Mahasiswa
6 bulan lalu · 140 view · 4 min baca · Politik 85220_40611.jpg

Panggung Politik Indonesia Dikuasai Para Pecundang

Yang terpenting dalam politik adalah kemanusiaan.

Kalimat bijak di atas terlontar dari Presiden RI ke-4  KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur. Sebuah deretan kata yang mengandung makna tentang apa sebenarnya puncak tertinggi yang ingin digapai politik itu sendiri: kemanusiaan.

Di Indonesia, belakangan ini tersuguh dagelan dalam panggung politik yang semakin jauh dari cita-cita politik yang sesungguhnya. Jangankan untuk menumbuhkan rasa kemanusiaan, yang ada malah pertunjukan yang terkesan memupuk rasa perpecahan dan kebencian antarumat manusia.

Makin menjauhnya esensi politik itu makin terasa menjelang pemilihan umum tahun 2019. Pemilu perdana yang menyatukan lima pemilihan sekaligus, yakni pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten kota. 

Sepertinya terjadi sebuah dikotomi di tengah masyarakat untuk berdiri pada warna hitam atau putih, sisi kiri atau sisi kanan. Masyarakat cenderung dipaksa untuk menunjukkan pilihannya, yang sebenarnya sudah lari dari nilai-nilai dari sistem demokrasi yang kita anut. 


Akhirnya yang terjadi adalah sikap tidak saling menghargai perbedaan pilihan tercipta sampai ke ranah akar rumput.

Hal semacam ini sangat menonjol khususnya dalam hal dukungan terhadap pasangan capres dan cawapres. Bahkan saat ini, segala bentuk gerak-gerik juga dimaknai sebagai hal-hal yang berbau politis dan menunjukkan dukungan terhadap salah satu pasangan calon. 

Misalnya jika ada yang memasukkan foto di media sosial dengan mengacungkan satu atau dua jari, maka hampir bisa dipastikan ada respons yang menuding itu ‘bani cebong’ atau ‘bani kampret’.

Sungguh parah, bukan? Untuk membuat semacam identitas kelompok rival berpolitik pun di negara kita saat ini harus dengan kata-kata yang terkesan kurang senonoh. Seperti misalnya partai setan, sontoloyo, dan sebutan kurang pantas lainnya.

Jika berpikir menggunakan akal sehat, tentunya kita semua sepakat bahwa tidak seperti ini gaya berpolitik yang idealnya. Politik sebagai seni untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, seharusnya dijalankan dengan pola-pola yang beradab, cara yang sopan, menghargai perbedaan. Sehingga yang dihasilkan adalah persatuan, bukan malah perselisihan.

Mengulang kembali pernyataan sebelumnya, bahwa apa yang kita lihat dalam panggung politik kita di Indonesia akhir-akhir ini jauh dari harapan. Masyarakat dipertontonkan dengan perdebatan-perdebatan elite politik, yang kualitasnya terkesan jauh lebih rendah dari gaya debat anak Sekolah Dasar.

Elite politik, hampir bisa dipastikan mereka-mereka inilah yang menciptakan kekeruhan dalam dunia politik di negara kita saat ini. Kenapa demikian? Sebab perdebatan ‘konyol’ di antara merekalah yang menjadi referensi di tengah masyarakat untuk mengumbar kata-kata kurang pantas tadi: kampret, cebong, sontoloyo.

Kita bisa lihat misalnya jika petinggi partai politik kita diundang berdialog dalam sebuah acara di media tertentu, yang terlontar dari mulutnya kebanyakan hal-hal yang bersifat menyerang rival politik secara subjektif, lari dari substansi dialog yang sesungguhnya. Adegan mengacung-acungkan jari kepada teman dialog, dan bahkan sampai meninggalkan arena diskusi pun pernah dipertontonkan.


Sekali lagi, ini bukanlah gaya berpolitik yang sesungguhnya. Dampak yang dihasilkan dari sini adalah terbangunnya persepsi di tengah masyarakat untuk berpikir kiri atau kanan, hitam atau putih, tanpa mampu melihat lagi sebuah persoalan dengan cara yang objektif.

Ketika cara berpolitik seperti ini yang terus dipelihara oleh para petinggi partai politik kita, maka rasa-rasa kemanusiaan antarumat manusia di tanah air yang kita cintai ini akan semakin memudar. Yang menjadi korban utama adalah masyarakat. 

Kenapa masyarakat? Sebab para elite politik kita dewasa ini adalah orang yang gampang saja ‘lompat pagar’ dan ‘menjilat ludah’ yang sudah dibuangnya.

Orang-orang yang duduk di partai politik tertentu, misalnya, tidak lagi benar-benar menjalankan ideologi partai itu dengan sesungguhnya. Namun, hanya menjadikan partai politik sebagai perahu untuk merebut kursi kekuasaan. 

Jika tidak berhasil, maka gampang saja ia pindah ke perahu yang lain. Sementara itu, di tengah masyarakat rasa kebencian itu masih belum lekang akibat ulahnya.

Karakter yang ditampilkan para elite politik di negara kita belakangan ini adalah karakter pecundang. Hal ini terlihat dari sikapnya yang sangat enggan untuk mengakui prestasi lawan politiknya. 

Yang diumbar hanyalah bobrok, bobrok, dan bobrok. Argumentasi yang terlontar kebanyakan menyerang secara personal yang seharusnya tidak perlu dikumandangkan ke ruang publik. 

Salah satu gaya pecundang itu bisa kita lihat misalnya pada debat perdana pasangan capres/cawapres 2019 pada 17 Januari lalu. Saat pemandu debat meminta kepada masing-masing pasangan untuk menyampaikan hal yang dibanggakan dari rivalnya, tidak satupun dari pasangan calon yang memenuhinya.


Bukankah itu sikap pecundang? Manusia memang tidak ada yang sempurna. Tapi demikian juga sebaliknya, pasti ada setitik pun hal yang bisa dibanggakan dari setiap manusia. Kenapa itu saja sulit diakui para elite politik kita?

Sikap seperti ini seharusnya dikikis oleh para elite politik kita dari pikirannya. Sebab jika terus dipelihara, maka yang tercipta di tengah masyarakat bukan persatuan dan rasa persaudaraan, akan tetapi perpecahan dan rasa permusuhan.

Jika kondisi seperti itu tercipta, maka cita-cita dari landasan bernegara kita Pancasila akan sulit terwujud. Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika nantinya hanyalah jadi pepesan kosong. 

Kalau sudah seperti ini, apakah Negara Kesatuan Republik Indonesia masih tetap ada kata “satu”-nya? Atau malah berubah jadi kata “hancur”?

Artikel Terkait