"Pangkat" satu kata ini membuat jutaan orang bermimpi. Tanpa terkecuali pangkat juga sering dianggap sebagai penghargaan diri. Sebuah pangkat hanya untuk orang yang tepat. Melalui potensi dan prestasi pangkat akan terseleksi. Namun, tak disangka pada era 21 ini pangkat bukan lagi untuk orang yang tepat melainkan untuk orang yang dapat. 

Nah, dapat apa yang dimaksud? "dapat" dalam pernyataan ini memiliki banyak arti. Mulai dari dapat membayar, dapat orang dalam, dapat jalur gelap, dan yang sangat minim adalah dapat berintegritas. Kemudian hal ini bukan lagi sebuah opini, melainkan sebuah kaca publik. Sangat keren bukan?

Tentu keren bagi mereka yang mampu melakukannya. Mereka yang sudah bergelimang harta dan memiliki kuasa bisa dengan mudah menggenggam pangkat. Lalu mereka yang kurang mampu dan dianggap semu hanya bisa berjuang dengan pasrah kepada Tuhan. Terkadang keadaan inilah yang membuat resah dan betah, tetapi lagi dan lagi rakyat semu hanya dianggap bisu.

Berkaca dari kisah mereka, para calon siswa bintara. Sebenarnya sudah jelas bahwa pendaftaran masuk polisi itu tanpa dipungut biaya. Yang terpenting kemampuan dan prestasi yang dimiliki sang siswa. Namun, masih ada saja oknum-oknum gelap mata yang melakukan transaksi demi masuk polisi.

Heran sangat heran, banyak yang percaya orang dalam demi sebuah pangkat ketidakadilan. Bahkan demi pangkat ini orang tua berani membayar ratusan juta hingga miliaran rupiah. Anehnya lagi oknum yang dibayar justru menawarkan. Padahal oknum-oknum ini tergabung juga dalam Polri dan seharusnya memiliki jiwa kejujuran.

Sebenarnya keluarga yang mendukung transaksi ini tidak tahu kebenaran atau sedang meragukan kemampuan sang pendaftar? Kalau sudah tahu kebenaran mengapa tetap melakukan pembayaran? Haduh, giliran kena penipuan nanti berkoar-koar. 

Biasanya kasus penipuan pembayaran masuk polisi ini bukan penipu yang menghampiri korban, tetapi sebaliknya. Sang korbanlah yang menghampiri penipu. Kasus ini sudah banyak terjadi, bahkan sudah banyak yang terekam oleh media. Salah satu contohnya adalah kasus penipuan oleh seorang polisi berpangkat Brigadir Kepala berinisial AG, di Sulawesi Tenggara. AG ini menipu puluhan calon siswa bintara dari 2019-2020. AG menawarkan jaminan kelolosan kepada casis yang memberikan uang senilai ratusan juta. 

Yang pada kenyataannya para casis di bawah naungan AG hanya dimanfaatkan uangnya dan tidak benar-benar diikutkan tes bintara kepolisian. Nah, dari kasus ini kita dapat mengerti bahwa pangkat tinggi tidak menjamin potensi. Lebih baik jujur bersama kemampuan yang dimiliki daripada mencoba jalur gelap yang berakhir rugi diri sendiri.

Selain itu, hal serupa sering terjadi di lingkungan saya. Banyak kata-kata maupun spekulasi mengenai hal ini. Contohnya "Kamu mau jadi polisi kalau tidak punya uang 500 juta ya tidak bisa." Kemudian ada lagi "jaman sekarang orang dalam sangat berperan." Rasanya hati ini ingin tidak percaya dengan perkataan tersebut. Namun, kembali lagi kenyataan yang ada tidak bisa dipungkiri.

Tahun ini ada teman saya yang berinisial AR, dia telah lolos seleksi bintara polri dan sudah mulai pendidikan. Anehnya orang tua AR bercerita bahwa telah menjual tanah demi kelolosan si AR. Padahal AR ini menurut saya dan orang-orang di sekitar potensinya jauh di bawah potensi MA yang merupakan atlet voli. Kisah serupa pasti terjadi juga di lingkungan kalian. Ini telah nyata, terbiasa, dan melekat di hati warga negara Indonesia.

Dari dua kisah tersebut dapat dimengerti bahwa pangkat memang membutakan hakikat. Coba lihat keadaan kehidupan manusia saat ini. Apabila tidak ada satu saja yang melakukan kecurangan tersebut, pasti tidak akan ada uang yang terbuang. Lebih baik uangnya disimpan buat kehidupan daripada diberikan ke orang yang belum tentu memiliki kejujuran. Sudah jelas-jelas gratis kenapa harus membayar, sangat mempersulit hidup bukan?

Ingat perubahan dimulai dari diri sendiri, agar ke depannya tidak ada yang dirugikan maka cobalah memperbaiki sejak dini. Kualitas mu menentukan masa depan negeri dan hidupmu.

Seorang yang berpangkat memang terkenal berwibawa dan memiliki kuasa. Namun, banyak pangkat dan jabatan di negara ini yang sudah salah guna. Mulai dari contoh kasus di atas, hingga contoh lain penyalahgunaan kekuasaan oleh para oknum DPRRI. Gaji sudah berlebih, tetapi masih korupsi. Sungguh kejam bukan?

Nah, pangkat tinggi memang disegani, tetapi jangan sampai pangkat membutakan hakikat. Hanya karena pangkat manusia bisa kehilangan martabat. Merasa dirinya memiliki kuasa kemudian berbuat seolah sang pemenang dan pengendali kehidupan.

Dengan ini, yang ingin memiliki pangkat dan sudah memiliki pangkat. Saya harap tidak gelap mata dan memerhatikan kenyataan yang ada. Kesulitan bersama orang-orang yang curang, hindarilah agar tidak merugi di masa depan. Bersamamu bangsa berlalu, bersamamu kehidupan akan maju, dan terima kasih semoga pangkatmu tidak membutakan mu.