Dari sekian banyak karya sastra—baik puisi, novel, ataupun cerita pendek—yang pernah ditulis para sastrawan, selain kopi dan hujan, senja menjadi topik yang paling digemari oleh orang kebanyakan. 

Setidaknya, hal itu juga dirasakan oleh Trijoko, penulis cerita pendek yang berhasil menelurkan tujuh buah cerpen. Dua di antaranya telah dimuat di salah satu surat kabar lokal, sementara lima lainnya masih mengantri di meja redaksi menunggu hari penghisaban tiba. Apakah cerpennya itu layak di muat di koran, atau lebih layak masuk ke tong sampah.

Karena kegemarannya akan senja, Trijoko berniat menulis cerita dengan tema tersebut. Ia mengambil latar cerita di sebuah padang rumput di sore hari. Ia menulis cerita ini semata-mata bukan karena kesukaannya terhadap senja belaka, namun lebih kepada kebosanannya terhadap tema cerita yang sering diangkatnya pada cerpen-cerpen sebelumnya. 

Cerpen-cerpen sebelumnya sebagian besar berisi kritik terhadap ketimpangan sosial. Ia merasa jenuh dengan semua itu.

Selain karena bosan, beberapa waktu yang lalu ia gagal masuk sebagai finalis lomba menulis cerpen yang diadakan oleh salah satu penerbit. Ia merasa kegagalannya itu bukan karena ceritanya yang buruk, tetapi disebabkan lantaran salah memilih tema. 

Pada waktu itu ia mengambil tema tentang kritik terhadap masalah penegakan Hak Asasi Manusia. Akhirnya ia pun kalah oleh peserta lain yang mengangkat tema mengenai kisah kekinian yang di dalamnya sudah barang tentu ada unsur senja, kopi, dan air hujan.

Dengan berbekal seperangkat alat tulis yang ia beli tunai di sebuah toko perlengkapan alat tulis kantor tempo hari, Trijoko mengayuh sepeda mencari tempat yang sesuai dengan tema cerita yang akan ia tulis. Dan didapatlah sebuah tempat—yang menurutnya cocok—tidak jauh dari rumahnya, sekitar dua puluh kali lemparan geranat. 

Sebuah padang rumput yang agak lapang dan sepi. Ia yakin di tempat itu ia bisa fokus menulis cerita. Dikeluarkannya alat tulis menulis dari dalam tas bututnya. Mulai dari papan komputer untuk menjepit kertas, kertas HVS, dan pulpen bertinta hitam.

Trijoko memang lebih suka menulis manual menggunakan tangan terlebih dahulu, setelah selesai barulah ia ketik ulang menggunakan  komputer miliknya. Selain itu, dengan menulis menggunakan tangan, ia bisa memperbaiki model tulisan tangannya yang menurut ibunya lebih mirip dengan cakaran ayam ketimbang tulisan seniman seperti pengakuannya.

Sore itu suasana cukup bersahabat. Langit kala itu—dengan segala rahasia yang tersembunyi di atas sana—tampak cerah. Senja yang ia tunggu pun sedikit demi sedikit terhampar di ufuk barat. Semestinya hal itu membuat imajinasi liarnya terbang bebas keluar dari belenggu kebuntuan.

Tetapi ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Tiga puluh menit pertama semenjak ia duduk di padang rumput itu, telah berlalu, tetapi belum ada sebaris kalimat pun ia tulis. Ide-ide itu seperti tertahan di dalam kepalanya dan tak mampu untuk keluar  menggerakkan tangannya. Tangan kanannya yang memegang pulpen itu pun menganggur begitu saja.

Ditatapnya  langit yang mulai tampak  berpesta warna dalam senja kala itu. Hatinya terenyuh. Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan ada ruang kosong di dalam hatinya. Dadanya terasa sesak. 

Sesaat kemudian, bayangan sesosok wajah yang pernah dikenalnya melayang-layang dalam kepalanya. Mengetuk-ngetuk batok kepala  meminta untuk keluar. Kemudian Trijoko mendengus.

“Ah! Kenapa kau datang menggangguku lagi. Pergilah. Aku sedang tidak ingin memikirkanmu. Datanglah sewaktu aku mau tidur pada malam hari atau ketika aku sedang berada di jamban di pagi hari.”

