penulis
3 tahun lalu · 76 view · 4 menit baca · Gaya Hidup jejaring.jpeg

Panggung Jejaring Sosial

Panggung besar itu bernama jejaring sosial. Facebook dan Twitter adalah dua yang paling beken. Mau sebenar-benar artis atau bukan, semua pemilik akun jejaring sosial ini sudah seperti artis. Artis yang sekaligus menjadi penggemar artis lain. Bergantian mereka memberikan pertunjukan, bergantian pula mereka menjadi penikmat pertunjukan.

Semuanya punya tujuan serupa: ingin diperhatikan. Semakin banyak perhatian yang didapat semakin senanglah mereka. Bukti diperhatikan apalagi kalau bukan banyaknya teman, pengikut dan komentar pada setiap pertunjukan. Ada yang menggelar pertunjukan curhat beriba-iba hati. Ada pertunjukan pamer kekayaan, pamer kekasih, pamer foto-foto seronok diri sendiri.

Akhirnya ada pula yang sudah kecanduan perhatian. Mereka perlahan akan banyak lupa. Lupa bahwa foto-foto jenazah korban kecelakaan seharusnya tidak dipertunjukkan di panggung besar itu tanpa sensor, tanpa pemburaman. Hasilnya tak hanya satu dua foto-foto menyedihkan itu dipertunjukkan di panggung besar ini.

Tiap kali ada kecelakaan di suatu daerah, pasti ini terjadi. Si penyuguh foto korban kecelakaan ini mungkin senang alang kepalang jika banyak yang me-likes pertunjukan foto itu. Semangat pula ia membalas komentar-komentar teman yang masuk. Hatinya mungkin berkata, “Berhasil pulalah aku dapat banyak perhatian.”

Si hati kiranya lupa jika pertunjukan foto itu dilihat anggota keluarga korban kecelakaan betapa iba hati mereka. Si hati mungkin lupa bahwa bisa saja ada hati-hati lain yang akan sedih, kesal dan marah karena berprasangka betapa bencana jadi pertunjukan yang dibayar dengan hanya kepuasan akan perhatian saja. Si hati kiranya juga lupa ada mata-mata yang perlu dijaga agar tak terbiasa melihat kengerian seperti itu, agar terjaga nurani peka mereka.

Mungkin si artis yang memberikan pertunjukan foto itu akan menyela lalu berkata: “Itu informasi. Informasi harus dibagi.” Mungkin benar, mungkin dusta. Tanyakan saja ke masing-masing hati. Jika Si hati menjawab pertunjukan itu hanya untuk  meraup perhatian saja, alangkah malangnya.

Bukan sekali dua kali memang, belum lama ini ada pula korban tabrak kereta api di kota Padang. Korban meninggal di tempat. Belum terbit koran cetak, sudah beredar foto korban tabrak kereta api itu di panggung besar ini. Foto yang alami, tanpa edit, tanpa pemburaman melalang buana dalam hitungan menit atau jam saja. Alangkah miris dilihat.

Lagi-lagi si hati dari artis jejaring sosial mungkin lupa akan hal-hal tadi. Tentang kesedihan, kemarahan, prasangka dan nurani yang peka. Mungkin juga artis yang punya pertunjukan ini akan membela diri dengan cara serupa: “Itu informasi. Informasi harus di bagi.” Benar atau tidak tanya saja ke masing-masing hati.

Pun jika memang pertunjukan itu adalah niat memberi informasi, bukankah lebih baik meniru aksi para pakar pemberi informasi? Media cetak serupa koran dan majalah. Pun juga media televisi. Akankah mereka yang profesional dan tahu etika dunia informasi memberikan informasi ‘sevulgar’ itu? Tidak. Hati mereka tak lupa: ada hati, nurani dan prasangka yang harus dijaga, harus dihargai.

Jejaring sosial memang sudah seperti panggung besar. Pemilik akun jejaring sosial yang sudah bak artis pertunjukan alangkah banyaknya. Penonton pertunjukan pun alangkah banyaknya. Pertunjukannya juga amat banyak. Menyebar pula dengan alangkah mudahnya. Hitungan detik sudah sampai ke mana-mana. Sayang artis-artis ini kadang mudah lupa betapa besarnya panggung ini.

