutil maupun benjolan, merupakan kasus hasil metabolisme dalam tubuh yang tak normal, yang disebabkan karena sel-sel mengalami serangan radikal bebas sehingga mengalami tubuh mengalami Stres Oksidatif.

Dalam kondisi tubuh pada tingkatan seluler yang kandungan radikal bebas lebih mendominasi antioksidan, maka Stres Oksidatif bakal menuai berbagai penyakit, diantaranya; kanker.

Ilustrasi Proses Serangan Radikal Bebas Pada Sel Normal Penyebab Stres Oksidatif. Sumber; Article ‘What is Oxidative Stress and How to Analyze it’.

Kutil maupun Benjolan, jarang diidap oleh orang-orang yang tinggal di lingkungan berudara bersih, yang relatif kecil terpapar kualitas dan kuantitas polutan serta unsur-unsur radikal bebas. Terutama orang-orang yang tinggal di area dekat pantai.

Mengapa demikian? Karena alam lingkungan pantai itu lebih membuat makhluk hidup di sekitarnya terbebas dari unsur-unsur radikal bebas.

Pemandangan Pantai Jernih Alami di Pulau Kakaban Kalimantan Timur. Foto koleksi Pribadi.



...keberadaan radikal bebas sebagai ancaman serius...

Dari Teori Penuaan hingga Kerusakan

Fenomena keberadaan radikal bebas, ditemukan sejak tahun 1956 melalui karya literasi ilmiah berjudul ‘Aging: a theory based on free radical and radiation chemistry’, yang melahirkan teori tentang keberadaan radikal bebas dan dampaknya berupa penuaan.

Teori tersebut lalu mengembangkan pemahaman tentang keberadaan radikal bebas yang tak hanya berdampak pada penuaan dini bagi manusia, termasuk makhluk hidup lainnya, yang memiliki inti sel dan organel-organel bermembran (eukariota), melainkan lebih parah, yakni terjadinya kerusakan DNA.

Teori tentang kerusakan DNA muncul sebagai karya literasi ilmiah berjudul ‘DNA Damage as the Primary Cause of Aging’ yang memperkaya teori sebelumnya terkait keberadaan radikal bebas dan dampak buruk yang disebabkannya.

Teori tersebut muncul sekitar 25 tahun setelah teori radikal bebas penyebab penuaan. Perkembangan teori hasil riset yang serius, mengindikasikan bahwa keberadaan radikal bebas sebagai ancaman serius khususnya bagi manusia, karena berpotensi membuat cacat DNA yang menurun.

Pada pertengahan September 2020, ditemukan lagi fenomena peran DNA Mitokondria dalam kerusakan DNA.

Terdapatnya DNA Mitokondria atau disebut sebagai mt-DNA, merupakan sebagian kecil DNA yang tak berada dalam inti sel, melainkan dalam organel pembangkit energi dalam sel, yakni Mitokondria.

Dalam sebuah hasil studi yang dimuat dalam karya literasi ilmiah berjudul ‘Updating the Free radical Theory of Aging’ dinyatakan bahwa teori radikal bebas penyebab penuaan yang melibatkan penumpukan sel-sel rusak akibat Stres Oksidatif, dari waktu ke waktu mengalami peningkatan. Hingga adanya temuan tentang sifat agresif radikal bebas yang berimbas pada mutasi mt-DNA.

Proses mutasi mt-DNA yang membuatnya rusak, sebagai imbas agresivitas radikal bebas. Tampak hasil mutasi transisi mt-DNA (segitiga ungu) lebih banyak daripada mutasi tranversi mt-DNA (segitiga hijau), ketika radikal bebas memapar hingga organel pembangkit energi seluler, Mitokondria. Bahkan, agresivitas Radikal Bebas mampu menyebabkan kerusakan mt-DNA jauh lebih banyak daripada penyakit kronis selain kanker namun menular, seperti HIV Aids. Sumber Ilustrasi: Article ‘Updating the free Radical Theory of Aging’.

Dengan demikian, dengan adanya hasil studi tentang mutasi DNA yang terdapat dalam Mitokondria sebagai organel pembangkit energi seluler, semakin membuktikan bahwa keberadaan radikal bebas tak hanya berdampak pada penuaan dini terhadap makhluk hidup, khususnya eukaroita. Namun juga cacat genetika yang turun temurun.



Karena elektron yang tadinya radikal, telah menemukan pasangannya kembali.

Dari Radikal Menjadi Romantis

Bagaimana pantai lautan bisa terbebas dari unsur radikal bebas?

Karena kation dan anion yang melimpah dalam air laut, juga uapnya, akan mengisi kekosongan pasangan unsur-unsur radikal bebas itu. Sehingga, unsur-unsur bebas yang tadinya bersifat radikal, berubah menjadi unsur-unsur yang normal, aman bagi makhluk hidup khususnya manusia.

Tak hanya kandungan air lautan yang melimpah kation dan anion dari senyawaan garam yang mampu meredam agresivitas radikal bebas. Melainkan, lautan bagian pantai juga kaya akan flora dan fauna yang mengandung gizi sumber antioksidan dalam bagian tubuhnya.

Antara lain adalah jenis hewan-hewan lunak tak bertulang belakang yang menghuni wilayah pantai yang masih alami dan melimpah terumbu karang.

Salah satu hewan lunak tersebut adalah jenis siput laut (Discodoris, sp) yang hingga saat ini masih sering menjadi bahan penelitian terhadap kandungan protein-protein antioksidan dalam tubuhnya, yang membuat orang-orang yang hidup di tepi pantai sering mengolahnya menjadi bahan asupan gizi yang baik, guna menambah stamina.

Ikan dan Siput Laut riang dalam air laut yang bening kaya terumbu karang, siap menebar kebaikan dalam bentuk gizi antioksidan yang baik bagi kesehatan. Foto koleksi Pribadi.

Oleh karena itu wahai orang-orang perkotaan, sesekali bolehlah kita bermain-main, berbasah-basah di pantai, juga menikmati olahan hasil tangkapan ikan-ikan laut yang masih segar.

Agar, unsur-unsur radikal dalam tubuh kita menjadi normal kembali. Karena elektron yang tadinya radikal, telah menemukan pasangannya kembali.

Mereka telah berubah menjadi unsur-unsur yang lebih romantis, ayem, tenteram, tenang tak agresif lagi.

Ilustrasi Aksi Antioksidan Menyumbang Satu Elektron untuk Mengikat Radikal Bebas Agar Tak Agresif Lagi. Sumber; Article ‘How do free radicals affect the body?’.



...melakukan terapi rutin berendam, mandi atau berenang riang di pantai...

Anugerah Gunung dan Pantai

Adapun untuk wilayah di desa-desa seputar pegunungan, maka lebih melimpah udara yang lebih segar karena kandungan Oksigen dan Nitrogen yang masih begitu murni, sumbangsih aneka pepohonan dan tanaman yang jauh lebih beraneka ragam dan rindang, dibanding perkotaan.

Jadi, jika Sanatorium dibangun di kawasan pegunungan untuk penyembuhan penderita Tuberkolosis (TBC), maka bagi pengidap tumor maupun kanker bisa dicoba untuk melakukan terapi rutin berendam, mandi atau berenang riang di pantai. Tentu, dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dari deburan ombak dan hewan-hewan liar di lautan.

Suasana keluarga yang sedang bersantai liburan menikmati bening dan ramahnya pantai pulau Derawan Kalimantan Timur. Foto koleksi Pribadi.

Semoga bisa menambah sedikit info tentang tumor, kanker dan upaya penyembuhan alternatif mempertimbangkan anugerah alam pantai dan lautan.


“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya  dan agar kamu bersyukur.”  Qur’an Surah (16) An-Nahl ayat 14.


Bahan bacaan menginspirasi tulisan;

  1. Qur’an Surah (16) An-Nahl.
  2. Harman, D and Gerontol, J, July 1956, Aging: a theory based on free radical and radiation chemistry, pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
  3. Gensler, Helen L. and Bernstein, Harris, Sept. 1981, DNA Damage as the Primary Cause of Aging, The University of Chicago press., jstor.org
  4. Nurjanah, Et. Al, 2012, Nutrisional and Antioxidant Properties of Sea Slug (Discodoris, sp.) from Pamekasan Indonesia Sea Water, European Journal of Scientific Research.
  5. Cadet, Jean and Wagner, J. Richard, Feb. 2013, DNA base damage by reactive oxygen species, oxidizing agents, and UV radiation, Cold Spring Harb Perspect Biol., cshperspectives.cshlp.org, Jan. 12, 2022.
  6. Packirisamy, Subbulakshmi, April 2013, Antioxidants in Periodontal Diseases, researchgate.net
  7. Gladyshev, Vadim N., Feb., 2014, The free radical theory of aging is dead. Long live the damage theory!, Antioxid Redox Signal, pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
  8. Wilson, Debra Rose, July 29, 2017, How do free radicals affect the body?, MedicalNewsToday
  9. Gammon, Susan, Sept. 21, 2017, How RNA Splicing can trigger cancer, Sanford Burnham Prebys, sbpdiscorey.org
  10. Nuzzo, Antonio, July 13, 2020, What is Oxidative Stress and How to Analyze it, Helvetica Health Care, h-h-c.com
  11. Ziada, Adam S. Et. Al, Sept. 2020, Updating the Free Radical Theory of Aging, Department of Pathology and Laboratory Medicine, University of British Columbia, Vancouver, BC, Canada, frontiersin.org
  12. Anonymous, A Short Explanation of the Fascinating Process of Protein Synthesis, biologywise.com