Saat ini, kaum muslimin sedang berada dalam momentum yang sangat mulia. Begitu mulianya waktu-waktu ini, hingga siapa saja diharamkan untuk berpuasa--bentuk ibadah yang sangat dianjurkan bahkan diwajibkan pada waktu tertentu. Larangan berpuasa itu terhitung sejak 10 Dzulhijjah (bertepatan dengan 31 Juli 2020) kemarin, hingga berakhirnya hari tasyriq, pada hari ini, 13 Dzulhijjah (3 Agustus 2020).

Berdasarkan penuturan dari teman saya, Cak Faruq, yang merupakan pengasuh di kanal Dars Arabi, julukan hari tasyriq yang berarti cerah ini bermula dari kebiasaan penduduk Makkah pada zaman dahulu. Di mana tradisi mereka pada hari-hari tasyriq ini adalah menjemur daging-daging kurban di bawah terik matahari, yang tujuannya adalah supaya daging menjadi lebih awet pada saat dibuat dendeng. 

Pada keempat hari inilah (10-13 Dzulhijjah) diharamkan bagi setiap muslim menjalankan ibadah puasa. Puasa apa pun itu. Baik yang sifatnya sunnah maupun yang bersifat wajib, seperti puasa karena mengganti utang puasa Ramadan kemarin, maupun puasa sebab memenuhi janji, nadzar.

Gusti Allah seakan telah memberikan kemuliaan yang seluas-luasnya pada seluruh hamba-Nya pada hari-hari ini untuk memperbaiki gizi mereka, di samping juga melatih diri mereka untuk menata hati dengan cara mengorbankan sebagian dari apa yang mereka miliki untuk makin dekat (qurb) dengan-Nya. 

Di daerah tertentu, seiring bertambahnya kesadaran masyarakat muslim untuk berkurban ini menjadikan pasokan daging kurban yang didistribusikan pun makin melimpah. Bahkan, karena saking melimpahnya daging yang didistribusikan ini, menjadikan mereka yang telah menerimanya pun berniat untuk menyalurkannya kembali pada pihak-pihak lain yang dianggap kurang mampu atau lebih membutuhkan. 

Dan, di antara pihak yang termasuk kelimpahan banyak daging kurban ini adalah keluarga saya sendiri. Untuk menyiasati stok daging yang melimpah ini, saya dan istri saya biasanya menyiapkan berbagai menu untuk mengolahnya. Mulai dari dibuat rawon, bakso, masakan bumbu kecap, hingga sate. Untuk pilihan menu yang terakhir ini adalah inisiatif saya sendiri untuk mengolahnya, yang nantinya akan saya ceritakan dalam tulisan ini. 

Terus terang, sebenarnya saya bukanlah tipe orang yang hobi memasak. Namun, entah kenapa, saya selalu saja merasa penasaran jika ada masakan yang pernah saya olah itu rasanya kurang pas. Baik itu disebabkan oleh cara memasaknya yang kurang benar atau diakibatkan oleh racikan bumbu yang tidak tepat. Saya selalu berusaha mengevaluasi titik kurangnya olahan masakan saya ini untuk memperbaiki hasil masakan saya di waktu-waktu berikutnya.

Awal kali saya berminat membuat sate ini adalah karena ingin bernostalgia dengan suasana masak sate bersama dengan kawan-kawan lainnya sewaktu masih tinggal di ma'had (pesantren) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dulu. 

Waktu itu, kami menyiapkan dapur dadakan dengan membuat panggangan sate yang memanjang. Jangan dibayangkan kami membeli panggangan dari besi seperti yang dimiliki oleh cacak penjual sate itu. Kami membuat sendiri panggangan itu dari tumpukan bata yang kami jajar bersisian. Di tengah-tengah batu bata itulah kami akan meletakkan arang yang akan kami gunakan untuk memanggang sate.

Dan, sewaktu saya hendak mengulang teknik ini ketika sudah boyongan (pulang) ke rumah, ternyata saya gagal mempraktikkannya. Saya sudah menjumpai kesulitan sejak menyalakan arang secara konvensional, yakni dengan cara dikipasi oleh tangan. 

Belum lagi, kesalahan saya yang berikutnya, yakni saat itu saya membuatnya pada waktu malam hari sehingga kurang jelas mana daging sate yang masih mentah, mana yang sudah matang, dan mana yang telah hangus terbakar arang.

