Dalam sebuah prolog buku yang berjudul Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat?, Hatta mempunyai pandangan bahwa pendidikan rakyat harus mengarah pada pembentukan budi dan pekerti. 

Hal ini sebagai bentuk perlindungan diri dan berjuang melawan imperialisme Barat. Bukan saja imperialisme politik, akan tetapi juga imperialisme ekonomi. Oleh karenanya, jika kita tidak menyusun pertahanan yang teratur mulai masa kini, tentunya kita akan tenggelam di lautan kehidupan.

Mengingat serangan dan ancaman kapitalisme dan imperialisme Barat yang merugikan rakyat, sehingga perlu adanya pertahanan sempurna dari rakyat untuk menyelaraskan paham. Karena segala perjuangan yang tidak disokong oleh paham dan iman rakyat tidak akan membawa hasil, seperti yang disampaikan Hatta dalam prolog tersebut.

Pembentukan pendidikan berbudi dan pekerti, bersamaan paham dan iman sebagai citra religius diri Hatta dalam balutaan pendidikan. Pandangan sosialisme yang meninginkan kesamaan dan kesetaraan, dipandang Hatta sebagai respons baik terhadap kapitalisme dan imperialisme Barat.

Hatta juga menekankan bahwa pertahanan harus berdasarkan pada keadilann kebenaran. Dengan demikian, tidak ada lagi orang seorangan atau kumpulan orang pandai ataupun golongan kecil saja yang memutuskan nasib rakyat dan bangsa, melainkan rakyat sendiri.

Pendidikan Nasional, Menurut Hatta harus menuju kerakyatan dalam ekonomi! Artinya, kita melihat persoalan bagaimana rakyat bisa hidup, apa yang harus dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan menambah kemakmuran rakyat, segala hal harus diputuskan mufakat bersama rakyat.

***

Peranan penting Syekh Arsyad dalam memberikan pemahaman agama islam kepada Hatta. Tertulis dalam buku yang berjudul Untuk Negeriku Sebuah Otobiografi; Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi.

Dalam buku tersebut, Syekh Arsyad dikatakan sebagai orang yang pandai menanamkan paham keagamaan terhadap anak kecil dengan uraian yang mudah dimengerti dan dipahami.  Hal tersebut, menyebabkan ingatan terhadap perkataan guru agamanya itu sangat membekas semasa hidupnya.

Syekh Arsyad percaya bahwa muridnya itu tidak akan menyimpang dari ajaran agama islam. Melalui sebuah memoar, Hatta menuliskan bahwa Syekh Arsyad adalah paman yang sekaligus dijadikan guru agama baginya.

HOS Tjokroaminoto semasa hidupnya mengenalkan sebuah gagasan yang bernama Sosialisme religius. Cita-cita sosialisme sudah terlebih tua riwayatnya; memiliki akar historis hingga masa Nabi Muhammad masih hidup dulu, (Purwanto, ed. Dahlan, 2002: 111-112).

Sejarah mencatat, bahwa antara Hatta dan HOS Tjokroaminoto dikatakan tidak pernah ketemu secara langsung, akan tetapi mengapa bisa ada kesamaan pandangan diantara keduanya?

Hal ini tidak terlepas dari keaktifan Hatta mengikuti perkembangan tanah air melalui surat kabar, beberapa hal mengenai Sarikat Islam dan HOS Tjokroaminoto yang sering diceritakan dalam memoarnya. Pada saat Hatta masih sekolah di Padang hingga sekolah di negeri Belanda, (Hatta, 1979).

Pada tahun 1918, sarekat Islam sedang berada pada puncak kejayaannya, keanggotaannya mencapai 450.000 orang menjadikannya sebuah organisasi terbesar di tanah Jawa, (Nasihin, 2012: 2). Sarekat Islam mempunyai ideologi yang sama dengan pimpinannya yakni HOS Tjokroaminoto yakni Sosialisme yang berlandaskan Islam pada tahun 1923 dan bergantinya nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI).

Melalui tulisan yang berjudul Demokrasi Kita Bebas Aktif dan Ekonomi Masa Depan Indonesia, Hatta (1992) berpandangan bahwa jika paham komunis adalah cara untuk mencapai masyarakat yang sosialis seperti yang diperkirakan oleh Karl Marx. Maka Hatta memandang islam dapat menjadi jalan untuk mewujudkan masyarakat yang sosialis di Indonesia.

***

Meneladani Sikap Hatta

Dewasa ini, pandangan Hatta agaknya perlu untuk ditanamkan pada generasi penerus bangsa. Hal ini seperti apa yang disampaikan sejarawan Taufiq Abdullah, bahwa apa yang dicita-citakan oleh Hatta adalah Demokrasi Sosial. 

Akan tetapi, pandangan Hatta akan sulit terwujud karena demokrasi kita saat ini ada dalam belenggu dan cengkraman oligarki, sehingga kesejahteraan sosial tidak akan hidup dalam lingkungan seperti saat ini.

Pentingnya meneladani sikap Hatta, yakni menanamkan sikap optimisme. Hal ini tergambarkan ketika Indonesia yang dalam keadaan keruwetan akibat kolonialisme, Hatta memalui sikap optimisnya percaya bahwa kelak kolonialisme akan tumbang, dan Indonesia Merdeka.

Hal yang perlu kita pelajari dari Hatta berikutnya adalah pentingnya untuk tetap mengasah intelektualitas. Hatta yang dikenal sering menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku-buku agama, filsafat, teori politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya, menjadi modal utama Hatta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa cara kerja intelektual yang ditunjukan Hatta seakan memberi tamparan bagi kita semua selaku generasi penerus bangsa.

Daftra Pustaka

Ahmad, Tsabit Azinar. 2014. Sarekat Islam Dalam Gerakan Kiri di Semarang. Jurnal Sejarah dan Budaya. Volume 8 No 2.

Hatta, Muhammad. 1979. Memoir Mohammad Hatta. Jakarta: Tintamas Indonesia.

Hatta, Muhammad.1992. Demokrasi Kita, Bebas Aktif dan Ekonomi Masa Depan Indonesia. (Jakarta: UI-Press).

M. Dahlan, Muhidin (ed). 2002. Sosialisme Religius Suatu Jalan ke Empat?. (Yogyakarta: Kreasi Wacana).

Nasihin. 2012. Sarekat Islam Mencari Ideologi. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar).