Sudah lebih dari setahun kita mengalami masa pandemi, saya masih ingat di February 2020, kami sekeluarga masih melakukan perjalanan keluar kota berlibur bersama keluarga besar melepas rindu karena kami tidak tinggal di kota yang sama. Berita mengenai virus baru ini sudah mengudara, tapi bagi kami pada saat itu hanyalah berita belaka, tidak menganggap terlalu serius tapi juga tidak menyepelekan. Kenapa? Karena pada saat itu kami sekeluarga sudah menyiapkan masker guna dipakai pada saat perjalanan pulang, sebagai antisipasi karena gencarnya berita yang bertebaran di udara.

Bulan Maret dan April mulai bermunculan berita mengenai “lockdown” sebuah istilah baru yang selama ini buat saya asing didengar. Maksudnya apa? Dikunci? Kemudian berbagai istilah lain mulai muncul seperti “movement control”, “physical distancing”, “curfew” sampai terakhir “social distancing”. Semua adalah istilah dari luar karena memang seluruh dunia seolah berlomba mewartakan si virus bernama cantik corona ini, walaupun akhirnya diubah menjadi Covid 19.

Sontak begitu mulai bermunculan negara – negara yang mendeklarasikan penutupan perbatasan maupun pembatasan ruang gerak bagi masyarakatnya, ketidaknyamanan terjadi di mana – mana. Bagi saya yang orang kantoran, semua menjadi bingung begitu DKI Jakarta juga ikut mencanangkan Pembatasan Sosial Berskala Besar.

HRD dan GA menjadi department paling sibuk pada saat itu mengatur jadual kerja dan berkoordinasi dengan department lain yang terkait untuk memastikan bahwa kegiatan operasional meskipun tidak dilakukan secara fisik di kantor bisa tetap berjalan optimal.

Buat kami yang karyawan juga menjadi tidak nyaman, bagaimana tidak? Sebuah perubahan besar harus dilakukan bekerja di rumah. Padahal sebelumnya sebisa mungkin pekerjaan tidak dibawa pulang ke rumah, mengingat ruang pribadi dan ruang professional berbeda adanya. Pembatasan ruang tersebut akhirnya harus dibongkar demi keselamatan bersama.

Argumentasi mengenai infrastruktur mulai bermunculan, bagi karyawan administrasi level bawah yang tidak memiliki akses notebook atau lap top. Belum lagi permasalahan koneksi internet di setiap wilayah yang berbeda kekuatannya. Tidak menutup kemungkinan juga karena memang tidak membudgetkan kuota untuk bekerja. Kuota biasanya untuk hiburan dan bersosialisasi, bukan buat kerja atau anak sekolah. Lah ya kok sekarang malah buat dipakai untuk bekerja? Gimana toh? Perusahaan mau bayarin memangnya? Begitu omelan sana sini bermunculan.

Tapi apa daya? Kekhawatiran sekelompok orang akan infrastuktur, kuota maupun ruang pribadi yang  tercampur menjadi tidak berarti begitu dibandingkan keselamatan jiwa setiap pribadi yang harus dijaga.

Pemerintah gencar menyerukan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Ketiga hal tersebut adalah kewajiban semua orang guna meminimalisir kemungkinan tertular oleh virus ini. Alhasil setahun berlalu sudah dan semua seolah menjadi biasa. New Normal atau kebiasaan terbentuk tanpa kita sadari meskipun di tengah perjalanan sebagian besar dari kita tertatih mencoba melangkah dengan benar.

Apa yang bisa kita pelajari dari pandemi ini dan dari tatanan baru yang ada sekarang? Saya akan melongok dari sudut pandang mensyukuri nikmat luar biasa yang diberikan kepada kita. Aneh? Tidak juga. Nyeleneh? Tidak juga. Semata karena positif thinking? Bisa jadi. Mari bersama kita telaah.

Buat yang sekolah atau yang bekerja, berapa lama waktu yang kamu gunakan untuk di luar rumah? Bisa jadi 12 jam bisa juga lebih karena lembur, karena jarak rumah dengan sekolah atau kantor yang luar biasa jauh maupun macet. Sekarang semua menjadi tidak masalah. Bangun tidur, mandi bisa langsung kerja atau sekolah. Artinya apa? Waktu tidur bisa lebih panjang. Biasanya terburu-buru toh berangkat karena takut terlambat? Atau mungkin ada yang bilang, tidak juga karena saya terbiasa bangun pagi. Baik, tidak masalah, artinya kamu punya kesempatan untuk melakukan hal lain sebelum jam sekolah atau bekerja dimulai.

Olahraga misalnya, di pagi hari sangat luar biasa. Udara masih segar badanpun masih segar karena baru bangun dari beristirahat panjang. Atau buat yang ibu-ibu yang selama ini tidak sempat menyiapkan makanan buat keluarga di pagi hari, bukankah ini saatnya? Punya waktu lebih santai buat sarapan dan makan bersama keluarga. Ini berlaku juga untuk makan siang, maupun makan malam. Buat saya yang sering lembur ( bukan suka lembur) makan malam bersama keluarga adalah kesempatan luar biasa.

Makan dengan duduk dan menikmati hidangan bersama tidak mungkin hanya makan dan diam toh? Pasti akan ada pembicaraan, bisa soal makanannya atau apa yang dialami pada hari itu dengan kegiatan online masing-masing. Nikmat kedua yang bisa disyukuri, waktu untuk mendekatkan diri bersama keluarga atau orang terdekat.

Nikmat ketiga adalagi? Cuma dua nih? Tentu saja ada. Selama ini ada tidak yang merasa bahwa tidak punya waktu untuk memperkaya diri? Menambah ilmu? Padahal punya cita-cita setinggi langit, tapi tuntutan kerja tidak memungkinkan itu semua.

Imbas pandemi menurut World Economic Forum, lebih dari 1.2 milyar anak sekolah di 186 negara, harus berada di luar ruang kelas, dan investasi yang akan dilakukan untuk pembelajaran jarak jauh atau online diperkirakan akan meningkat menjadi 350milyar dollar America pada tahun 2025. Investasi ini akan mencakup aplikasi bahas, tutorial secara virtual, konferensi video, maupun software untuk pembelajaran online.

Artinya kesempatan buat kita semua yang haus akan ilmu pengetahuan maupun ketrampilan akan seluas samudera. Ini semua akan tergantung kepada setiap individu sendiri untuk eksplorasi potensi yang ada.

Banyak platform yang bermunculan di sosial media mempromosikan diri untuk menarik murid, contoh; “mau belajar apa”, “udemy”, “newskillsacademy”, “EdX” merupakan tempat-tempat yang menyediakan modul-modul yang ingin dipelajari. Mulai dari tidak berbayar sampai dengan berbayar.

Nikmat apalagi yang ingin kau dustakan? Waktu menjadi sangat berharga, dan kita semua dilimpahkan untuk memanfaatkannya. Jadi mengapa tidak? Pergunakan waktu yang ada mumpung belum 100% kembali beraktifitas seperti dulu, gunakan waktu yang ada untuk menguatkan hubungan dengan orang yang kita kasihi terutama keluarga. Gunakan waktu untuk merawat diri kita dengan sebaik mungkin, menjaga kesehatan dengan makanan masakan rumah dan berolahraga. Gunakan waktu untuk memperkaya ilmu dan ketrampilan kita, hingga pada saatnya kembali ke kantor atau sekolah, kita sudah menjadi individu baru yang lebih bersyukur, lebih sehat dan tentunya lebih pintar. SEMANGAT!!!

Lina Lim