“Hari-hariku terbuat dari Innalillahi”, renung Jokpin dalam selarik sajaknya. Belakangan memang Indonesia sedang kelimpungan dalam menghadapi mutasi terbaru dari virus Covid-19 yang dikategorikan sebagai delta. Mutasi ini jauh lebih berbahaya dengan tingkt transmisi sebesar 50% dari mutase Alpha. Berdasarkan penelitian Whole Genome Sequencing (WGS) pada 20 Juni 2021, sebesar 76% didominasi oleh varian delta. Buntut Panjang dari sekuensi itu ialah kolaps dan krisis kesehatan masyarakat sekaligus menampakkan kegagapan pemerintah dalam menyelenggarakan jaminan kesehatan mayarakat sesuai amanat UUD 1945.

Implikasi logis dari data-data diatas dalam kacamata realitas sosial di masyarakat nampak dalam fenomena-fenomena frasa Innalillahi yang belakagan terpampang dimana-mana; media sosial, akun-akun resmi institusi, kabar dari tetangga sebelah yang diantara orang-orang tersebut sebagian mungkin merupakan kerabat, rekan kerja, dosen, keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Innalillahi sebagai semiotika, menampakkan wajahnya pada orang-orang yang putus asa mencari tabung oksigen yang menurut data PATH Covid-19 Oxygen Needs Tracker menyatakan bahwa kebutuhan oksigen di Jakarta, Jawa Barat dan Banten sekarang 750 hingga 800 ton per hari, padahal dalam waktu normal hanya sekitar 150-200 ton. Berapa banyak orang yang tidak tertolong karena kelangkaan oksigen tersebut dan berapa banyak orang yang putus asa menjemput ajal oleh karena pesimis akan mendapat tempat dan dirawat di Rumah Sakit karena sistem kesehatan Indonesia kolaps.

Penggambaran tragedi tersebut dinarasikan dengan getir melalui reportase dari project multatuli yang diberi judul “Kami Sesak Napas: Hilang Nafkah, Hilang Nyawa di Kampung Kota Jakarta Saat Wabah Covid-19”. Dimana dalam repotase tersebut dituliskan seorang sopir bajaj tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri ketika memarkir bajajnya, atau seorang ibu sedang mencuci baju di rumahnya ketika ia juga tiba-tiba jatuh lalu meninggal dunia.

***

Suhu Zuan Xiu dalam perbincangannya bersama Habib Ja’far mengatakan: Sang Buddha memberikan nasihat kepada seluruh yang hidup untuk 1. Jangan berbuat jahat/buruk; 2. Tambahlah kebajikan; 3. Sucikan hati dan pikiran. Bagaimana memahami ajaran/nasihat Sang Buddha dalam masa yang penuh ketidakpastian seperti pandemi ini?

Sang Buddha mengajarkan jangan berbuat jahat. Nasihat ini dapat dimaknai sebagai faktor internal. Dorongan untuk lebih mengenal diri sendiri. Rasa syukur atas apapun (kesadaran akan konsekuensialisme), dan mindfulness (keadaan pikiran yang sadar dan menaruh perhatian penuh terhadap apa yang terjadi dalam diri kita dan sadar dengan apa yang sedang kita lakukan pada saat sekarang). Kebijaksanaan praktis ini bisa dimaknai sebagai menerapkan protokol kesehatan; memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, & menjaga jarak. Anjuran tetap dirumah itu sifatnya fakultatif, maka utamanya adalah menerapkan semaksimal mungkun prokes.

Apakah dengan tidak berbuat jahat cukup? Tidak. Maka Buddha punya ajaran tambahlah kebajikan. Setelah kita bersyukur dan lebih mengenal diri sendiri, semampu mungkin kita diwajibkan secara moral untuk menolong orang lain. Sederhananya, menerapkan prokes juga bisa ditambah dengan kesadaran akan vaksinasi. Kesadaran vaksinasi ini timbul dari pengetahuan konseptual tentang vaksin dari rujukan-rujukan dan data-data yang valid secara saintifik. Usaha yang bisa dilakukan selain itu ialah mengajak orang-orang terdekat untuk melakukan vaksin. Vaksin pada tahap ini merupakan dialektika antara jangan berbuat jahat dan tambahlah kebajikan. Disatu sisi, vaksin berfungsi untuk menciptakan imun kita terhadap virus Covid-19 sementara itu di sisi lain, vaksin juga berguna untuk bisa menciptakan herd-immunity jika prasyarat populasi tertentu terpenuhi.

