Jepang tahun 1937. Dalam sebuah perjamuan makan malam, para perwira Sekutu dan Jepang saling bersulang dengan senyum tersungging. Namun, semua tahu, senyum itu hanyalah kosmetik untuk menutupi ketidakpercayaan di antara mereka.

Di sudut ruangan yang agak buram, atase pertahanan AS Edwin Layton (Patrick Wilson) berbincang dengan Laksamana Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa). Mengobrol berdua di ruangan muram berlampu kuning api. Tampak sempurna mengungkapkan relasi AS dan Jepang saat itu.

Layton dan Yamamoto bertukar bahasa Jepang dan Inggris dalam percakapan. Seakan menandakan saling respek, tapi juga penegasan implisit bahwa mereka saling tahu kondisi detail Jepang dan Amerika. Bila Layton sedang bertugas sebagai atase pertahanan, Yamamoto pernah menjadi atase pertahanan Jepang di AS.

Pada pagi hari, 7 Desember 1941, Amerika dikejutkan serangan Jepang ke pangkalan militer di Pearl Harbour Hawaii. Serangan itu membuka Perang Dunia II di wilayah Pasifik.  Secara personal, serangan itu berakibat pada dua tokoh film ini.

Bagi Edwin Layton, serbuan kilat Jepang membuatnya merasa gagal sebagai perwira intelijen. Layton menanggung perasaan bersalah karena gagal meyakinkan Washington atas informasi intelijen yang berhasil dikumpulkannya.

Sementara untuk Letnan Richard “Dick” Best (Ed Skrein), serangan mendadak Jepang itu telah merenggut nyawa teman baik semasa di akademi Angkatan Laut, Letnan Roy Pearce (Alexander Ludwig). Cincin kelulusan Pierce dan jasadnya yang sudah tak dapat dikenali menjadi bahan bakar kegigihan Dick bertempur di Midway.

Di Washington, pasca Pearl Harbour, Laksamana Ernest J King (Mark Ronson) mengganti Husband E. Kimmel (David Hewlett) dengan Chester William Nimitz (Woody Harrelson). Kimmel adalah komandan Armada Pasifik Amerika Serikat. Ia dianggap gagal setelah Pearl Harbour diserang.

Nimitz yang awalnya kelihatan menghindari tugas sebagai komandan armada Pasifik AS, akhirmya menerima perintah Ernest King layaknya seorang perwira. Sembari menyadari ia menerima tugas terberat di dunia saat itu.

Keraguan juga dialami Layton. Serangan Pearl Harbour membuatnya pasrah terhadap nasib karier intelijennya. Ia merasa ikut bertanggung jawab. Sekalipun informasi akuratnya tidak dituruti Washington.

Namun, akhirnya Nimitz membuat salah satu keputusan penting yang akan berdampak besar pada Perang Dunia II dan pertempuran Midway, khususnya. Ia tetap mempertahankan Layton. Nimitz justru makin percaya pada informasi intelijen tim perwira intelijennya, Layton dan Joseph Rochefort (Brennan Brown).

April 1942, Tokyo dibombardir oleh 16 pesawat B-25B Mitchell pimpinan James Doolitle. Nyawa Kaisar Hirohito (Hiraoki Shintani) terancam. Laksamana Yamamoto segera berencana menghabisi armada Pasifik AS. Bersamaan dengan itu, intelijen AS bekerja keras memecahkan kode rahasia Jepang.

Pada 4 Juni 1942, Jepang meluncurkan serangan udara ke Midway. Yamamoto yang berencana menjebak armada AS malah terperangkap. Armada AS tepat meladeni kapal-kapal induk Jepang di Midway.

Laksamana Nagumo (Jun Kunimura) akhirnya dihadapkan pada keputusan dilematis. Pilihan yang diputuskan Nagumo terbukti fatal. Sebaliknya, keputusan berisiko Wade McClusky (Luke Evans) dan heroisme Eugene Lindsay (Darren Criss) serta kenekatan Dick Best menentukan nasib Amerika pada akhir pertempuran dan Perang Pasifik, khususnya.

Midway sangat sukses sebagai sebuah film perang. Kobaran api yang menjilat-jllat kapal-kapal induk AS saat pesawat Jepang membokong Pearl Harbour benar-benar meyakinkan penonton akan daya rusak serangan tersebut. Robby Baumgartner yang bertanggung jawab dalam sinematografi patut diapresiasi.

