Bagaimana pendapat Anda jika mendengar kata di atas? Takut? Bosan? Muak? Tenang, saya yakin semua yang membaca tulisan ini merasakan hal yang sama.

Virus yang bahkan ketika disebutkan namanya saja, sudah dapat menggemparkan dan menjadi ancaman yang menghantui masyarakat. Berada di dalam sel dan terbelenggu karena slogan 'di rumah aja', sudah tidak ada bedanya.

Pandemi Covid-19 telah berhasil membawa perubahan besar bagi tatanan kehidupan kita, baik di masyarakat, lingkungan sekitar, bahkan fasilitas umum yang tersedia. Tidak dapat dimungkiri bahwa pandemi Covid-19 ini bagaikan mimpi buruk, iya, tidak ada yang mengharapkan pandemi ini terjadi. Segala kegiatan mau tidak mau harus mengalami perubahan dan kita harus mulai beradaptasi dengan keadaan baru. Kalau bahasa Jawanya sih ‘sumpek’, kemana-mana harus pakai masker, keluar rumah pun dilarang, berkumpul dengan kerabat harus jaga jarak, ditambah lagi harus pakai hand sanitizer berulang kali, tetapi memang itulah realitanya. Intinya jangan mengharapkan adanya kebebasan di masa pandemi.

Di saat seperti ini, hal yang paling kita butuhkan adalah informasi. Seperti yang kita ketahui, informasi menjadi kunci keberhasilan masyarakat. Mengapa demikian? Semakin kaya infomasi, semakin luas wawasan kita, kira-kira begitulah mudahnya. Siapa sih yang tidak membutuhkan informasi. Mau makan, harus mencari informasi terlebih dahulu di mesin pencarian dengan kata kunci ‘rekomendasi restoran’ atau sekadar mencari resep masakan, mau mengerjakan tugas, kalau tidak pakai buku, yaa.. biasanya sih cari jawaban lewat mbah Google. Bahkan, kita juga tidak terlepas dari mencari update berita seputar Covid-19, benar apa benar?

Begitulah, rasa ‘haus’ masyarakat akan informasi dan keinginan untuk memperluas pengetahuan tidak dapat dibendung. Berbagai usaha pasti dilakukan untuk mendapatkan informasi, mulai yang bersumber dari buku, internet, bahkan mulut ke mulut.

Namun, ingatkah Anda jika ada lembaga infomasi bernama perpustakaan. Rasanya semua orang pasti tahu perpustakaan itu apa. Ada yang mengatakan gudangnya ilmu, ada juga yang berpendapat habitatnya si ‘kutu buku’, tidak jarang ada yang memanfaatkan tempat ini hanya untuk menumpang Wi-Fi gratis. Definisi perpustakaan sendiri akan saya serahkan pada Anda. Hal yang pasti adalah perpustakaan sebagai sebuah lembaga sudah berkewajiban menjadi penyedia informasi bagi masyarakat.

Bukan rahasia apabila perpustakaan selalu memegang peranan penting, tidak terkecuali di masa pandemi ini. Mulai dari kalangan anak-anak hingga lansia, sepertinya dapat kita jumpai di perpustakaan, tentunya dengan bacaan yang berbeda-beda. Akan tetapi, eksistensi dari perpustakaan sendiri sebenarnya perlu dipertanyakan. Seperti yang kita ketahui mencari informasi sudah dapat dengan mudah diakses melalui internet tanpa harus bersusah payah mengunjungi perpustakaan. Belum lagi, pada masa pandemi sangat tidak mungkin jika kita memaksakan diri untuk pergi ke perpustakaan. Adanya zona hijau, kuning, dan merah pun turut andil menjadi kendala utama perpustakaan dalam memberikan aksesnya. Agaknya terdengar telalu egois apabila perpustakaan memaksakan diri untuk melayankan jasanya saat kondisi pandemi.

Ya, kalau masyarakat memang dilarang ke perpustakaan, bukankah jauh lebih baik jika perpustakaan yang berusaha mengubah diri demi masyarakat?

Menurut pendapat saya, benar demikian.

Perpustakaanlah yang harus dapat menyesuaikan dengan keadaan, menjadi lembaga yang fleksibel dan dapat bertahan meskipun ada penghalang. Kalau boleh blak-blakan, bisa dikatakan sebelum pandemi saja minat masyarakat untuk membaca di perpustakaan saja sudah rendah, apalagi dengan adanya pandemi saat ini, perpustakaan pun semakin terlihat ‘gaib’ dibuatnya.

