Perempuan Perias Mayat itu pun bertemu dengan Lelaki Penggali Kubur. Di temaram senja, mereka kembali berbicara dari hati ke hati, apalagi kalau bukan soal jodoh dan rencana pernikahan. 

Perempuan Perias Mayat mulai bercerita kalau beberapa kawan menyalahkannya, menganggapnya membuang kesempatan menikah dengan laki-laki baik.

Sementara sang Penggali Kubur mengeluh, kalau beberapa handai tolan menyalahkan, menganggapnya gila telah menyia-yiakan kesempatan menjadi orang kaya pada usia sudah berkepala tiga. Keduanya merasakan nasib yang sama.

Perempuan Perias Mayat selalu mengingat seloroh kawan-kawannya, “Ah kamu saja yang rumit." Begitu juga Lelaki Penggali Kubur, kawan-kawannya selalu berpetuah, “Ah jodoh itu kita yang memilih." Mengingat itu semua keduanya tersenyum, barangkali hanya kematian yang bisa mencintai mereka berdua.

Status pekerjaan mereka menghalangi untuk menikah, kata Perempuan Perias Mayat, anak-anak dari lelaki yang menyukainya takut dengan pekerjaannya sebagai perias mayat. Begitu juga dengan Lelaki Penggali Kubur, Ketika mulai serius membicarakan perkawinan kepada perempuan yang menyukainya, perempuan itu pun ketakutan karena ia seorang penggali kubur.

Perempuan Perias Mayat dan Lelaki Penggali Kubur sering kali putus asa, apa dosa kami? Di saat seperti itu Perempuan Perias Mayat terkenang dengan Pangeran Kunang-kunang, lelaki yang pertama kali menemukannya. Sedangkan Lelaki Penggali Kubur hanya bisa mengutuki masa lalunya, Petani Kata-kata yang pernah merawat mencampakkannya begitu saja.

Cerita di atas menarik, bukan? Cerita yang saya rangkai dari cerpen Agus Noor yang berjudul ‘Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat’ yang pernah dimuat di Harian Kompas 29 Desember 2009, dengan cerpen karya Budi Setiawan yang berjudul ‘Lelaki Penggali Kubur’. Cerpen ini telah dimuat di Detik.com, 6 Juni 2020, dan di Suara Merdeka, 7 Juni 2020.

Saya hanya ingin menunjukkan bahwa membuat cerita dari hasil karya orang lain itu sangat mudah, curi idenya, plotnya kita ubah dan ganti tokoh-tokohnya. Praktik culas seperti inilah yang dilakukan oleh Budi Setiawan, seorang yang mengaku penulis dan mengeklaim dirinya sebagai Petani Kata-Kata, kejahatan plagiarisme!

Menulis itu gampang, kata Bung Arswendo Atmowiloto, tapi tidak bagi Budi Setiawan; bagi dia, menulis itu berat apalagi menulis cerpen. Maka jalan pintas pun ia gunakan, menjiplak karya orang lain. Ia tidak butuh tema, menyusun plot, membangun karakter tokoh, dan tak peduli sudut pandang. Cukup mengganti jenis kelamin tokoh, diksi dan judul, jadi sudah.

Sayangnya praktik kotor seperti itu sering kali diberi tempat oleh beberapa media, entah kelalaian atau kebodohan para redakturnya sehingga cerpen hasil plagiat seperti Budi Setiawan ini bisa diterbitkan. Sikap media pun bisa kita tebak, tidak ada pernyataan atau klarifikasi secara resmi dari redaksi. Cukup permintaan maaf secara pribadi dari redakturnya.

Sikap media seperti itu sama pengecutnya dengan pelaku plagiat, Menurut Agus Noor, sikap media menjadi preseden buruk yang membuat plagiarisme dalam sastra kita seperti bisa ditoleransi hanya dengan mengatakan "penulisnya sudah minta maaf". Menggampangkan masalah, dan membuat seakan “tak punya masalah” dengan plagiarisme.

Plagiarisme yang dilakukan Budi Setiawan memang sangat menjijikkan. Kejahatannya dimulai sejak dari paragraf pertama, cerpennya yang diberi judul Lelaki Penggali Kubur, ia menulis: Empat dari lima perempuan yang jatuh cinta padanya seketika menjauh begitu tahu lelaki itu penggali kubur. Sepertinya pekerjaan dan cintanya selalu mempunyai kisah yang menakutkan.

Di cerpen aslinya, Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat, Agus Noor menulis, Enam laki-laki yang menyatakan cinta seketika menjauhinya begitu tahu ia perias mayat. Sepertinya kematian dan cinta bukan jodoh yang baik.

Dari paragraf pertama saja kita bisa tahu orang macam apa si Budi Setiawan ini. Dia bukan Petani Kata-Kata tetapi Penjahat Kata-Kata. SKH Bintang Timur pada tahun 1964 pernah melabeli orang-orang yang melakukan tindakan plagiat seperti Budi Setiawan ini sebagai orang paling hina dalam kehidupan kebudayaan.

Untuk itu, seperti yang ia tulis di cerpen jiplakannya bahwa ‘Menggali kubur ternyata lebih gampang’ sebaiknya ia juga masuk ke dalamnya sebagai bentuk pertanggungjawaban, itu lebih kesatria.

Apa yang dilakukan oleh Budi Setiawan mengingatkan kita pada kasus plagiat cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon yang ditulis oleh Dadang Ali Murtono yang pernah dimuat di Harian Kompas, 30 Januari 2011. Cerpen tersebut ternyata hasil plagiat dari cerpen karya Akutagawa Ryunosuke yang berjudul Rashomon. Isinya sama, hanya sang plagiat memindahkan paragraf saja.

Sebagai bentuk kejahatan, plagiarisme tidak bisa kita toleransi. Permintaan maaf tidaklah cukup karena akan membuka peluang ke depannya bisa dilakukan oleh siapa pun. Efek jera harus diberikan.

Untuk itu, rencana Pangeran Kunang-Kunang memburu si Petani Kata-Kata ke ranah hukum harus kita dukung. Dua kali melakukan plagiat karya orang lain sudah patut si Budi Setiawan ini dikirim ke bui.