Bagi pembaca sejarah, peran pesawat pembom tukik dalam Perang Dunia II sangat terkenal. Namun, sulit membayangkan betapa menegangkannya menjadi pilot pesawat pembom tukik bila hanya dibaca melalui narasi teks.

Efek kamera yang menghadirkan manuver-manuver Dick Best saat menukik melempar bom ke kapal induk Jepang memberi gambaran meyakinkan betapa bernyalinya para pilot tersebut. Aksi-aksi ala roller coaster berhasil membuat jantung penontong berdegup kencang.  

Film ini terlalu banyak menampilkan peristiwa sejarah yang mau disorot. Naskah yang ditulis Wes Tooke terlalu melebar. Serangan kilat Pearl Harbour dan Doolitle Raid memang relevan untuk dikisahkan sebagai latar belakang Midway. Namun dua peristiwa itu tidak perlu terlalu rinci ditampilkan sebagaimana dalam film ini.

Begitu pun dengan serangan Amerika pada Kepulauan Marshall. Ketiga peristiwa pendahulu Pertempuran Midway tersebut memakan durasi yang cukup lama dalam film ini. Sekalipun tampilan aksinya menghibur.

Para aktor dan aktris berperan tidak buruk, tapi juga tidak istimewa dalam Midway. Naskah cerita memang tidak terlalu menggali aspek drama. Para pemeran dalam film ini hanya ditampilkan layaknya jagoan Amerika. Friksi ego Best, McClusky, dan Eugen Lindsey makin menegaskan atmosfer maskulin film ini.

Midway tidak menyajikan pergulatan manusia dalam perang seperti yang dialami Kapten John Miller (Tom Hanks) dalam Saving Private Ryan (1998) dan Jenderal Tadamichi Kuribayashi (Ken Watanabe) dalam Letters From Iwo Jima (2006).

Peran perempuan pun hanya sebagai pendukung. Anne Best (Mandy Moore) sebagai pasangan Dick Best dan Diagne Layton (Rachael Parrel Fosket) secara umum digambarkan sebatas membantu suami mereka lewat peran domestik. Pergulatan batin dan pengaruh mereka dalam perang tidak digali lebih dalam.

Midway juga menjejali penonton dengan ambisi menyorot banyak tokoh.

Sebenarnya, hanya beberapa tokoh saja yang layak mendapat porsi besar dalam pertempuran Midway. Cukup fokus saja ke Nimitz, Leyton sebagai perencana dan pengambil keputusan. Di lapangan, cukup Best dan McClusky (Luke Evans) yang mendapat porsi besar.

Letnan Kolonel James Doolitle (Aaron Eckhart) dan Laksmana Madya William “Bull” Halsey (Dennis Quaid) sebagai aktor pendukung sekilas saja. Mengingat, keduanya tidak terlibat langsung dalam Pertempuran Midway.

Sekalipun Doolitle dan Halsey adalah tokoh penitng dalam Perang Pasifik. Janggalnya Laksamana Muda Frank Jack Fletcher, salah satu komandan kapal induk yang terlibat dalam Pertempuran Midway malah tidak ditampilkan.

Dari pihak Jepang, cukup menampilkan Isoroku Yamamoto, Chuichi Nagumo, dan Tamon Yamaguchi (Tadanobu Asano) saja. Ketiganya laksamana yang memang terlibat langsung dalam Pertempuran Midway. Kalaupun mau ditambah, bisa menampilkan Laksamana Nobutake Kondo. Aktor lainnya kurang relevan disorot. 

Midway bertujuan untuk memberi porsi adil pada perspektif Amerika dan Jepang. Namun tetap saja terjebak condong lebih membisikkan perspektif AS. Hal itu bisa dilihat dari sorotan sikap Yamamoto terhadap perang.

Film karya sutradara Roland Emerich ini sukses sebagai dokumenter sejarah yang menyajikan adegan perang meyakinkan. Penonton akan terhibur dengan efek kamera yang menghasilkan ledakan-ledakan besar, manuver-manuver pesawat terbang, dan kapal-kapal induk gagah.

Namun gagal sebagai sebuah kisah. Sentuhan emosi yang mau ditampilkan terasa hanya sebagai tempelan. Pergulatan kemanusiaan dan kematian dalam perang sangat lemah terasa. Kisah dalam Midway di bawah standar Saving Private Ryan dan Letters From Iwo Jima, misalnya.

Midway layak tonton bila kita hanya ingin merasa terhibur dengan aksi-aksi herois bombastis para pilot pesawat tempur dan kegagahan kapal perang. Namun penonton dipastikan kecewa bila mencari aspek drama kemanusiaan dalam film ini.