Sejak virus corona muncul di kota Wuhan, pada bulan Desember tahun 2019, seluruh dunia gempar akan kehadirannya. Beragam anjuran pemerintah mulai dikeluarkan misalnya dengan melakukan program work from home dan study from home. Tujuan dari program ini sederhana tapi bermakna, memutus rantai pandemi covid-19. Selain itu pandemi ini memberikan banyak sekali dampak yang bisa kita saksikan bersama-sama. Secara khusus dampak pandemi bagi mereka yang bekerja di bidang pariwisata.

Sektor Pariwisata terkena dampak

Seluruh pekerjaan pastilah memiliki suatu sumber dayanya masing-masing. Guru tentu bisa dikatakan sebagai guru jika ada seorang murid yang belajar kepadanya. Dokter barulah dikatakan sebagai seorang dokter jika ada pasien yang ia rawat atau sekurang-kurangnya ia disibukkan untuk meneliti suatu hal, tapi toh demikian, itu semua dilakukan dengan tujuan untuk kebaikan para pasein yang adalah manusia. Dan pada kasus ini, kita mengetahui bahwa para pekerja wisatawan tentulah sangat membutuhkan para wisatawan yang mampir dan berkunjugan di tempat wisatanya.

Kondisi memang sangat tidak menguntungkan. Rasa-rasanya terjadi suatu efek domino. Ketika satu aspek kita menguntungkan maka ada satu aspek lainnya yang terkena imbasnya. Pada masa ini kita sangat memperhatikan dengan sungguh pembatasan hubungan sosial di dalam masyarakat untuk meningkatkan kesehatan namun di sisi lain kita kehilangan banyak hal, salah satunya mata pencaharian dari masyarakat.Pariwisata merupakan aspek yang menitikberatkan pada kunjungan wisatawan. Keberadaan wisatawan memberi nafkah bagi para pekerja di bidang pariwisata. Sebab kunjungan wisatawan ini menjadi sumber utama pendapatan dari paka pekerja wisata. Lantas bagaimana keadaan kunjugan wisatawan di masa pandemi seperti ini?

Berdasarkan data yang diperoleh penulis, terdapat penurunan kedatangan wisatawan mancanegara di Jawa Timur. Badan Pusat Statistik Jawa Timur, Dadang Hardiwan, menyatakan bahwa terjadi penurunan sebesar 83,32% kedatangan wisatawan mancanegara yang datang ke Jawa Timur melalui Bandara Juanda. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, amat kentara suatu perubahan drastis grafik pengunjung di daerah Jawa Timur ini. Pada tahun 2019, tepatnya pada bulan Januari -November, diketahui bahwa di Jawa Timur terdapat 223.353 kunjungan wisatawan asing di provinsi ini, namun pada tahun 2020 tepatnya juga pada bulan Januari-November hanya terdapat kurang lebih 37.257 wisatawan asing yang datang di Jawa Timur.

Lalu secara lebih terperinci jumlah kunjungan wisatawan itu biasanya meroket pada masa liburan, misalnya pada bulan Juli dan Agustus. Pada tahun 2018 misalnya, diketahui bahwa rata-rata jumlah kunjungan wisatawan pada waktu itu bisa mencapai 33.000 kunjungan per bulannya. Namun pada masa liburan bersama dengan pandemi seperti ini, hanya terdapat 2.434 kunjungan wisatawan. kunjungan -kunjungan itu pun antara lain berasal dari negara Malaysia sebanyak 11 kunjungan, Singapura 11 kunjungan, China 5 kunjungan, Amerika Serikat 3 kunjungan, dan dari negara lain 18 kunjungan, sisanya yaitu sebesar 2.386 adalah kunjungan yang dilakukan oleh para warga negara Indonesia sendiri.

Memang dampak virus korona ini beraneka ragam dan membuat hampir semua orang gelisah karenanya. Khususnya di sini, penulis hendak merefleksikan tentang fenomena yang dialami oleh para pekerja pariwisata. Mari kita analisa!

Menurunnya sumber daya ini tentu saja akan berimbas pada pengurangan jumlah pegawai pariwisata. Seperti yang sudah disampaikan di atas bahwa ada rencana untuk memerhatikan wisatawan domestik di masa-masa seperti ini, tetapi kendati demikian bukan berarti dengan melakukan demikian maka dapat menggantikan keuntungan yang didapat seperti yang sebelumnya. Kita harus memahami bahwa betapa besar jumlah pengungung wisatawan mancanegara dan betapa besar keuntungan yang bisa didapatkan yang juga bisa menghidupi beberapa pegawai pariwisata. Hilangnya sumber daya yang besar pada bidang ini tentu akan berdampak pada efisiensi kepegawaian di sektor pariwisata. Masalah baru pun muncul bahwa terdapat pengurangan pegawai dengan jumlah yang sangat signifikan.

Di sisi lain kita perlu memerhatikan dampak perekonomian. Roda perekonomian tidaklah berpusat pada satu dimensi saja, itu selalu berkaitan dengan beragam dimensi yang lain. Jika kita amati persoalan kita di atas, dampak dari minimnya pengunjung wisatawan akan mempengaruhi beragam dimensi pekerjaan atau mata pencaharian lain.

Misalnya ketika sektor pariwisata mengalami kemunduran pengunjung maka akan berdampak juga pada minimnya pengunjung restoran di tempat-tempat wisata, lalu minimnya pengunjung di tempat-tempat penginapan sekitar tempat wisata, juga hilangnya mata pencaharian bagi mereka yang bekerja sebagai tenaga transportasi umum di tempat pariwisata. Karena minimnya wisatawan yang berkunjung di salah satu tempat wisata inilah bisa kita saksikan betapa besar kerugian yang dialami. Macetnya roda perekonomian di dalam satu dimensi bisa berimbas ke seluruh aspek-aspek lain.

