Hadirnya pandemi adalah peristiwa yang tidak bisa terelakkan dalam lingkungan kita sebagai masyarakat. Covid-19 akhir-akhir ini memberi nilai tambah pada jumlah yang terpapar. Karenanya masyarakat mengambil banyak tindakan dalam menghindari Covid-19, mulai dari mencari informasi dari media sosial serta berkonsultasi kepada para ahli.

Namun apa yang tampak, jumlah yang bertambah mengenai Covid-19, menunjukkan tindakan yang sangat bertolak belakang. Keresahan dan ketakutan dari hadirnya pandemi membuat masyarakat tak mampu menggali informasi yang akurat dalam menanggapi Covid-19. Hal ini dikarenakan ketakutan yang berlebihan, membuat masyarakat tak memiliki perhitungan dalam mencuci informasi yang beredar.

Pandemi yang menjadi polemik di Aceh Tengah menjadi pusat perhatian pemerintah akhir-akhir ini. Dari informasi dari gugus tugas Covid-19 dengan bertambahnya kasus Covid-19 dengan total 4 orang, dengan 3 orang tenaga kesehatan, 1 orang anggota TNI. 

Hal ini membuktikan lingkungan yang dihinggapi masyarakat kini tak lagi cukup aman. Bahkan karenanya banyak yang menelan begitu saja informasi sembarang dan kemudian mengecap peristiwa itu secara egois dan tak berdasar.

Dari hadirnya pandemi tersebut membuat pola masyarakat yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Yang pada awalnya masyarakat sangat percaya diri dalam aktivitas sosialnya. Kemudian masyarakat mulai menarik diri dari setiap aktivitas sosialnya, sebagai salah satu cara menghindari covid 19. Baik dalam berbagai bidang mulai dari produktivitas ekonomi dan strategi sosial pada umumnya.

Namun yang terlihat bukan karena ketepatan pola tindakan masyarakat dalam menghadapi corona, tapi asumsi-asumsi masyarakat dalam menilai Covid-19 itu sendiri. Asumsi-asumsi yang lahir tak hanya hadir dari asumsi pribadi yang dangkal mengenai Covid 19, namun juga disebabkan oleh informasi-informasi yang tak memiliki dasar yang kuat dalam mengangkat topik mengenai pandemi.

Tak berhenti di situ, ketidakmampuan dalam mengolah informasi juga hanya akan membuka peluang akan lahirnya tindakan-tindakan yang di luar pengetahuan.

Yang sebelumnya dengan hadirnya kebijakan social distancing lambat laun tidak dapat membendung ledakan kontak sosial yang terjadi pada masyarakat. Hal ini bukan sesuatu yang tak berdasar.

Berbincang tentang sosial tak hanya berbincang mengenai hubungan perseorang atau kelompok, namun juga mengenai tata cara perekonomian masyarakat. Bagi seorang petani pasti lebih memprioritaskan cangkul daripada teknologi yang menjadi genggaman saat ini sebagai ladang produksi. Begitu juga beberapa bidang pekerjaan lainnya. Karenanya, kontak sosial tak dapat dihindari di masa pandemi.

Oleh karena itu, saat ini kita beralih kepada protokol “new normal”, bahwa kita selaku masyarakat diizinkan melakukan kontak sosial namun harus menggunakan peralatan yang dapat menghindari diri dari Covid-19. Hal tersebut diklaim terlalu ekstrem jika hal itu sebagai upaya dari tak dapat membendungnya kontak sosial masyarakat. Hal tersebut hanya akan membuat peluang yang besar bagi penyebaran Covid-19.

Oleh karena itu, hal tersebut hanya diklaim sebagai tindakan “Upaya Berjudi dengan Pandemi”. Namun di sisi yang lain, hal tersebut dinilai sebagai upaya meminimalisasi penyebaran pandemi tanpa menghambat proses sosial masyarakat.

Juga tentunya hal ini sangat memengaruhi pasar. Bagi pelaku perdagangan, kiranya hal ini sangat mengkhawatirkan. Di lain sisi, kontak transaksi jual beli secara konvensional membuat kekhawatiran lebih, baik bagi pembeli maupun penjual.

Yang ditakutkan dari kekhawatiran tersebut adanya tindakan pemberhentian atau mogok sementara dalam perdagangan. Hal ini menjadi tantangan baru dalam diri masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Melihat berita yang diangkat oleh lintasgayo.com mengenai seorang wanita paruh baya yang menangis histeris lantaran tak terima untuk rapid test dan penegasan untuk mengisolasi diri, hal ini dilatarbelakangi bahwa sebelumnya sang suami teridentifikasi positif Covid-19.

Menjadi bukti bahwa Covid 19 tak hanya menyerang sistem kesehatan, namun juga sisi psikologis perseorangan dan masyarakat. Bahkan orang yang teridentifikasi seolah-olah dicap terkena kutukan. Karenanya, kita harus menghilangkan asumsi-asumsi yang mengancam, serta membuat masyarakat merasa tenang dalam menghadapi tantangan Covid-19.

Mangangkat tulisan dari Dokter IS dari RSUD muyang kute yang bertema “Melawan Stigma”, kiranya ini patut diajungi jempol. Di lain sisi, agar membuat masyarakat tenang dalam menghadapi Covid-19, wacana yang dibawa memberikan ruang bagi masyarakat dalam menganalisis tindakan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi Covid-19. Di saat yang bersamaan, hal tersebut memupuk banyak harapan bagi orang-orang yang teridentifikasi positif Covid-19.

Seharusnya masyarakat lebih percaya diri dalam menghadapi Covid-19. Tentunya harus diiringi dengan menaati protokol-protokol dengan benar dan tepat sasaran, seperti yang telah dianjurkan oleh pihak kesehatan.

Tak bisa dimungkiri, hadirnya pandemi ini memicu banyak ketakutan. Karenanya, dalam menghadapi pandemi ini, kita selaku masyarakat harus tetap tenang dalam menanggapi Covid-19. Dan juga memberikan motivasi bagi yang teridentifikasi positif agar dapat tetap tenang dan tegar dalam melakukan rehabilitasi kesehatan tanpa menambah beban pikiran mereka.