Setelah kedua hal tersebut dirasa sudah terpenuhi maka kata Sang Buddha, tahap penentunya adalah sucikan hati dan pikiran. Buddha punya ajaran untuk jangan berbuat jahat, lalu tambahlah kebajikan. Maka dalam siklus ini, manusia diwajibkan untuk terus berkontemplasi bahwa segala perbuatannya itu harus dilandasi oleh hati dan pikiran yang suci. Tidak mengharapkan pujian atau bahkan imbalan apapun. Bahwa segala perbuatan harus dilandasi oleh kesukarelaan dan tanpa pamrih, mensucikan hati dan pikiran juga bisa bermakna welas asih dan kemurahan hati.

Dalam perluasannya saya kira, sucikan hati dan pikiran, dapat dimaknai sebagai keadaan dimana individu memasuki fase untuk terus menaklukan ego nya demi menapaki jalan ke-Buddha-an. Artinya ditahap ini, seorang individu sudah mulai memikirkan bagaimana dirinya bisa bermanfaat bagi orang kebanyakan. Intelektualisme-etis atas sucikan hati dan pikiran dalam konteks Indonesia tercermin dalam gerakan inisiatif warga negara dalam laman wargabantuwarga.com, jurnalisme yang mengutamakan masyarakat rentan dalam situasi pandemi seperti project multatuli, serta upaya-upaya lain dalam rangka menaklukan ego-sentris dan merajut asa kemanusiaan.

Diluar dari konteks pemahaman saintifik mengenai covid, mungkin banyak yang mempertanyakan mengenai apakah covid itu sendiri sesuatu yang nyata atau bahkan vaksinasi merupakan akal-akalan bisnis, micro-chip dlsb. Satu-satunya jalan untuk mengkonfirmasi pertanyaan tersebut memang melalui telaah dan penelitian sains. Namun, kendatipun enggan mempelajari sains, maka kita bisa memetik pelajaran dari Sang Buddha melalui alegori.

Saat itu, Buddha menggenggam segenggaman daun, lalu ditanyakan pada siswanya. “Daun yang ada di genggaman saya, dengan daun yang ada diluar genggaman tangan saya. Lebih banyak mana?” Jelas bahwa para siswa tersebut akan menjawab lebih banyak daun diluar. Alegori ini bermakna bahwa masih banyak ajaran yang memang masih bisa dijadikan sebagai pedoman hidup, mengutip Suhu Zuan Xiu. Namun secara konteks yang berbeda apa makna lainnya? Saya kira alegori ini bisa dimaknai bahwa pengetahuan kita tentang dunia secara keseluruhan, itu hanya sebatas genggaman daun di tangan. Dapat dihitung dan sedikit sekali dibanding dengan pengetahuan yang ada di luar sana.

Maka dari itu, kita perlu sikap rendah hati bahwa pada azaznya kita hanya mengetahui hal-hal yang sedikit sekali. Secara praktis, tidakkah lebih mudah untuk berempati daripada membenarkan ego sendiri dengan teori konspirasi. Hari ini, saya dan keluarga saya serta kerabat saya sehat, kendatipun keluar rumah, lalu serampangan mencapai kesimpulan bahwa covid itu tidak ada. Tanpa sekalipun mempertimbangkan bahwa keluarga dan sanak saudara orang lain satu per satu tumbang karena covid, fasilitas kesehatan kita kritis.

Melalui ajaran Sang Buddha, saya kira kita diajak untuk menilik lagi lakon kita apakah sudah sesuai dengan kebijaksanaan praktis tentang 1. Jangan berbuat jahat/buruk; 2. Tambahlah kebajikan; 3. Sucikan hati dan pikiran.

Sengaja saya pikir dalam tulisan ini untuk menguatkan peran kita masing-masing dalam seting warga bantu warga dan tidak sedikitpun mengkritik pemerintah. Karena pada dasarnya, kritik paling lantang untuk pemerintah adaah ketiadaan kritik itu sendiri, karena masing-masing warga negara sibuk memikirkan apakah besok dia makan atau tidak, atau apakah besok dia hidup atau tidak.


Oleh: Yordan Elang

Ilustrasi foto: Willy Kurniawan (Reuters)

Catatan:

Penulis bukan penganut ajaran Buddha, serta buah pikiran atas konsep-konsep dasar dari ajaran Buddha diambil dari percakapan Habib Husein Ja’far dan Suhu Zuan Xiu. Penulis melihat ajaran Buddha tersebut dari sisi sekuler. Tentu banyak kekurangan. Apabila banyak kritik dan kesalahan, dengan rendah hati penulis mohon maaf serta bisa menghubungi penulis via surel: [email protected]