Langkah awal perubahan

Lalu bagaimana kita menangani hal demikian? Akankah kita tetap tinggal diam?

Tentu saja kita harus bertindak, bagaimana caranya? Kita harus memutus betul masalah tentang penyebaran virus corona ini. Sebagaimana yang kita tahu bahwa masalah yang sedemikian besar ini muncul karena besarnya orang yang terpapar pandemi ini. Maka cara satu-satunya untuk mengembalikan keadaan seperti sediakala adalah dengan memutus rantai pandemi ini. Memang ada banyak teori dan pendapat yang menyatakan bahwa virus ini akan tinggal bersama dengan manusia untuk jangka waktu yang panjang. Namun sekalipun demikian bukan berarti kita harus menyerah dan lalai begitu saja dengan protokol kesehatan yang sudah dianjurkan oleh pemerintah dan tenaga medis.

Masalah ini tidak akan pernah selesai selagi kita hanya diam begitu saja. Sebagai makhluk sosial kita harus sadar betul peran kita di dalam masyarakat. Kita diajak untuk menjadi orang yang tidak egois dan saat sama memedulikan kepentingan orang lain. Besarnya masalah ini juga bisa jadi disebabkan ketidaktaatan kita atau kelalaian kita dalam menjaga diri kita dan menjaga diri sesama kita.

Maka marilah kita bersama-sama membuat suatu tradisi kesehatan yang baru, yang mana itu menjaga kesehatan kita juga kesehatan orang lain. Tidak berkeliaran di luar rumah untuk urusan yang tidak perlu dan mendesak. Menaati protokol kesehatan dengan melaksanakan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan) adalah upaya-upaya sederhana yang bisa kita lakukan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama kita.

Secercah harapan di saat kelamnya suasana

Di satu sisi kita patut bersyukur sebab dengan adanya pembatasan sosial yang dianjurkan oleh pemerintah sebagaimana yang sedang terjadi saat ini, kita tahu bahwa rantai pandemi covid-19 ini perlahan mulai terputus. Di dalam bidang kesehatan pun semakin menunjukkan suatu harapan yang baik yakni dengan adanya vaksin yang diperuntukan oleh seluruh masyarakat. Pada masa-masa seperti ini juga muncul ada beberapa momen berharga di mana orang-orang dengan beragam tindakannya berusaha untuk membantu mereka yang kesulitan secara ekonomi. Di sinilah adanya secercah cahaya yang bisa kita saksikan bersama terkait dengan adanya pandemi di masa ini.

Indonesia memang memiliki banyak sekali tempat wisata yang sangat menarik minat wisatawan mancanegara dan domestik. Bidang Pariwisata biasanya memberikan hasil yang besar bagi pertumbuhan ekonomi di negara ini. Misalnya pada tahun 2019, sektor pariwisata berhasil memberikan sumbangsih sebesar 1.200 Triliun bagi pendapatan negara ini. Demikianlah di masa seperti ini, betapa besar kerugian yang dialami oleh semua orang juga oleh negara ini.

Penulis merasa bahwa memang tidak banyak hal yang bisa kita lakukan secara langsung. Sebab adanya beragam anjuran kesehatan yang mana memang membatasi kita untuk terus bergerak. Namun kendati demikian, di masa seperti ini hendaknya juga kita tidak kehilangan harapan untuk bangkit kembali di tengah usaha yang sempat gagal. Masa-masa tenang selama di rumah adalah juga waktu yang penting untuk kita memunculkan banyak ide kreatif bagi dunia pariwisata berikutnya.

Memunculkan suatu area bermain yang baru dengan sangat memperhatikan protokol kesehatan dapat menjadi sasaran ide-ide kreatif di masa seperti ini. Mencoba usaha untuk mendukung gerakan pemerintah dalam pembatasan sosial ini juga bisa menjadi ide-ide cemerlang yang bisa dilakukan. Misalnya pembuatan masker dengan jenis yang unik, membuat faceshield/pelindung muka dengan gaya yang unik yang juga disesuaikan dengan tempat wisata kita dapat menjadi sumber ide untuk pengembangan ide kreatifitas untuk dimensi pariwisata ke depannya.

Kemudian di waktu senggang seperti ini kita juga bisa membuat catatan sejarah dari tempat wisata yang kita tangani kemudian diunggah di situs-situs pariwisata. Membuat v-log tentang nilai-nilai religi dan historis dari tempat wisata tentu juga akan membangun minat para warga yang sedang bosan di rumah. Itulah cara-cara yang bisa penulis sarankan untuk dilakukan oleh para pekerja di sektor pariwisata di masa seperti ini.

Demikianlah hal yang penulis paparkan untuk menjadi keprihatinan kita bersama dan menjadi roda penggerak hati nurani kita untuk semakin meningkat rasa kepedulian kita terhadap sesama kita. Bukanlah sesuatu yang sulit seharusnya jika di dalam diri dan perasaan kita sama-sama menyadari kepentingan ini sebagai suatu kebaikan bersama yang harus dijunjung tinggi.

Maka marilah kawan-kawan, dimanapun kita berada, bersama-sama menjunjung tinggi nilai kepedulian terhadap saudara-saudara kita di masa sulit seperti ini. Hanya dengan memperhatikan diri kita agar tidak melakukan tindakan sembrono (pergi ke luar rumah tanpa memakai masker misalnya) dapat menjadi peluang bagi kebaikan bersama untuk kedepannya. Satu langkah baik niscaya akan menghasilkan langkah-langkah baik selanjutnya.