Berangkat dari kegagalan itulah saya bertekad untuk mencoba kembali membuat sate ala saya sendiri sambil terus mengevaluasinya pada tahun-tahun berikutnya. Dan, ulala, hasilnya pun ternyata tidak mengecewakan. 

Berangkat dari pengalaman saya itu, maka saya pun ingin membagikannya di sini. Berikut ini panduan mudah untuk memasak daging sate berdasarkan pengalaman pribadi saya. 

Pertama, mengiris daging dengan ukuran yang sama. Ukurannya sekitar 2,5 - 3 cm. Supaya lebih mudah, saat memotong daging, juga boleh sambil membayangkan ukuran sate yang dulu pernah kita makan. 

Kedua, setelah daging dipotong dengan sama rata, tusuklah daging itu dengan isi antara 3 sampai 4 irisan per tusuknya. Usahakan tidak ada bagian daging yang terurai. Sebab, jika daging ini dibiarkan terurai, biasanya daging akan hangus sebab terbakar bara arang. Jika ada bagian daging yang terurai, maka tusuk kembali bagian itu, atau juga boleh dililitkan pada lidi. 

Ketiga, siapkan pemanggang. Untuk mendapatkan sensasi memasak ala life survival yang murah meriah, pemanggang ini bisa dibuat sendiri dari dua batu bata yang ditata secara sejajar, atau kalau tidak ada, juga boleh memakai benda apa saja yang tidak mudah terbakar, yang penting dapat digunakan untuk meletakkan arang di bagian tengahnya, sekaligus bisa menopang tusuk sate. 

Keempat, siapkan arang. Supaya prosesnya lebih cepat, arang yang sudah kita siapkan itu dapat dipanggang terlebih dahulu di atas kompor gas, sampai terlihat bara api pada guratan sisinya. Begitu bara api sudah tampak memerah merata pada sisi arang, maka ia sudah dapat dipindahkan ke tempat pemanggangan. 

Selama proses pemindahan ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati supaya arang yang sudah memanas itu tidak sampai mengenai anggota badan kita. Saya menyarankan supaya memakai capit (atau menggunakan sendok makan jika tidak ada capit) dan sarung tangan agar tangan kita tidak kepanasan saat memindahkannya. Atau kalau ada yang punya ilmu kebal/debus, boleh juga tuh dipindah langsung pakai tangan kosong, sekalian mempraktikkan kesaktian ilmunya. Hehe.

Pada waktu proses pemindahan arang ini, saya sarankan menggunakan tempat yang terbuat dari besi, aluminium, atau apa saja yang tidak mudah terbakar, guna menampung arang yang sudah membara itu untuk sementara waktu. 

Jika sudah, silakan menata arang yang masih membara itu pada pemanggang yang sudah disiapkan tadi dengan serapi mungkin. 

Kelima, kipasi pemanggang. Saya sarankan pada ketika mengipasi pemanggang ini menggunakan mesin kipas angin listrik saja, supaya tangan kita tidak pegal saat mengipasinya. Selain itu, dengan menggunakan kipas angin elektrik ini, aliran udara yang menuju ke pemanggang juga akan lebih stabil sehingga arang akan tetap terjaga bara apinya. 

Keenam, olesi daging dengan kecap manis dan bumbu-bumbu favorit lainnya secara merata. 

Ketujuh, panggang daging sate secara merata. Supaya daging ini dapat matang dengan merata, bolak-baliklah daging yang dipanggang ini dengan berkala. Ada baiknya, sambil memanggang ini sambil diolesi dengan bumbu secukupnya supaya ia lebih meresap ke dalam daging dan dagingnya pun dapat matang secara perlahan, sehingga ia akan terhindar dari kondisi yang terlalu matang atau hangus menjadi arang.

Kedelapan, sajikan daging yang sudah matang itu bersama dengan bumbu yang sudah disiapkan. Boleh juga sate ini disajikan dengan bumbu kacang, sambel pecel, yang telah dicampur dengan kecap manis. Kemudian, berilah toping irisan bawang merah secukupnya di bagian atas sate untuk menjaga tekanan darah kita, supaya tetap netral setelah mengonsumsinya. 

Inilah pengalaman pribadi saya saat membuat sate dengan memanfaatkan daging kurban. Barangkali sobat Qureta ada yang punya tips lain untuk mengolah daging kurban ini, boleh juga tuh dibagi, supaya variasi menu olahan daging kita bisa tambah banyak.