Saya adalah seorang hakim yang berasal dari Purwodadi, dari Semarang ke timur sekitar 60 kilometer. Sudah hidup berpindah-pindah, dari kabupaten satu, ke kabupaten lainnya. Pada saat pandemi berlangsung, dari Pamekasan saya dipindah tugaskan ke Raha.

Terjadi beberapa peristiwa besar dalam kehidupan saya, saat pandemi berlangsung. Ketika diberlakukan PPKM di Pulau Jawa bulan April 2020, harus membawa istri, dari Pamekasan, melahirkan di Surabaya. Bulan April 2021 harus berangkat ke Sulawesi Tenggara.

Sebagai seorang hakim yang hidup berpindah-pindah, saya merasa sedih menghadapi pandemi covid yang tak kunjung berakhir. Setiap kali orang berpengaruh pidato, masih selalu mengingatkan, bahwa pandemi belum berlalu. Kita harus tetap menjaga protokol kesehatan, dalam kegiatan keseharian.

Virus covid terbaru yang beredar di masyarakat adalah Sub varian Omicron BA 4 dan BA 5. Meskipun tidak seganas varian-varian sebelumnya, namun kita tetap harus waspada pada varian baru tersebut. Itu juga pesan dari para ahlinya. Dalam hati kecil saya bertanya-tanya, kok nggak selesai-selesai ya masalah covid ini?

Efek pandemi, sangat dirasakan setiap orang. Tak terkecuali saya, yang mobilitasnya cukup tinggi. Setiap kali hendak bepergian, masih terasa perasaan was-was akan efek buruk yang ditimbulkan virus jahat tersebut.

Saat kata-kata pandemi terlontar, seketika itu saya teringat kembali peristiwa, di mana saya dan keluarga pernah menjadi tahanan corona kala itu. Luka lama terngiang-ngiang kembali. Sedih, khawatir dan campur bertanya-tanya, kapan virus ini segera musnah seratus persen di muka bumi ini.

Sekitar bulan April 2021, kami sekeluarga divonis positif terpapar covid-19. Waktu itu adalah menjelang keberangkatan pindah tugas saya dari Pamekasan ke Raha. Dimana semua persiapan dan tiket telah kami siapkan dengan harga yang sangat tinggi.

Hal tersebut kami ketahui pada detik-detik akhir menjelang perjalanan udara dari Semarang-Jakarta-Makasar-Muna Barat. Percaya dan tidak percaya, suka tidak suka, meskipun tanpa gejala, hasil rapid antigen oleh klinik dekat rumah, menyatakan kami positif.

Kami merasa galau tingkat dewa, bukan karena coronanya, tetapi lebih pada tiket pesawat yang telah kami bayar, dengan harga yang sangat tinggi, dan batalnya pelantikan wakil, yang telah ditentukan oleh Pak Ketua. Namun apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur, meskipun kami secara fisik sehat, tetapi tersandra karena hasil rapid yang positif, akhirnya kami pun melakukan isolasi mandiri.

Status tahanan corona telah kami sandang, dan merefund seluruh tiket yang telah kami bayar mahal. Pengembalian uang berkurang banyak, kami pun dirugikan. Perasaan menjadi tak karuan, nggak tau harus bagaimana.

Teringat kata teman alumni corona sebelumnya, di Pengadilan Negeri Pamekasan, yang mengatakan, “kejamnya ibu tiri, tidak sekejam tahanan corona”. Ternyata tepat sekali! Corona menghancurkan semua sendi kehidupan. Efek corona tidak pandang bulu.

Di saat kami terbelenggu akibat tahanan corona, ada pihak yang sangat kejam, “memancing di air keruh”. Puskesmas setempat, melakukan pengibulan terhadap kami. SOP saat itu, mewajibkan orang yang positif melalui rapid antigen, harus dilanjutkan dengan test PCR. Sebagai keluarga hakim, yang baik hati dan taat aturan, kami pun melaksanakan SOP itu.

Pada jadwal yang telah ditentukan, kami berlima, istri dan anak-anak, datang ke puskesmas, satu persatu dicolok hidung dan mulut kami. Bahkan anak kedua kami, sampai patah colokannya. Kata petugas pencolok, spesiment akan dikirimkan ke RSUD, dan kami akan dihubungi jika hasilnya telah terbit.

Sampai satu minggu tak kunjung ada info dari puskesmas. Akhirnya saya berinisiatif menghubungi pihak puskesmas untuk menanyakan hasilnya, katanya suruh menunggu. Setelah beberapa kali disuruh menunggu, menunggu, dan menunggu lagi, kami sadar, ternyata kami telah dipermainkan oleh oknum petugas puskesmas. Hasil test PCR sampai saat ini tidak pernah ada. Hilang ditelan bumi.

Selanjutnya, kami pun pergi ke salah satu klinik di Purwodadi Jawa Tengah untuk cek lagi, dan hasilnya semua non reaktif. Setelah komunikasi dengan istri, saat itu juga kami segera berburu tiket, untuk segera bersama-sama berangkat ke Sulawesi Tenggara.

Akhirnya, melalui perjuangan yang berdarah-darah, kami telah 1 tahun tinggal di Raha Muna, Sulawesi Tenggara.

Kesan sebagai alumni corona, bahwa, efek besar dan menyakitkan dari corona itu adalah nyata. Nyata menghancurkan isi dompet, nyata merusak jadwal yang telah ditentukan, dan nyata menyerang psikis setiap insan yang pernah disinggahi virus tersebut.

Kesabaran tingkat dewa dibutuhkan dalam menghadapi kejamnya corona. Vaksinasi harus ditaati. Tetap menjaga kesehatan dan taat pada aturan yang telah ditetapkan akan mendukung pada terselesaikannya secara tuntas pandemic virus corona.

Janganlah ada sub varian-sub varian baru, pergilah corona, enyahlah dari bumi nusantara. Dari planet bumi ini. Harapan saya, perjalanan berikutnya, tanpa melalui tahanan corona!

Semoga pandemi benar-benar cepat berlalu.