Seperti yang kita tahu, adanya pandemi Covid-19 ini memaksa kita untuk menutup sekolah dengan alasan untuk menghindari penyebaran virus.

Tentu saja, awalnya banyak orang beranggapan bahwa mengganti pembelajaran dari sekolah ke rumah adalah hal yang mudah. Guru memberikan tugas, kemudian para siswa mengerjakan tugas di rumah, kemudian setiap harinya tugas dikumpulkan. Selesai.

Tetapi, seperti aturan pembatasan-pembatasan lain yang berefek domino, penutupan sekolah pun pada akhirnya membuat banyak masyarakat kita tersadar bahwa ada masalah besar yang selama ini kita abaikan.

Di momen seperti sekarang kita baru mengetahuinya, yaitu: bagaimana menumbuhkan minat belajar anak dan bagaimana seharusnya peran orang tua supaya tidak melepaskan tanggung jawab mendidik anak begitu saja ke sekolah.

Permasalahan tentang bagaimana minat belajar anak yang rendah dan rasa tidak memiliki tanggung jawab orang tua ini tentu sangat miris. Ketika banyak orang yang membayangkan dan memikirkan tentang bagaimana kita mengubah cara pembelajaran secara online, bagaimana akses internet harus merata, tapi di lain sisi kita melupakan hal yang fundamental.

Tidak sekali saya mendengar keluh kesah orang tua tentang bagaimana mereka kebingungan untuk meminta anaknya yang masih sekolah dasar mengerjakan tugas sekolah yang diberikan gurunya di grup wali orang tua, atau bagaimana anaknya yang ketika kondisi normal, mereka anak anaknya bisa bangun pagi kemudian mandi dan penuh semangat untuk berangkat sekolah

Hari hari seperti sekarang justru menjadi waktu bermalas-malasan anak hingga tidak mau bangun pagi. Ada juga yang saking kebingungan untuk mengisi waktu luang anaknya, anaknya dibiarkan bermain dengan teman-temannya tanpa memedulikan anjuran social distancing, dan justru bermain berkelompok.

Itu tadi adalah permasalahan yang sering dialami orang tua yang memiliki anak sekolah dasar. Beda lagi dengan orang tua yang memiliki anak sekolah di tingkat menengah.

Jika para orang tua yang memiliki anak di tingkat sekolah dasar, keluhannya berbeda lagi, para orang tua lebih sering mengeluhkan anak-anak yang tidak bisa bangun pagi dan mengapa anak malas mengerjakan tugas dari sekolah. 

Para orang tua yang memiliki anak sekolah menengah justru risau melihat anak anaknya menatap gadget dari pagi hingga malam. Orang tua tidak tahu apa yang anaknya lakukan dengan gadget yang telah mereka belikan, entah apakah mereka sibuk mengerjakan tugas, ataukah bermain game dan menonton YouTube, atau mungkin streaming drakor.

Masalah itu belum lagi ditambah seperti bagaimana kemalasan beberapa guru yang memberikan soal kepada siswanya untuk dikerjakan di rumah yang mana semua pertanyaan-pertanyaan sederhana itu didapatkan oleh si guru ini juga dari dia mencari soal di internet. 

Tentu saja para murid pun karena terbiasa dengan search engine akan mencari jawaban di internet. Sehingga proses pembelajaran yang berlangsung adalah seperti ini: sang guru menyalin soal yang dia cari di internet, kemudian membagikan ke murid-murid. 

Kemudian para murid akan mencari jawaban di internet, lalu mereka salin, dan mereka berikan jawabannya ke gurunya. Selesai. Apakah seperti itu tujuan pendidikan 4.0?

Tentu saja keliru jika kita dari awal membayangkan pembelajaran di rumah di keadaan wabah ini sesederhana mengerjakan tugas di rumah. Selain merupakan sikap gegabah, juga membuat kita lupa akan hal yang dibutuhkan pendidikan hari ini.

Menumbuhkan rasa ingin tahu pada anak, dan menjadikan anak sebagai pembelajar tentu adalah tugas yang tidak mudah, tetapi akan lebih susah dan sulit diperbaiki ketika anak tumbuh dewasa dan tidak memiliki jiwa pembelajar sejati.

Dan tentu saja permasalahan seperti di atas sebenarnya tidak akan ada jika selama ini pendidikan kita bergerak di arah yang benar. Seperti yang kita bisa pikirkan, ketika anak sudah memiliki rasa ingin tahu yang besar dan memiliki jiwa pembelajar mereka dengan waktu luang di rumah akan berinisatif lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar.

Seperti membaca ulang setiap buku pelajaran yang sudah diberikan, mengerjakan soal-soal yang ada pada buku, atau bahkan mempelajari hal baru melalui Internet dan jika fasilitasnya ada, mereka akan dengan antusias belajar melalui bimbingan online. 

Mereka juga bisa membaca artikel ilmiah, menonton video pembelajaran di internet yang berkualitas serta media belajar online lain di beberapa media sosial yang sekarang mudah dan murah. Orang tua juga berperan dalam mengajak anaknya untuk tumbuh dan belajar bersama-sama. 

Tentu, dalam hal ini sang anak tidak melulu belajar akademik, orang tua juga bisa mengajari cara memasak, menanam, berkebun, dan menjelaskan tentang manfaat mempelajari hal baru. Dan jika sekarang kedua orang tua menerapkan bekerja dari rumah, tentu waktu orang tua menjadi lebih banyak dengan anaknya.

Dalam hal ini orang tua juga harus menunjukkan bagaimana mereka menjalani rutinitas baik sebagai suami istri yang dapat dijadikan contoh anaknya kelak seperti saling berbagi pekerjaan yang setara, hingga saling bantu dan tolong menolong sesama keluarga.

Tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak sangatlah penting. Selama ini orang tua kita tidak terbiasa membimbing anaknya dalam belajar dalam waktu yang lebih banyak dari biasanya dan masih banyak juga orang tua yang menganggap ketika anaknya dimasukkan ke sekolah maka tanggung jawabnya sebagai orang tua dalam hal mendidik sudah selesai.

Tentu saja itu anggapan yang keliru. Padahal seperti yang kita tahu, anak adalah peniru yang ulung. Tidak mungkin mengharapkan anak menjadi pembelajar sejati jika ketika anak penasaran dan ingin tahu pada suatu hal baru dan menanyakan ke orang tua. 

Justru orang tua malah skeptis dan meminta anaknya untuk cari tahu sendiri di internet dengan menyodorkan gadgetnya atau mungkin bahkan memfasilitasi gadget tanpa membimbing bagaimana menggunakan gadget yang maksimal.

Kita semua tentu berharap wabah ini cepat selesai supaya kita dapat menjalani aktivitas semuanya kembali normal, dan anak anak pergi ke sekolah dengan riang gembira.

Tapi, sebelum hari itu tiba, kita patut merenungkan apakah kita sebagai orang tua ingin anak kembali ke sekolah seperti sebelum terjadinya wabah dan menjalani aktivitas normal kembali karena kita memang benar benar muak terhadap wabah yang mematikan banyak nyawa dan melumpuhkan perekonomian. 

Atau apakah ini hanya bentuk dan respon dari ketidaksigapan, kemalasan dan ketidakberdayaan kita dalam mendidik dan mengasuh anak kita?