Berbicara penguatan keluarga dalam pendidikan anak tidak terlepas dari bagaimana cara pandang dan sinergi dari komponen utama sekolah, yaitu guru, orang tua dan komite sekolah serta regulasi yang ada. Pendidikan yang baik jika ada sinergi yang dilakukan oleh komponen sekolah yang terpadu dalam mendidik siswa.

Menurut Bowo Sugiharto, dalam mendidik anak siswa, ada pendekatan yang harus dikerjakan, yaitu pandangan behavioristik dan konstruktivistik. Pandangan behavioristik ini sangat menekankan pada hasil belajar, sementara proses belajar bukan menjadi masalah yang penting menurut pandangan ini. Hubungan antara stimulus dan respons dipandang sebagai sebuah hubungan fungsional yang linier. Oleh karena itu terdapat faktor lain yang dipandang sangat penting, yaitu faktor penguatan atau reinforcement.

Pandangan konstruktivistik tidak hanya menekankan hasil belajar tetapi juga proses belajar. Lebih tegas lagi dikatakan bahwa pengetahuan menurut pandangan konstruktivistik bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya.

Masih relevankah pandangan behavioristik dengan dunia pendidikan zaman sekarang? Pandangan behavioristik masih memandang perlu adanya reward dan punishment sejak dikemukakan oleh Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie. Sedangkan sejak Skinner teori behavioristik sudah tidak lagi memandang hukuman sebagai sesuatu hal yang penting dalam dunia pendidikan.

Namun, Skinner masih memandang perlunya negative reinforcement. Kembali kepada pertanyaan pada awal paragraf ini, relevansi perlu ditinjau kembali dalam menerapkan pandangan behavioristik dalam dunia pendidikan saat ini.

Jika kembali kepada definisi pendidikan yang digunakan oleh oleh Undang-Undang Sisdiknas seperti yang di atas, maka diharapkan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh para pahlawan tanpa tanda jasa untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, tampaknya sudah tidak relevan lagi.

Setidaknya kata-kata ”secara aktif mengembangkan potensi dirinya” lebih condong kepada pandangan konstruktivistik. Proses belajar bukan merupakan perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.

Berbeda dengan pandangan behavoristik bahwa apa yang disampaikan dan diajarkan oleh guru kepada siswa harus diinterpretasikan dan dimaknai sama persis oleh siswanya, pada pandangan konstruktivistik guru dituntut untuk mampu memahami jalan pikiran atau cara pandang siswanya. Guru juga harus mampu menghargai cara pandang dan jalan pikiran siswanya.

Guru tidak boleh mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya. Pada kasus kekerasan guru kepada siswanya di atas, mungkin sebagai hasil interpretasi guru terhadap cara belajar menurut pandangan behavioristik, sehingga ketidaksesuaian tingkah laku siswa dengan yang diharapkan merupakan salah satu yang harus dibenahi atau dihentikan dengan cara memberikan punishment.

Hal ini tentu saja menimbulkan dilema yaitu sejauh mana perbedaan interpretasi siswa dengan guru dapat dihargai? Mungkin bagi oknum guru yang melakukan tindak kekerasan punishment-lah satu-satunya cara yang logis untuk menghentikan tindak pelanggaran.

Faktanya pada pendidikan Indonesia kedua pandangan tidak efektif dilakukan, pada saat ini orang tua banyak yang memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya. Kemerdekaan dalam anak perlu dibangkitkan dengan pandangan Kontruktivistik. Menghargai anak sebagai manusia sejatinya harus memberikan kebebasan positif kepada anak yang di imbangi dengan behavioristik dengan memberikan punisment atau hukuman.

Pada saat ini terjadi ketimpangan yang sangat dalam bahwa menghukum siswa adalah pelanggaran, sehingga guru tidak lagi mau menghukum, akhirnya guru tidak punya andil lagi dalam membangun karakter.  Sudah banyak guru yang dilaporkan kepada pihak kepolisian karena melakukan hukuman kepada siswanya, ditambah lagi orang tua yang ikut mendukung perbuatan anaknya. Orang tua banyak yang berlebihan melaporkan guru kepada polisi padahal akar masalahnya tidak tahu yang sebenarnya.

Kambing hitam pelanggaran HAM dilaporkan ke KPAI selalu guru yang bersalah. Dalam pendidikan anak orang tua menjadi pelopor  dalam proses pendidikan anak, karena pertama kali anak mendapatkan pendidikan adalah di keluarga. Keluarga sejatinya membantu guru dan komponen sekolah serta pemerintah dalam membangun sinergi dalam pendidikan anak.

Pendidikan keluarga yang baik akan menghasilkan pendidikan Indoensia yang baik juga, jadi dimulai dari keluarga. Dari dua pandangan yang ada maka keluarga, guru, komite dan pemerintah melakukannya dengan terintegrasi sehingga tercipta pendidikan yang mandiri dan berakhlak.

Penulis berpendapat barangkali memang pandangan konstruktivistik lebih tepat diterapkan di dunia pendidikan di Indonesia, akan tetapi ada kalanya pola-pola behavioristik sesekali juga masih diperlukan. Akan tetapi bukan hanya mengadopsi pemberian punishment-nya saja.

Sudahkah kita para pendidik juga memberikan reward kepada anak didik kita. Di sisi lain punishmen yang diberikan juga jangan sampai melebih porsi yang sebenarnya sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang justru kontraproduktif. Para pendidik mampu menghargai perbedaan cara pandang dan jalan berpikir anak didiknya, demikian pula sebaliknya para anak didik menyadari benar apa yang seharusnya dilakukan selama proses pendidikan berlangsung.