Apa benar dengan hadirnya virus covid-19 ini menjadikan sebuah bentuk ujian bagi para pustakawan?

Ya, memang benar.

Dengan adanya wabah covid-19 ini, segala aktivitas dan fasilitas publik di seluruh dunia terpaksa ditiadakan dalam artian ditutup untuk sementara, salah satunya yaitu perpustakaan. Hal itu menjadikan sebuah bentuk ujian bagi seluruh masyarakat di dunia terlebih masyarakat Indonesia dan khususnya bagi pustakawan perguruan tinggi yang ada.

Mengapa begitu?

Seorang pustakawan adalah manusia yang up to date, karena seorang pustakawan harus mengetahui informasi dan teknologi yang terbaru dan sedang berkembang atau yang sedang trend di masyarakat. Sehingga apabila ada pemustaka yang membutuhkan informasi, maka pustakawan dapat memberikan informasi dengan tepat.

Pustakawan juga selalu dituntut untuk menjadi informan yang terpercaya. Karena dengan kondisi pandemi yang saat ini kita hadapi, membuat penyebaran informasi yang ada di media sosial menjadi semakin sulit untuk difilter, kita akan bingung mana informasi yang hoax dan informasi yang benar-benar valid. Oleh karena itu, pustakawanlah yang berperan dalam memilah informasi sebelum disebarluaskan kepada masyarakat agar informasi yang disajikan terpercaya.

Saat ini pustakawan juga harus mengubah sistem layanan mereka yang dulunya semua pekerjaan bisa dikerjakan secara langsung di perpustakaan, berubah menjadi layanan secara online agar tetap bisa melayani pemustaka. Seorang pustakawan juga harus bisa bekerja secara kreatif untuk mengembangkan perpustakaan agar tidak ditinggalkan oleh pemustakanya.

Lalu, dengan adanya perubahan sistem pelayanan secara daring apakah menimbulkan problem bagi pustakawan? Jawabannya tentu saja iya.

Permasalahannya seperti adanya beberapa kegiatan yang bisa dilakukan oleh pustakawan secara daring atau online, tapi juga ada kegiatan yang dalam pengerjaannya harus bertatap muka secara langsung, sehingga ada beberapa pekerjaan yang sangat disayangkan tidak bisa dikerjakan karena adanya pembatasan fisik yang melarang kita semua untuk datang mengunjungi perpustakaan.

Kegiatan-kegiatan yang terhalang tersebut seperti shelving koleksi buku tercetak, perbaikan dan pelestarian koleksi buku tercetak, serta peminjaman dan pengembalian atau sirkulasi koleksi buku tercetak yang tidak bisa dilakukan. Saat ini perpustakaan tidak lagi dapat memberikan layanan dengan baik, oleh karena itu lembaga perpustakaan khususnya para pustakawan diharapkan untuk bisa melakukan inovasi layanan perpustakaan.

Adanya Covid-19 ini mengharuskan masyarakat untuk cepat beradaptasi dengan pola hidup yang baru seperti menjadi berkurangnya kegiatan bertatap muka, sehingga diharapkan masyarakat bisa pandai untuk memanfaatkan gadget dengan sebaik-baiknya untuk tetap bisa menggali informasi secara virtual.

Tidak hanya masyarakat yang harus beradaptasi dengan hal baru, para pustakawan harus mulai belajar untuk terbiasa dan beradaptasi dengan hal-hal yang berhubungan dengan teknologi agar pustakawan tetap bisa melayani pemustakanya secara optimal dalam kondisi pandemi saat ini.

Pustakawan juga diharapkan dapat memanfaatkan teknologi informasi yang selalu berkembang cepat agar informasi yang tersedia juga selalu up to date. Dengan begitu pemustaka juga akan merasa senang apabila perpustakaan dapat melayani kebutuhan pemustaka akan informasi yang mereka butuh kan.

Adanya perubahan pelayanan perpustakaan ini ternyata menimbulkan beberapa dampak pada psikologi pustakawan, seperti adanya stres dalam bekerja karena tidak semua pustakawan memiliki potensi dalam penggunaan teknologi sebagai pelayanannya. Dengan begitu akan muncul dampak stres pada pustakawan dan tentunya juga akan berdampak pada penurunan kondisi fisik dan mentalnya.

Penurunan kondisi pustakawan dapat mempengaruhi kondisi fisik, psikologi dan perilaku pustakawan dalam melaksanakan pekerjaannya. Menurunnya kondisi mental pustakawan ini akan berdampak juga pada semangat kerja pustakawan. Pustakawan harus bisa bekerja dengan baik agar tujuan dan fungsi perpustakaan dapat terealisasi.

Lalu, adakah tips untuk pustakawan dalam mengantisipasi stres kerja? Tentu ada.

Yang harus di prioritaskan yaitu pustakawan harus mampu mengontrol dirinya agar stres yang terjadi juga dapat diantisipasi agar tidak membahayakan dirinya sendiri, rutinitas yang bisa dilakukan contohnya yaitu dengan melakukan aktivitas yang penuh tawa agar bisa melupakan situasi dan kondisi yang kurang menyenangkan ini untuk sementara, kemudian juga bisa melakukan aktivitas lain yang pastinya bisa membuat suasana hati menjadi senang agar bisa melupakan masalah yang sedang dihadapi untuk sementara waktu, serta tetap berpikir positif dan yakin bahwa kecemasan akan hilang dan keadaan akan bisa kembali pulih seperti dulu. Dengan seperti itu pustakawan akan menjadi lebih semangat lagi dalam bekerja sehingga terjadinya stres kerja dapat diantisipasi.

Menjadi pustakawan memang tidak mudah, banyak aral rintangan yang harus dihadapi. Tapi hal tersebut harus menjadi suatu motivasi dan cambuk agar pustakawan dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola sebuah perpustakaan dalam upaya meningkatkan semangat berliterasi masyarakat.

Pesan untuk para pustakawan...

Jika tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukan hal-hal kecil dengan cara yang hebat.