“...menjadi mata air. Yang terus mengalir, selalu memberi karya terbaik bagi bangsa...“ (OST. Rudy Habibie, Mata Air-CJR)

Meninggalnya Prof Dr Ing Sc Mult H Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, menyisakan duka teramat dalam bagi Indonesia. Habibie adalah mata air yang mengalirkan kebaikan kepada seluruh penjuru bangsa lewat teladan, karya, dan cerita-ceritanya.

Habibie memberi pelajaran tentang kegigihan dalam belajar dan berjuang untuk meraih impian yang dicita-citakan. Ia mampu meraih gelar doktor ingineur saat masih berusia 28 tahun. Saat menempuh kuliah hingga bekerja di Jerman tersebut, Habibie melaluinya dengan tidak mudah.

Selain sempat sakit berat hingga hampir merenggut nyawanya saat kuliah, Habibie pun pernah diremehkan saat mulai bekerja karena datang dari negeri Indonesia yang saat itu belum banyak dikenal di dunia.

Tapi tekad dan kepercayaan diri Habibie membawanya mampu menjawab segala pandangan merendahkan tersebut dengan bukti karya cemerlang. Habibie memberi pelajaran pada kita bahwa bakat otak cerdas saja tidak cukup untuk meraih kesuksesan jika tak ditunjang dengan karakter pekerja keras dan percaya diri.

Kecintaannya terhadap bangsa juga sudah ditunjukkan sejak kuliah. Walaupun raganya saat itu sebagian besar dihabiskan di Jerman, tetapi jiwa dan pikiran Habibie terus memikirkan Indonesia. Itu dibuktikan dengan terselenggaranya Seminar Pembangunan pada 20-25 Juli 1959 yang diinisiasi oleh Habibie.

Pada tahun 1974, Soeharto memanggil pulang Habibie. Ia dijanjikan akan diberi keleluasaan untuk mewujudkan impiannya membangun industri pesawat terbang nasional.

Habibie menyambut panggilan itu dengan gembira. Ia rela meninggalkan segala kenyamanan yang telah peroleh di Jerman demi membela negara. Ia mendirikan IPTN (sekarang PT DI) untuk memuluskan impiannya membangun industri pesawat terbang.

Kegigihan dan keyakinannya lagi-lagi menjadi kunci keberhasilannya. Sempat diremehkan oleh sesama anak bangsa dan orang asing, Habibie mampu membungkamnya dengan terbang perdananya pesawat N-250 di Bandung pada 10 Agustus 1995.

Nahas, pesawat nasional tersebut tak sempat diproduksi secara masal setelah tahun 1998 Indonesia dilanda krisis. Padahal saat itu yang sedang diproduksi bukan hanya pesawat N-250, tetapi juga pesawat jet sekelas B737, yakni N-2130 yang bermuatan 130 penumpang.

Seandainya N-2130 saat itu jadi dikembangkan, hari ini Indonesia tak perlu bergantung pada Boeing dan Airbus dalam menghubungkan lalu lintas udara Indonesia.

Menjadi Presiden Ketiga

Takdir politik membawa Habibie menduduki kursi presiden menggantikan Soeharto pada  Mei 1998. Tugas Habibie luar biasa berat. Krisis politik, krisis moneter, dan krisis ekonomi tengah melilit Indonesia.

Latar belakang dirinya yang seorang teknokrat membuatnya lagi-lagi diremehkan dapat mengemban tugas presiden dengan baik. Habibie diyakini tak akan mampu mengatasi segala krisis. Namun, sekali lagi, Habibie mampu membuktikan bahwa keraguan yang disematkan padanya keliru.

Sejarah mencatat, 517 hari masa kepemimpinan Habibie sebagai salah satu masa jabatan presiden tersukses sepanjang masa. Dalam masa yang singkat, Habibie mampu meletakkan fondasi dasar demokrasi Indonesia di era reformasi dengan menerbitkan 57 produk Undang-Undang dan satu Perppu.

Prestasi itu merupakan prestasi politik paling produktif sepanjang sejarah. Bukan hanya dilihat dari banyaknya jumlah undang-undang yang dihasilkan, tetapi juga dari kebermanfaatan berbagai undang-undang tersebut bagi terciptanya proses demokratisasi di bumi Indonesia.

Lahirnya undang-undang seperti kebebasan pers, otonomi daerah, dan partai politik, secara signifikan, memutar arah Indonesia dari era kepemimpinan yang otoriter, anti kritik, tertutup, dan sentralistik menuju kepemimpinan yang saling mengimbangi antarlembaga negara, terbuka, dan desentralistik.

Dalam buku Detik-Detik yang Menentukan yang ditulis Habibie, ia mengungkapkan bahwa selama 53 tahun Indonesia dipimpin oleh dua orang presiden yang cenderung otoriter, menempatkan institusi presiden sebagai institusi yang sakral.

Beberapa institusi yang sangat berpengaruh seperti lembaga legislatif (DPR dan MPR), lembaga yudikatif (MA dan Kejaksaan Agung), Bank Indonesia, serta ABRI ‘dikendalikan oleh presiden. Hal itulah yang membuat Habibie melakukan desakralisasi institusi presiden.

Salah satu caranya ialah Habibie memutuskan mundur dari jabatan koordinator harian Keluarga Besar Golkar. Sebelumnya, jabatan tersebut memungkinkannya mengendalikan 80 persen kursi DPR dan 83 persen kursi MPR.

Seperti diketahui, saat itu Golkar yang terdiri dari unsur Fraksi Golkar, Fraksi Utusan Daerah, dan Fraksi ABRI amat mendominasi DPR dan MPR. Lebih lanjutnya, Habibie juga memberi instruksi agar PNS tak boleh lagi menjadi bagian dari Golkar. 

Selama Orde Baru, Golkar begitu berjaya dalam setiap pemilu karena kentalnya mobilisasi aparat negara untuk memenangkan Golkar.

Habibie menginginkan persaingan sehat dalam kontestasi politik sehingga Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik memungkinkan rakyat membentuk banyak partai politik. Sebelumnya, selama masa Orde Baru, kontestan Pemilu berkutat pada tiga peserta, yaitu Golkar, PPP, dan PDI.

Warisan monumental lain dari Habibie adalah dibukanya keran kebebasan untuk berpikir dan berbicara. Dalam buku Detik-Detik yang Menentukan, ia mengungkapkan:

...Saya berkeyakinan bahwa orang-orang dalam suatu masyarakat yang bebas bergerak dan bebas mengeluarkan pendapat tanpa rasa takut akan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup yang tinggi.”

Habibie tak peduli jika kebijakannya tersebut juga membuat orang-orang yang tak menyukainya dengan bebas melancarkan kritik atau bahkan hujatan. Sikap bersahabat terhadap kritik pula yang membuatnya dengan tanpa beban membebaskan para tahanan politik.

Beberapa prestasi di atas hanyalah sedikit dari deretan kebijakan monumental lain yang ditorehkan Habibie selama kepemimpinannya. Sayangnya, semua itu tak cukup untuk mengantarkannya mengakhiri jabatan dengan sukses.

Laporan pertanggungjawabannya sebagai Presiden ditolak MPR. Satu kebijakannya yang saat itu paling disorot ialah pemberian referendum untuk Timor Leste yang kemudian dimenangkan oleh kelompok pro-kemerdekaan. Alhasil, Habibie pun memilih tak mencalonkan diri kembali sebagai presiden.

Sebetulnya, kalau Habibie mau, ia bisa saja membangun sistem yang memungkinkannya menjabat presiden terus-menerus seperti yang dilakukan oleh banyak pemimpin lain di dunia yang memimpin di era transisi.

Tapi itu tak dilakukannya. Selama memimpin, ia betul-betul menggunakan pikiran jernih serta hati nuraninya. Tampak seperti tak ada ambisi dalam dirinya untuk berkuasa lama atau memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan dirinya atau keluarganya. Ini menunjukkan kelas Habibie sebagai seorang negarawan sejati.

Politisi selalu memikirkan pemilu berikutnya, negarawan menantikan generasi berikutnya, kata Thomas Jefferson. Kata-kata itu rasanya cocok disematkan pada Habibie. Ia tak takut kehilangan kekuasaan di pemilu selanjutnya. Yang ia pikirkan adalah masa depan generasi penerus Indonesia.

Sikap dan tindakan-tindakan Habibie tersebut sepatutnya dijadikan inspirasi oleh para pemimpin politik Indonesia saat ini. Habibie mengajarkan bagaimana berpolitik tanpa mengusung ambisi pribadi.

Segala laku dan kebijakan politik yang dikeluarkan haruslah didasarkan pada pikiran jernih dan hati nurani. Dengan begitu, kebijakan-kebijakan yang dihasilkan terasa kemaslahatannya untuk seluruh rakyat.

Jasad Habibie boleh dikubur di dalam lahan 2x3 meter di TMP Kalibata, tetapi segala inspirasi yang telah diukirnya akan hidup dan menghidupi setiap anak bangsa Indonesia sepanjang masa.

Insyaallah, setiap tindak kebaikan yang dilakukan oleh seseorang karena terinspirasi dari Habibie, saham kebaikannya tak hanya mengalir untuk yang bersangkutan, tetapi juga mengalir bagi Habibie di alam kuburnya hingga hari akhir tiba. Amin.

Panjang umur inspirasimu, eyang.