Tetapi bayangan itu semakin menjadi, bahkan menjelma begitu nyata di hadapannya. Sosok itu berdiri sambil menatap Trijoko dengan kedua matanya yang sayu.

“Aku tidak bermaksud mengganggumu, aku hanya ingin menemanimu.”

“Sudahlah, tak perlu kau beralasan. Aku ingin menyendiri.”

“Kenapa? Apa aku tidak lagi menjadi inspirasimu?”

“Kau tidak termasuk tokoh dalam ceritaku.”

“Kau sungguh tega!”

Kemudian bayangan itu perlahan menghilang. Sunyi kembali menyelimuti jiwanya. Trijoko merebahkan tubuhnya di atas padang rumput yang mulai mengering itu. Bau humus, dedaunan kering, dan harum rumput ilalang memenuhi rongga hidungnya. Ia tarik napasnya dalam-dalam, sementara matanya terpejam menikmati udara yang masuk itu, kemudian ia hembuskan dengan perlahan. Sangat perlahan.

“Aku harus fokus,” ujarya kepada dirinya sendiri.

Ia bangkit dan mengambil pulpen yang belum digunakannya sama sekali itu beserta kertas yang masih kosong—sekosong suasana hatinya.

Senja menghamparkan warna emasnya. Segerombolan burung-burung kecil yang hendak pulang ke sarang mereka, lewat di atas kepala Trijoko. Ketika melihat burung-burung itu, muncul dalam pikirannya ide untuk menulis cerita tentang kawanan burung-burung kecil yang terbang di sore hari menuju sarangnya. Kemudian ia langsung menuliskan sebuah judul cerita: Burung-burung senja.

Akan tetapi, ide itu hanya sebatas judul yang tak mempunyai kerangka cerita yang jelas. Latar, tokoh dalam cerita, topik apa yang hendak dibicarkan dan lain sebagainya, belum atau bahkan tidak terpikirkan sama sekali olehnya. Ia pikirkan judul itu cukup lama. Akhirnya judul itu ia coret. Kembali ia termangu mengamati keadaan di sekitar yang semakin sunyi.

Sambil menikmati senja dan belaian lembut angin sore yang mengelus-elus kulitnya, Trijoko merefleksi kembali tujuan hidupnya. Pertentangan idealisme dengan tuntutan zaman semakin terasa. Cita-citanya untuk menjadi seorang penulis bertolak belakang dengan gelar yang didapatnya dari Perguruan Tinggi. Sebagai sarjana pertanian yang seharusnya menjadi ahli pertanian atau setidaknya mengelola sawah atau kebun, ia malah memilih menekuni bidang tulis menulis cerita yang isi ceritanya pun sangat jauh dari hal-hal yang berbau tanaman.

Semua itu berawal ketika ia telah lulus dari fakultas pertanian—tepatnya setelah ia menjalani satu tahun masa pengangguran. Ketika itu ia sangat galau memikirkan masa depannya. Kerja di perusahaan besar atau menjadi pegawai negeri seperti yang di impikan oleh kedua orang tuanya tak kunjung juga ia dapatkan. 

Sudah banyak lamaran kerja ia kirimkan ke beberapa perusahaan. Akan tetapi, selalu mendapat penolakan dari perusahaan yang di lamarnya itu. Semenjak itu ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya mencoba merenung, apa yang salah dengan dirinya itu. Ketakutan yang selama ini ia selalu pikirkan pun terjadi. 

Seperti yang pernah dikatakan oleh WS. Rendra dalam salah satu sajaknya, disini aku merasa asing dan sepi. Ia takut jika orang-orang di kampung menganggap ilmu yang ia pelajari di kampus seakan tidak memberi manfaat bagi dirinya. Itu yang ia takutkan.

Untuk mengobati keresahannya, Trijoko mencoba menggali kembali apa yang ia cita-citakan sejak kecil: menjadi penulis. Ditulis cerita pertamanya kemudian ia kirim melalui surel ke surat kabar yang menerima kiriman naskah cerita pendek.

Setelah menunggu hampir empat bulan lamanya, akhirnya karyanya itu dimuat. Ia sangat senang. Pemuatan karyanya itu menjadi penyemangat dirinya untuk lebih produktif menulis dan belajar menulis. Honor sebesar Rp.200.000,- tidak menjadi penghalang dirinya untuk menulis. Baginya, honor hanyalah bonus, yang terpenting adalah bagaimana karyanya itu dapat dinikmati oleh orang banyak.

Karyanya yang berhasil dimuat di koran itu lantas ia unggah ke story akun media sosial miliknya. Ia berharap wanita spesial yang selama ini selalu hadir dalam tidurnya melihat dan berkomentar tentang karyanya itu. Dan benar saja, perempuan pujaannya itu mengomentari dan memintanya untuk mengirimkan cerpennya itu untuk dia baca. Maka bertambah semangatlah Trijoko untuk kembali menulis cerpen selanjutnya.

Keberhasilan menulis cerpen pertamanya itu tidak membuat ibunya menjadi senang. Melihat Trijoko sering duduk di kamar menatap layar komputer, ibunya lantas menegurnya. 

Ibunya sedikit risau melihatnya hanya duduk bengong di depan komputer—yang menurut ibunya ia sedang menonton film. Sebenarnya Trijoko bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Ibunya itu. Pelan-pelan ia jelaskan bahwa ia sedang belajar menulis. Semua itu dilakukan untuk mengisi waktu luangnya.

“Kenapa tidak coba cari kerja yang lain?” tanya ibunya.

“Belum ada lowongan kerja, bu.”

“Kalau belum ada ya bantu ayahmu di sawah, jangan malah belajar menulis. Kamu tahu nggak sih, kalau kamu isi waktu luangmu itu untuk menanam padi di sawah, pasti kamu sudah punya penghasilan yang tidak kalah besar dengan penghasilan para penulis sekelas Agus Noor, Gunawan Tri Atmodjo, Seno Gumira Aji Darma, Dadang Ari Murtono dan seabrek penulis lain yang bukunya banyak kau baca itu.”

Ibunya memang selalu resah dengan kehidupan anaknya itu. Suatu hal yang wajar, naluri seorang ibu tentu tak menginginkan anaknya hidup susah. Namun, Trijoko sempat terkejut mendengar ibunya dengan lancar menyebutkan para penulis favoritnya. 

Ternyata diam-diam selama ini ibunya suka membuka-buka buku bacaannya ketika membersihkan kamarnya. Trijoko hanya mengeleng-gelangkan kepalanya sambil tersenyum kecil mendengar omongan ibunya itu.

Begitulah, sampai pada akhirnya Trijoko memutuskan untuk menekuni hobi barunya itu. Walaupun baru dua cerpen yang dimuat di koran, tetapi hal itu cukup memberinya semangat dalam menulis. Dan disinilah ia sekarang. Duduk sendiri memandangi langit sore di sebuah padang rumput yang agak lapang dan sunyi itu.

Matahari sebentar lagi akan tenggelam. Senja pun akan segera menghilang dari ufuk barat digantikan dengan gelapnya malam. Namun Trijoko masih belum bisa menuliskan satu baris pun cerita. Berkali-kali ide-ide itu berkelebatan di kepala, tetapi tidak bisa ia tangkap dan merangkainya menjadi sebuah kata-kata yang indah.

Ternyata senja tidak memberikannya inspirasi. Terkadang ia heran dengan beberapa penulis, kenapa mereka begitu gampangnya menulis apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Senja, hujan, kopi, kesunyian, kesenduan dan segala macam omong kosong lainnya. Apakah mereka dulu juga merasakan seperti yang ia rasakan saat ini? Mengalami kebuntuan dalam menulis.

Matahari telah masuk kedalam peraduannya. Trijoko masih terjebak dalam suasana senja yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Mungkin akan lebih baik jika mengkhayalkan suasana sore itu di rumah sambil menikmati segelas kopi dibandingkan bertatapan langsung dengan wajah senja.

Di kejauhan, sayup terdengar suara azan yang begitu merdu dikumandangkan oleh muazin di masjid. Trijoko membereskan alat tulisnya lalu beranjak pulang. Dalam perjalanan pulang, ia menemukan ide untuk menulis cerita—tentang seorang lelaki yang berkeinginan menulis cerita senja di sebuah padang rumput—ia beri judul: Panorama Senjakala.