Tak terasa Pandemi Covid 19 sudah berjalan hampir dua tahun.  Keadaan yang membuat sendi-sendi kehidupan sosial menjadi lemas.  Pemerintah harus melakukan gas-rem aktivitas masyarakat supaya fasilitas kesehatan kita tidak ambruk dan perekonomian juga tetap berjalan walaupun dengan tertatih-tatih.

Sedikit  flashback kebelakang.  Januari 2020, dunia kesehatan dibuat tersentak!  Saya yakin para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang hidup saat ini tak pernah sekalipun ketika menjalani pendidikan, membayangkan menghadapi wabah yang penyebarannya begitu cepat seperti SARS Cov-2 ini.

Hal seperti itu hanya pernah dibaca dari  artikel sejarah  tentang  wabah penyakit Flu Spanyol di tahun 1919 yang menyebabkan puluhan juta nyawa melayang.  Tapi kesimpulan kami setelah membaca artikel itu selalu sama, karena pada jaman dahulu fasilitas kesehatan dan obat-obatan belum secanggih sekarang.

Ternyata kami salah!  Alam membuktikan secepat apapun manusia memajukan teknologi kesehatannya, akan ada suatu serangan alam yang telak dan tak terduga yang membuat manusia kelimpungan. Fasilitas Kesehatan yang canggih di Wuhan, Italia, New York sempoyongan.  Merinding!

Kebetulan pada  akhir bulan November 2019  saya dan beberapa teman dari Puskesmas mengikuti pelatihan tentang Program Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI). Pelatihan ini  difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Kota Magelang.  

Program ini bertujuan menjadikan Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes), tempat dimana banyak orang dengan segala penyakit dan kuman yang dibawanya berkumpul, menjadi suatu tempat yang  lebih aman.  Aman bagi petugas, pasien ataupun pengunjung.  

Tujuan utama dari PPI adalah supaya penularan penyakit dari satu pasien ke pasien lain atau kepada petugas kesehatan dapat dicegah. Penyakit yang ditularkan melalui fasilitas kesehatan adalah isu yang dihadapi oleh banyak negara dan itu memberatkan anggaran kesehatan.

PPI adalah hal yang bisa dikatakan baru bagi kami. Pedomannya pun baru keluar pada tahun 2017, melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 27 Tahun 2017. 

Program PPI meliputi berbagai aspek pencegahan infeksi. Beberapa hal diantaranya adalah membangun kebiasaan mencuci tangan lima momen enam langkah, pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) dengan baik dan benar, pengendalian lingkungan dan penempatan pasien.

Dalam PPI, setiap pasien dengan gejala infeksi atau demam akan ditempatkan di tempat yang terpisah dari orang-orang yang memiliki penyakit degeneratif atau penurunan kekebalan tubuh.  Ruangan harus diatur sedemikian rupa sehingga sirkulasi udara baik dan sinar matahari masuk ke dalam ruangan.

Dengan diterapkannya PPI secara baik di Fasyankes, tidak ada ceritanya seorang penderita Diabetes Melitus  atau Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) terkena TBC karena ketika antri di poliklinik tak sengaja duduk bersebelahan dengan pasien TBC yang tidak memakai masker.

Keresahan saya mulai muncul waktu WHO mengumumkan bahwa penyakit baru ini, waktu itu namanya masih Sars Cov-2, bisa menular dari manusia ke manusia. Dengan lalu lintas manusia saat ini, sangat mustahil wabah dari Kota Wuhan itu tidak sampai ke kota kecil bernama Magelang yang jaraknya ribuan kilometer.

 Sebelum mendapatkan pelatihan, bagi kami program PPI hanya terdengar samar-samar. Hal tersebut bukanlah suatu kebiasaan bagi kami.  Dulu jaman saya koass, masuk bangsal pasien TBC pun kami tak boleh pakai masker, karena dianggap tidak menghargai pasien, dianggapnya kami jijik pada pasien, biasalah, adat ketimuran.

Saya dan tim PPI yang terbentuk waktu itu harus mempersiapkan semua teman- teman kami, menyiapkan tempat kami bekerja agar lebih aman bila akhirnya gelombang wabah tersebut sampai di tempat kami. Kami pun melakukan pelatihan PPI bagi seluruh karyawan kami.

Maret 2020, Akhirnya pecah telur!  Kasus pertama dan kedua diumumkan oleh Presiden.  Baiklah, “Brace yourself, winter is coming!” Mengutip perkataan Ned Stark yang ikonik dari serial “Game of Thrones”.

Dalam Program PPI, para tenaga kesehatan tidak diperbolehkan memiliki kuku lentik nan panjang ataupun memakai perhiasan seperti cincin atau gelang ketika kami di tempat kerja. Benda–benda itu membuat sabun tidak menjangkau bagian kulit dibawahnya. Disitulah kuman bersembunyi, mengambil celah untuk masuk ke tubuh.

Bukan hal yang mudah lho membuat para nakes ini, terutama yang perempuan untuk menanggalkan cincinnya di rumah ataupun memotong pendek kukunya yang selalu dimanicure itu.  Meskipun setiap kali dalam acara pertemuan, tim PPI selalu mengingatkan, tetapi hal tersebut tidaklah dianggap penting saat itu.

Dahulu, hal yang  juga sering terjadi adalah teman-teman harus selalu diingatkan untuk memakai APD ketika melakukan tindakan.  APD dipakai untuk melindungi baik petugas maupun pasien, supaya tidak terjadi transfer kuman.

 Ada dua alasan yang mendasari ketidakpatuhan nakes dalam memakai APD  yaitu mereka enggan memakainya atau karena tak disediakan oleh manajemen. Pihak manajemen menganggap hal itu bukanlah hal yang krusial, toh selama ini semua berjalan baik-baik saja.

Ketika gelombang  pandemi sampai ke tempat kami, nakes tak usah diingatkan pun otomatis akan mengikuti prosedur cuci tangan, melepaskan cincin mereka dan memotong kukunya. Memakai APD yang standar adalah sebuah kebutuhan pada saat ini, bukan lagi sekedar supaya tidak ditegur oleh Tim PPI hahaha.

Semua orang pastinya akan berusaha bertahan hidup selama pandemi ini, termasuk kami para nakes.  Melobi pihak manajemen dalam hal penyediaan APD dan renovasi ruangan supaya memenuhi standar PPI sekarang menjadi lebih mudah. Program PPI otomatis berjalan, bergulir dengan lancar di fasyankes.

Setelah dua tahun belajar hidup berdampingan dengan Covid 19, diharapkan kaidah PPI sudah menjadi kebiasaan bagi para nakes dan manajemen Fasyankes. Harapannya keamanan petugas, pasien, dan pengunjung terjaga dan kita juga tidak akan terkaget-kaget bila ada wabah lain datang menyapa.

Itulah salah satu berkah Pandemi Covid 19. Sebuah Blessing in disguise!

Begitupun dengan Anda! Lain kali Anda berkunjung ke klinik, Puskesmas, atau rumah sakit jangan hanya liat bangunannya yang mentereng ya! Cermati apakah Fasyankes tersebut sudah  melaksanakan PPI dengan baik!

Pilih Fasyankes yang memprioritaskan keamanan Anda saat berada di tempat tersebut. Pastikan Anda pulang dengan tidak membawa kuman yang berbahaya! Salam sehat selalu!

Puji Rahayu Slamet, dokter yang suka menulis.