Pada awal maret 2020, wabah Coronavirus Disease (Covid-19) mulai memasuki Indonesia. Penyebaran virus yang cukup cepat menjadikan pemerintah menetapkan beberapa kebijakan seperti lockdown dan physical distancing yang membatasi setiap aktivitas masyarakat dan pastinya dapat menimbulkan beberapa akibat, seperti pada mekanisme pasar.

Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi memang tidak hanya dirasakan oleh Indonesia, namun juga negara-negara besar lainnya seperti China yang tentu dapat mempengaruhi ekonomi global. Selain itu, melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga disebabkan oleh penurunan permintaan di pasar domestik itu sendiri.

Pandemi menjadikan sisi penawaran (supply) pada perekonomian bergeser yang berakibat pada penurunan produksi. Selain itu, penurunan daya beli masyarakat juga mengakibatkan sisi permintaan (demand) menurun karena masyarakat hanya akan membeli kebutuhan pokok. Pada akhirnya, hal ini dapat merubah pola ekonomi masyarakat.

Dampak terbesar adanya pandemi adalah meningkatnya jumlah masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena pemutusan hubungan kerja (PHK) dibeberapa kantor, pabrik, dll, serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terancam ‘gulung tikar’ karena menurunnya aktivitas produksi yang dilakukan.

Adanya pembatasan beraktivitas ini dapat melumpuhkan atau menurunkan sektor produksi dan konsumsi, penggunaan tenaga kerja serta daya beli masyarakat menurun, sehingga pengangguran dan kemiskinan meningkat drastis. Dalam hal ini, kelompok masyrakat yang paling terdampak adalah masyarakat golongan menengah ke bawah.

Salah satu masalah ekonomi makro terutama di masa pandemi adalah kemiskinan (poverty) terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Kemiskinan tidak hanya berdampak pada perekonomian saja, namun juga sosial dan politik di masyarakat yang nantinya menimbulkan ketidakstabilan pemerintahan seperti pada tahun 1998.

Terdapat beberapa indikator kemiskinan yang perlu diketahui, yaitu 1) tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, 2) tidak mampu memenuhi kebutuhan lainnya, seperti kesehatan dan pendidikan, 3) Rendahnya kualitas sumber daya manusia sehingga sulit mencari mata pencaharian yang berkesinambungan dan tetap.

Dalam keadaan pandemi seperti saat ini, muncul pertanyaan-pertanyaan dari setiap golongan: apakah yang harus dilakukan Indonesia? Mampukah Indonesia bertahan? Mampukah Indonesia melaluinya? Bagaimanakah peran atau apa yang dapat dilakukan seorang muslim dalam keadaan seperti ini?. Dari pertanyaan inilah muncul sebuah harapan baru.

Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang sudah seharusnya setiap muslim mampu menunjukkan perannya dalam upaya pengentasan kemiskinan dengan menjadikan filantropi Islam sebagai solusi atas permasalahan kemiskinan di masa pandemi.

Secara umum, filantropi adalah aktivitas memberi sumbangan, layanan, maupun asosiasi secara sukarela kepada orang-orang yang membutuhkan sebagai rasa kepedulian terhadap sesama. Berzakat, infaq, sedekah dan wakaf merupakan bagian dari filantropi, yang sering disebut sebagai filantropi Islam (islamic philanthropy).

Adanya filantropi Islam (ZISWAF) memiliki dua tujuan, yaitu sebagai bentuk ibadah dan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, sehingga perlu untuk dikembangkan dan dikelola dengan maksimal. Terdapat dua orientasi filantropi Islam dalam hal pengentasan kemiskinan, yaitu dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Dalam jangka pendek (konsumtif) dapat digunakan untuk pembangunan dan pengadaan fasilitas penunjang seperti pada Rumah Sakit darurat dan Alat Pelindung Diri (APD). Sedangkan dalam jangka panjang (produktif) seperti investasi atau pengembangan masyarakat miskin untuk meningkatkan pendapatan, sehingga dana tersebut tidak akan habis.

Penggunaan dana ZISWAF dalam jangka panjang dan pendek saling berpengaruh terhadap ekonomi. Pada jangka pendek dapat meningkatkan permintaan dan daya beli masyarakat. Sedangkan dana ZISWAF pada jangka panjang dapat meningkatkan kegiatan produksi sehingga tenaga kerja meningkat, serta pengangguran dan kemiskinan berkurang.

Selain itu, terdapat solusi lain yang ditawarkan oleh filantropi Islam, yaitu 1) penyaluran bantuan langsung tunai kepada masyarakat miskin (mustahiq) dari dana ZIS yang berasal dari UPZ. 2) meningkatkan wakaf produktif. 3) memberi bantuan berupa modal pada usaha yang berpotensi (dapat juga melakukan pinjaman dengan akad qardhul hasan).

Apabila masyarakat yang menerima dana ZISWAF dapat memenuhi kebutuhannya, maka akan menggeser kurva demand dari kiri ke kanan. Di sisi lain, orang yang mampu (muzakki) yang memiliki aset dan berkeinginan untuk menginvestasikannya pada sektor riil, maka supply barang dan jasa akan meningkat dan kurva supply bergeser ke kanan.

Kemudian, ketika keadaan tersebut berlangsung secara terus menerus, maka akan meningkatkan gross domestic product (GDP) per kapita yang berujung pada kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Jika solusi-solusi diatas diterapkan dengan maksimal, diharapkan dapat meningkatkan aggregate demand dan aggregate supply yang sempat menurun.

Penjelasan pada tulisan ini membuktikan bahwa agama Islam melalui metode filantropi Islam mampu menjadi solusi dalam masalah kemiskinan. Memang setiap solusi yang dijalankan perlu waktu untuk mendapatka hasilnya. Sehingga perlu adanya kontribusi dari pemerintah maupun masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.