Lupa panggung ini ibarat tali temali yang bercabang dan tak putus-putus. Betapa banyak penontonnya. Lupa betapa banyak pula penonton-penonton yang tak pantas diberikan pertunjukan tak layak.

Jika saja mereka tidak lupa, maka tak akan banyak pertunjukan ‘aneh’ di panggung jejaring sosial ini. Bukan Cuma foto-foto bencana memang. Foto- foto perempuan berpakaian tak senonoh bahkan semi tak berpakaian dipertunjukkan pula di sana. Kata caci maki, kata-kata kotor-kotor  juga dipertunjukkan. Lagi-lagi, mungkin pertunjukan ini cuma agar si artis pemilik akun mendapatkan keuntungan berupa perhatian saja. Betapa haus memang kita pada perhatian.

Sebenarnya bukan salah jejaring sosial, bukan salah Facebook, bukan salah Twitter. Hanya artis-artis pemilik akun saja yang suka lupa pertunjukan apa yang baik ditampilkan untuk mendapatkan perhatian. Maunya cuma diperhatikan, tak peduli kanan kiri.

Bukan salah jejaring sosial pula karena punya tali temali informasi yang luas dan seolah tak berujung. Bukan salah Facebook atau Twitter pula jika siapapun bisa jadi artis, bisa jadi penonton pada panggung ini. Bahkan anak sekolah dasar yang baru pandai membaca sekalipun juga bisa. Yang salah hanyalah sifat  lupa.

Jika  panggung besar bernama jejaring sosial ini semakin banyak menyuguhkan pertunjukan-pertunjukan yang tak layak, apa yang akan terjadi? Tentu tak bisa membuat pertunjukkannya ibarat film yang harus masuk lembaga sensor terlebih dahulu sebelum dipertunjukkan. Tentu tak bisa membuat pertunjukkannya terhalang  program komputer internet seperti menghadang situs porno.

Artis-artis di panggung ini terlalu kreatif untuk membuat pertunjukan. Terlalu bebas dan terlalu banyak cara untuk kretif mencari perhatian. Lalu, apalagi yang bisa diharapkan selain si pemilik masing-masing hati.

Agar si hati tak lupa lagi bahwa foto-foto jenazah korban kecelakaan atau bencana tak layak dipertunjukkan begitu saja dalam panggung besar ini. Perlu cara yang baik, cara yang tepat untuk membuatnya layak dinilai sebagai informasi, bukan sekedar cari perhatian.

Agar si hati tak lupa foto-foto perempuan berpakaian seksi, semi tak berpakaian dan kata-kata makian kotor pun sangat tak layak dipertunjukkan, untuk alasan apapun. Apa lagi hanya untuk memuaskan rasa lapar akan perhatian.

Bukan salah jejaring sosial jika nanti muncul lagi label haram padanya. Jika nanti jejaring sosial ini dihilangkan dari peredaran, siapa yang salah? Begitu mudah bisa dihilangkan jika sudah ada orang yang memiliki kewenangan sudah memutushkan. Kita tak pernah tahu. Dan jika sudah terjadi, tak ada yang mampu mengubahnya. Kita hanya bisa protes.

Dalam protes itu nanti, kita mungkin akan mengiba dan sadar bahwa tanpa pertunjukan yang seperti itu kita sebenarnya sudah cukup puas. Puas dengan jejaring sosial yang membuat bertemu dengan teman yang sudah lama tak jumpa. Puas obrolan yang terasa amat dekat dengan orang-orang yang jauh di seberang sana.

Puas karena mudah sekali untuk berkenalan dengan orang-orang baru yang sehobi. Puas dengan jejaring sosial yang membuat kita mudah mencari produk, pun menjualnya. Kita Cuma bisa protes dan mengiba. Kalau sudah begitu nanti, siapa yang salah? Salahkan saja lupa.