Belum lama ini, beberapa berita baik di tv, media sosial dan koran selalu membicarakan mengenai kasus covid-19 yang setiap harinya terus meningkat. Awal mula yang menjadi pemicu kasus covid-19 ini kembali meningkat ialah adanya varian baru pada virus covid-19, yaitu varian delta, lambda, dan kappa. Bahkan hingga akhir juni lalu tercatat ada 2 juta lebih kasus covid-19 di Indonesia. Oleh sebab itu, tanggal 3 Juli 2021 kemarin diberlakukannya ppkm darurat di Indonesia yang membatasi kegiatan masyarakat, khususnya di Pulau Jawa - Bali.

Adanya kenaikan kasus covid-19 ini ternyata membawa banyak pengaruh baru. Pengaruh tersebut diantaranya, mandi setelah berpergian, menjaga jarak, menggunakan masker, membersihkan tangan dan beberapa benda lain dengan cairan pembersih atau handsanitizer dan menyemprotkan desinfektan ke beberapa tempat. Apabila hal ini menjadi kecanduan dilakukan oleh masyarakat, maka akan menimbulkan perasaan waspada berlebihan terhadap kuman atau kotoran. Perasaan berlebihan terhadap kotoran ini dalam ilmu kesehatan mental disebut juga mysophobia. Padahal mysophobia ini berawal dari refleksnya seseorang dalam menggurangi kecemasan pada dirinya, namun dalam islam ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus.

Menurut Wikipedia, Mysophobia atau yang dapat dikenal juga dengan nama verminophobia, germophobia, bacillophobia, atau bacteriophobia adalah ketakutan patologis akan kontaminasi dan kuman. Secara istilah mysophobia berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘musos’ yang berarti ketidakbersihan dan ‘phobos’ yang berarti ketakutan. Gangguan mysopobia ini sering dikaitkan dengan gangguan obsessive-kompulsive (OCD), namun memiliki arti yang berbeda. Apabila pada gangguan OCD penderita akan melakukan kegiatan tertentu secara berulang hingga mencapai kepuasan, maka pada gangguan mysophobia ini penderita akan melakukan kegiatan berulang tersebut dikarenakan ketakutan akan kotoran dan kuman. Tetapi pada dasarnya, seseorang yang memiliki gangguan OCD akan lebih beresiko mengalami mysophobia.

Di saat pandemi seperti ini, gangguan psikologis mysophobia mulai bermuculan kembali. Hal ini dikatakan oleh salah satu konsultan psikolog klinis di rumah sakit Fortis Anandapur India yang dilansir dari India TV News, bahwa pandemi ini mendorong masyarakat semakin lama berlaku seperti penderita mysophobia dan OCD walaupun resiko terjadinya hal ini sangat kecil. Dia menambahkan bahwa psikolog juga harus menanamkan bagaimana caranya menjaga diri saat pandemi agar tidak memunculkan ketakutan atau kecemasan yang berlebihan. Selain itu, dilansir dari Metro UK, Dr Maglina Paglia yang merupakan psikolog di The International Psychology Clinic juga memiliki pasien yang merupakan penderita OCD namun menjadi parah kondisinya saat pandemi.   

Bukti nyata gangguan mysophobia yang dapat kita lihat saat ini ialah saat kita bisa melihat lingkungan sekitar kita yang menggunakan cairan pembersih berulang kali saat ditempat makan, padahal sebelumnya sudah mencuci tangan pada air mengalir. Kondisi seperti ini dapat menjadi kecenderungan dan kebiasaan apabila terus dilanjutkan dengan berlebihan. Perilaku berlebihan ini tidak dianjurkan oleh islam. Pada Hadist Riwayat Imam Muslim, ‘Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan dari Rasullulah SAW, beliau bersabda hingga tiga kali : هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ , yang berarti “Celakalah orang-orang yang ekstrim!”.

Pada Al-Qur’an di Surah Al-Maidah ayat 77, Allah SWT berfirman,

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوْٓا اَهْوَاۤءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ

Artinya : Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” (QS Al-Maidah (5) : 77).

Ciri dari gangguan mysophobia yang paling utama ialah sikap ketakutan dan kecemasan akan sesuatu, seperti cemas apabila berada di kerumunan, takut dengan adanya debu yang menempel, takut meminjamkan barang pribadi ke orang lain, takut dengan tempat kotor, takut sakit dan ketakutan lainnya yang bersifat akan kebersihan diri dan lingkungan. Walaupun rasa takut dan cemas merupakan emosi yang dimiliki oleh semua manusia sebagai mekanisme pertahanan tubuh, namun sebaiknya jangan berlebihan.  Hal ini terdapat pada firman Allah SWT yang bersabda.

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Artinya : Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar dating petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah (2) : 38).

Pada surah Al-Imran, Allah SWT juga berfirman,

اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Artinya : Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu adalah orang-orang yang beriman. (QS Al-Imran (3) : 175).

Kedua ayat diatas menunjukkan bahwa ketakutan itu diperbolehkan dalam al-qur’an, namun tidak dengan cara berlebihan. Apabila dilakukan dengan cara berlebihan maka akan menyebabkan putus asa. Karena sesungguhnya ketakutan mengenai hal yang tidak bermanfaat akan menimbulkan hal lain yang tidak terduga.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan dalam meminimalisir gangguan mysophobia dengan metode islami, salah satunya pada pada jurnal hasil penelitian Psikologi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul Memahami Kecemasan : Perspektif Psikologi Islam Tahun 2020. Menurut penelitian tersebut, cara yang dapat dilakukan adalah dengan banyak berzikir, membaca alqur’an terutama surah Al-Fatihah dan mendengarkan murottal.

Jadi, terlihat jelas bahwa gangguan mysophobia sekilas sederhana baik dari efek dan cara pengobatannya. Namun ini tidak bisa di sepelekan begitu saja oleh setiap manusia. Sebab gangguan ini memiliki efek yang serius di masa mendatang, terutama dimasa kesulitan pada saat pendemi seperti ini.