Tak dimungkiri lagi, buku bajakan beredar bebas di toko buku online maupun offline. Harganya yang relatif murah dengan kualitas yang (kadang) tidak terlalu buruk cukup menarik perhatian pembeli. Minat baca yang tinggi tapi tidak dibarengi dengan keuangan yang mendukung juga membuat orang dengan ekonomi rendah melabuhkan hati padanya.

Saat ini buku bajakan tidak hanya dalam bentuk fisik, banyak juga file (dalam format pdf) buku yang berseliweran dari media sosial satu ke media sosial lain. Dengan dalih menyuburkan budaya literasi, beberapa oknum (entah sadar atau tidak) ikut menyebarkan file illegal tersebut. Jatuhnya, makin banyak masyarakat yang terbiasa menikmati buku bajakan.

Pembajakan buku yang masif masih saja terjadi sekalipun sudah dilakukan sweeping. Pelapak tentu tidak akan menjual dagangannya jika tidak ada pasar. Artinya, usaha sweeping menjadi sia-sia jika pasar masih memburu buku bajakan. Jika kita bijak memilih buku (hanya membeli buku ori saja), pedagang buku juga hanya akan menyediakan buku ori saja.

Disadari atau tidak, kecenderungan masyarakat membeli buku bajakan sangatlah merugikan berbagai pihak, terutama penulis. Dari sekian harga buku, penulis hanya mendapat royalti sebesar 10 persen saja. Sisanya adalah sebagai biaya produksi, PPN, dan untuk pihak penerbit. Sangat kecil, bukan? Belum lagi dengan kemungkinan jika bukunya tidak laku di pasaran.

Kita dapat mengapresiasi  penulis atas pengetahuan, pengalaman, dan hiburan yang ia berikan melalui tulisannya dengan membeli buku orisinal. Lantas bagaimana kita menghargai penulis jika hanya mengonsumsi buku bajakan? Maksudnya, masa iya atas segala sensasi yang kita dapatkan dari sebuah buku, tak secuil pun hal baik kita berikan malah justru membuat rugi.

Pro-kontra mengenai buku bajakan kerap kali terjadi, baik dalam diskusi online maupun di warung kopi dengan teman sendiri. Setiap orang memiliki sudut pandangnya masing-masing. Akan tetapi, saya kira kita memiliki nilai yang sama untuk selalu mengapresiasi karya seseorang. Dengan kata lain, tidak merugikan penulis buku.

Sebagai penikmat buku, berikut saya beberkan beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari konsumsi buku bajakan. Ini resep rahasia saya.

Pertama, meminjam.

Cara pertama yang paling utama dan seringnya diutamakan, yaitu meminjam. Kita bisa meminjam buku di perpustakaan sekolah, kampus, perpusda (perpustakaan daerah) atau bahkan perpustakaan individu seorang kenalan. Sangat mudah, bukan? Low budget pula. Cocok untuk kantong kempes yang pas-pasan buat bayar kosan dan makan di angkringan.

Terlebih, saat ini masyarakat dapat menikmati buku hanya melalui gadget. Beberapa perpustakaan besar sudah melengkapi pelayanannya dengan fitur perpustakaan digital. Hanya dengan mengunduh aplikasi dan mengikuti ketentuannya, kita bisa menikmati buku secara legal everywhere everytime. Dijamin praktis!

Sebagai peminjam buku yang budiman, ada satu hal yang perlu diingat ketika meminjam buku. Menjadi peminjam yang tahu diri dan penuh unggah-ungguh dengan memahami prosedur serta merawat buku yang sudah dipinjamkan. Menjaga harapan yang berulangkali dikecewakan saja bisa, masa nggak bisa ngerawat buku?

Kedua, patungan.

Alternatif lain yang bisa kita lakukan, yaitu patungan. Jika buku yang diinginkan tidak tersedia di perpustakaan, maka kita bisa menebusnya dengan membeli. Namun jika satu buku dirasa terlalu mahal harganya, patungan bersama pemburu buku bisa dicoba. Berusahalah, nabung sedikit demi sedikit demi memenuhi hasrat kebutuhan literasi.

Konsep ini tidak jauh berbeda dengan sharing kamar kosan. Satu kamar terlalu mahal harga sewanya, bisa dong gotong royong simbiosis mutualisme. Entah bagaimana dengan hak milik buku itu, biar dipikirkan bersama saja nantinya. Syukur-syukur disumbangkan ke perpustakaan biar bisa jadi amal jariyah. Heuheuhe.

Ketiga, ikut giveaway.

Seumpama patungan masih terlalu memberatkan kantong juga, ada cara yang paling murah, yaitu mengikuti giveaway. Tidak perlu keluar uang atau jauh-jauh ke perpustakaan, cukup dengan rebahan kita bisa mendapatkan buku impian. Hanya perlu kesabaran, ketekunan mencari akun yang rajin bagi-bagi gratisan dan berharap keberuntungan. Entah sampai purnama keberapa buku impianmu akan terwujud, giveaway adalah win-win solution.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menikmati buku tanpa merugikan orang lain. Menjadi pembaca yang bijak dengan tetap menghargai penulis, tidak hanya mementingkan kebutuhan pribadi untuk mendapatkan pengetahuan dari buku bacaan, namun juga mengapresiasi karya penulis. Jadi, masih mau bersikap egois dengan membeli buku bajakan?

Baiklah, sebagai pamungkas, saya akan tutup tulisan ini dengan sebuah petuah bijak yang berisikan ringkasan cara jitu dari artikel ini. Anda bisa meng-copy dan menempelkannya di dinding kamar Anda.

“Barangsiapa yang menginginkan kebaikan dalam dunia literasi, maka hindarilah buku bajakan. Jika tidak mampu, maka belilah dengan patungan. Jika masih tidak mampu, segeralah meminjam. Jika masih tidak mampu juga, maka ikutlah giveaway dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya usaha.”