Bersyukur kita telah hidup di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Anda pasti bertanya, apa hubungannya?

Tentu ada hubungannya.

Perkembangan teknologi dan informasi saat ini dapat menjawab pertanyaan yang mungkin terbesit di otak Anda, yakni mau dibawa ke mana nasib perpustakaan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, saat ini orang-orang cenderung menyukai segala sesuatu yang instan, mudah, dan praktis dalam mencari informasi. Hal tersebut tentu dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi.

Melihat fakta di atas, perpustakaan harus mempertimbangkannya.

Pandemi Covid-19 menuntut segala bentuk kegiatan dilaksanakan secara daring, baik bagi pelajar, pekerja kantoran, dan sebagainya. Memang tidak mudah, akan tetapi itulah satu-satunya jalan aman yang dapat ditempuh.

Kembali ke perpustakaan. Kegiatan perpustakaan pun mau tidak mau juga harus dilakukan secara daring, tetapi bagaimana caranya? Saat ini sudah umum istilah perpustakaan digital. Perpustakaan yang koleksinya tersedia secara elektronik dan pelayanannya dilakukan tanpa kontak langsung. Digitalisasi inilah yang merupakan bentuk penerapan perkembangan teknologi informasi.

Keberadaan perpustakaan digital dapat membantu mengembalikan titel perpustakaan sebagai lembaga informasi, yang mungkin sempat pudar kerena pandemi. Segala kegiatan seperti peminjaman dan pengembalian buku dapat dengan mudah dilakukan melalui perangkat elektronik yang terhubung dengan jaringan internet, koleksi elektronik seperti e-book, e-journal, dan koleksi lainnya dapat diakses melalui layar handphone dan laptop tanpa ada wujud fisiknya, bukankah hal ini sudah sangat praktis seperti yang diharapkan masyarakat?

Segala sesuatu tidak akan terlepas dari kelebihan dan kekurangannya. Mungkin memang benar bahwa perpustakaan digital terdengar praktis dan sesuai diterapkan di masa pandemi ini, namun di lain sisi saya tidak dapat menjamin perpustakaan digital dapat sepenuhnya efektif dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat.

Perpustakaan digital sebenarnya tidak hanya berperan dalam menyediakan informasi, akan tetapi kembali pada salah satu tujuan perpustakaan yang lainnya yaitu dapat mencerdaskan bangsa.

Bagi masyarakat yang ‘berkecukupan’, perpustakaan digital memang sebuah solusi, akan tetapi bagaimana dengan masyarakat yang kurang mampu dan masyarakat di daerah terpencil, yang kemungkinan besar tidak memiliki perangkat elektronik dan bahkan tidak ada jaringan internet. Sempat kita melupakan ‘mereka’, padahal di masa pandemi ini kita tidak tahu kesulitan macam apa lagi yang harus mereka hadapi. Kata-kata yang pantas untuk menggambarkan kondisi tersebut adalah, jika ada solusi yang sulit mengapa harus mencari yang mudah? Konyol bukan?

Apa yang ingin saya sampaikan adalah, perpustakaan digital memang solusi yang menjanjikan bagi masyarakat di masa pandemi ini, akan tetapi dalam penerapannya harus lebih memperhatikan berbagai sisi yang mungkin belum sempat ‘dilirik’. Kemajuan teknologi dan informasi di Indonesia harus dapat dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat, tidak ada pengecualian. Perpustakaan sebagai lembaga informasi harus merangkul seluruh masyarakat Indonesia agar dapat mewujudkan masyarakat yang berhasil, perpustakaan digital sebagai perwujudan kemajuan teknologi harus diperkenalkan secara luas agar semua dapat merasakan kemudahan yang ada. 

Pemerintah pun juga beperan besar dalam pemerataan fasilitas perpustakaan digital agar tidak menimbulkan adanya kesenjangan. Ketiga elemen inilah (perpustakaan, masyarakat dan pemerintah), yang harus siap menghadapi adanya tantangan baru, berani untuk membuka lembaran baru, dan senantiasa bekerjasama untuk mewujudkan negara yang tetap bewawasan luas meskipun diterpa pandemi Covid-19.

Pada akhirnya, efektif atau tidaknya, membantu atau tidaknya perpustakaan digital di masa pandemi Covid-19 ini bagi masyarakat Indonesia, hanya Anda yang dapat menentukan jawabannya.

Oleh:

Tsania S., Elsa N., Zalfa D., Reza F.

Mahasiswa Program Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya