Melansir dari laman Worldometers hingga rabu (10/03/2021) total kasus covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 117.051.764  (11 juta) kasus. Dari jumlah ini, sebanyak 92.629.585 (92 juta)  pasien telah sembuh, dan 2.598.827 orang meninggal dunia.

Sementara di Indonesia, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) update positif covid-19 sejak dari Februari hingga Rabu Selasa 09 Maret 2021  mencapai 1.392.945 orang.  Dari jumlah akumulasi ini 1.210.877 orang sembuh  dan  pasien yang meninggal sebanyak 37.757 orang.

Dalam situasi seperti ini, kita menyaksikan di media-media onlline maupun media cetak ada beragam aturan dan  tindakan-tindakan preventif yang disuarakan oleh pemerintah, akademisi, hingga pemerhati masyarakat. Semua itu bertujuan demi memutuskan mata rantai penularan  covid-19.

Lebih jauh ketika kita sungguh-sungguh berkaca pada realitas, covid-19 bukan saja berdampak pada korban jiwa dan merosotnya segala sistem kehidupan, tetapi  juga berdampak pada ranah iman kita kepada Tuhan.

Dalam mata iman patutlah kita akui bahwa kehadiran covid-19 merupakan sebuah tantangan iman yang dapat melunturkan keharmonisan antar-kita. Lantas bila merupakan sebuah tantangan iman, bagaimanakah solusinya supaya manusia tetap hidup dengan harmonis?

Menjaga  Imun Dan Meneguhkan Iman

Ari Welianto, seorang analisis kesehatan dan asisten pada sekolah Solo dalam artikelnya yang bertajuk  “Apa Itu Sistem Imun”, mendevenisikan   imun sebagai  sistem kekebalan tubuh atau pertahanan tubuh.

Imun berperan menghancurkan sel abnormal yang merugikan tubuh. Selanjutnya dilansir  Encylopedia Britania (2015) Imun adalah kelompok pertahanan yang ditemukan pada manusia untuk membantu mengusir organisme penyebab penyakit yang ada di dalam tubuh.

Imun tubuh sangat penting untuk membantu sekaligus menjaga pertahanan tubuh bawaan (non spesifik), dan pertahanakan tubuh adaptif (spesifik).

Level pertahanan bawaan (non spesifik) merupakan bagian  pertama yang berperang melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Bagian tubuh yang terkategori dalam level ini sebagaimana dikutip dari Kemendikbud,  antara lain kulit, membran mukosa, zat kimia antimikroba, fatagosit, dan reaksi inflamasi.

Level pertahanan tubuh adaptif (spesifik) merupakan bagian  internal tubuh. Level pertahanan tubuh adaptif (spesifik) akan beraksi jika bagian pertama mendapatkan serbuan dari benda asing (virus).

Disebut pertahanan adaptif (spesifik) karena apabila bagian pertama mendapatkan serangan maka sel molekul dan organ dari sistem imunitas akan menghasilkan suatu pertahanan yang spesifik untuk melawan agen yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

Singkatnya menurut Ari Welianto, imun memiliki peranan yang amat penting untuk tetap menjaga  kekebalan tubuh agar tubuh tetap seimbang dan rentan terhadap penyakit.

Dari pengertian ini, maka hemat saya  imun memiliki relasi yang fundamental dengan iman. Menjaga  imun tubuh sama halnya  dengan merawat  iman kita kepada Tuhan. 

Jika tubuh kita sehat, imun tubuh tetap konstan, dan iman kita tetap teguh maka  kita tidak akan pernah  lari dari kekalutan dan tantangan  hidup. 

Imun dan iman merupakan dua dimensi yang tidak bisa dipisahkan. Relasi keduanya menghantar manusia untuk bisa menghidupi hidup dengan harmonis. Imun tubuh yang sehat dan kuat   membantu manusia  untuk  mengekpresikan kasih Allah dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya iman menolong manusia untuk mengerti misteri kasih Allah yang tercurah setiap hari. Inilah sebabnya  mengapa pepatah kuno  mens sana in corpore sano senantiasa dihayati hingga saat ini.

Berkaitan dengan bagaimana manusia dapat dengan hidup baik atau hidup dengan harmonis, Socrates pernah melontarkan sebuah pertanyaan mendasar-sederhana-menukik tentang makna ziarah hidup manusia “Bagaimana seharusnya kita hidup?”

Senada dengan Socrates, Plato ahkirnya menjawab bahwa “Hidup yang tidak direfleksikan-dimaknai-tidak pantas dihidupi”. Ini berarti bahwa untuk “menjalani hidup ini”  tidak ada cara lain selain “dengan merefleksikan dan memaknai hidup” kita secara baik.

Dalam konteks pandemi covid-19, kita juga patut bertanya sebagaimana Socrates  “bagaimana seharusnya kita hidup? “Bagaimana seharusnya kita beriman kepada Tuhan?” Terinsipiras oleh Jawaban Plato, maka menurutku kiranya ada tiga hal yang patut kita praktikan.

Pertama, Selaraskan kehendak individual dengan realitas sosial.

Pandemi covid-19 melahirkan realiatas baru di mana kehidupan sosial semua manusia  di segala bidang mengalami kemerosotan yang signifikan. Menghadapi realitas sosial ini, pihak pemerintah menerapkan peraturan yang sifatnya komunal tanpa terkecuali.

Peraturan itu dimaksudkan untuk mencegah dan menghentikan  penyebaran virus covid-19. Dalam keadaan ini kehendak individual kita dituntun untuk mentaati peraturan pemerintah yang dilaksanakan melalui protocol kesehatan.

Kita dituntut untuk mentaati segala peraturan protocol kesehatan dengan sebaik mungkin, sebab hanya itulah cara satu-satunya agar secara jasmani kita bisa terhindar dari penyebaran  covid-19.

Kedua, ber”duc in altum” untuk memberi diri  seutuhnya  kepada yang Luhur.

Dalam kacamata iman kristiani, boleh kita katakan bahwa pandemi covid-19 merupakan sebuah tantangan iman. Lantas jika pandemi covid-19 adalah tantangan bagi  iman kita, maka apakah kita harus mendisintegrasikan diri dengan Tuhan.

 Tentu tidak, justru dalam situasi seperti inilah kita harus semakin bertolak ke tampat yang dalam untuk semakin bersatu dengan yang Luhur.

Ber”duc ini altum” (cf. Lukas. 5:4) adalah satu prinsip iman bahwa di tengah krisis yang krusial,  iman kita kepada yang Luhur harus semakin diteguhkan.

Meneguhkan iman dalam situasi yang krusial  Ini hanya bisa dilaksanakan  bila kita sungguh-sungguh percaya dan mau mengikuti kehendak Roh Kudus.

Roh Kudus dapat membawa kita untuk bersatu dengan yang Luhur. Dan persatuan itu hanya bisa terjadi melalui penyerahan diri kepada Tuhan dalam Ekaristi dan doa-doa.

Ketiga, Meningkatkan praksis hidup.                                          

Paulo Freire mengungkapkan  terminologi praksis sebagai aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Dalam iman kristiani aksi dan refleksi merupakan sebuah relasi yang tak dipisahkan. Refleksi tanpa aksi itu hanya mimpi begitu sebalikya aksi tanpa refleksi hanya halusinasi. 

Dalam kenyataan pandemi covid-19, Praksis hidup harus semakin ditingkatkan dan diwujudnyatakan. Sebab dengan mewujudkannya  kita dapat  bertahan dalam situasi apa pun. Hanya dengan praksis hidup yang baik, kita bisa kokoh di tengah gelombang  pandemi covid-19 ini.

Tiga hal di atas kiranya menjadi “atap” yang bisa menaungi, melindungi sekaligus menguatkan  disposisi iman kita di tengah pandemi covid-19 ini. Sebab, dalam situasi pandemi covid-19, kita tidak harus kehilangan seluruh dimensi hidup bahkan tidak harus kehilangan iman.

Sebagai manusia yang ber-intelectus alangkah baiknya kita mentaati dan melaksanakan segala peraturan yang telah diterapkan oleh pemerintah.

Tujuannya agar imunitas tubuh terjaga supaya kuat  dan tetap menjalin keharmonisan dengan sesama dalam menghadapi wabah pandemi covid-19. Selain daripada itu, mentaati dan melaksanakannya  merupakan ekspresi  kerendahan hati kita terhadap orang  lain.

 Sehingga dengan demikian, imun  tubuh kita tetap sehat dan iman kita  semakin  diteguhkan.