Aborsi adalah topik percakapan yang masih dianggap tabu, khususnya di negara-negara yang kental dengan budaya Timur, seperti Indonesia. Selama kurun waktu 4 tahun, antara tahun 2015 sampai 2019, tercatat rata-rata 73,3 juta aborsi yang diinduksi, baik yang aman maupun yang tidak aman, terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia (WHO).

Di Indonesia sendiri, kasus aborsi cukup lazim dilakukan. Diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta jiwa dari 5 juta kelahiran per tahun. (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional).

Pada dasarnya, praktik aborsi dilarang di Indonesia di bawah UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pengecualian terhadap larangan aborsi hanya diberikan dalam 2 kondisi. Kondisi tersebut adalah apabila ada indikasi kedaruratan medis, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, dan apabila kehamilan yang terjadi merupakan akibat dari pemerkosaan.

Namun, nyatanya banyak kasus aborsi dilakukan berdasarkan alasan yang di luar kedua kondisi di atas. Salah satu contohnya adalah aborsi yang dilakukan akibat kegagalan alat kontrasepsi. Aborsi berdasarkan alasan ini umumnya dilakukan oleh perempuan-perempuan dalam rentang usia remaja sampai menikah (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia).

Argumen yang Beredar

Topik aborsi memicu debat yang tidak kunjung selesai, antara Pro-Choice atau Pro-Life. Indonesia, sebagai negara dengan 88% penduduk Muslim, dikenal memiliki pandangan konservatif. 

Sekitar 89% orang Indonesia memihak ke pandangan Pro-Life dan menolak praktik aborsi dengan alasan apa pun karena mereka percaya aborsi sulit diterima secara moral (Pew Research Center). Namun, apakah salah bila kita sebagai orang Indonesia memiliki pandangan Pro-Choice? Tentu tidak.

Pandangan Pro-Choice sering disalahartikan sebagai Pro-Aborsi. Hal ini keliru karena sebenarnya Pro-Choice adalah pandangan yang menitikberatkan pada hak perempuan sebagai individu yang mengalami kehamilan untuk memilih. Kubu Pro-Choice di Indonesia dianggap terlalu feminis atau terlalu liberal.

Di sisi lain, kubu Pro-Life umumnya didominasi oleh kelompok-kelompok agamis dan konservatif sehingga argumen yang mereka layangkan berlandasan pada alasan keagamaan dan moral, seperti aborsi menentang kehendak Tuhan karena merupakan tindakan pembunuhan. 

Tentu kita tidak bisa semata-mata menganggap argumen mereka tidak valid, namun perdebatan bisa meluas ke penentuan janin sebagai entitas hidup atau bukan.

Pilih yang Mana?

Berbeda dari kubu Pro-Life, kubu Pro-Choice melandasi argumen mereka dari sudut pandang kemanusiaan. Tuntutan mereka adalah agar Indonesia dapat menyediakan akses ke aborsi yang aman dan legal bagi perempuan Indonesia. 

Seperti yang kita ketahui, aborsi secara umum ilegal di Indonesia, dengan pengecualian untuk 2 kondisi yang sudah disebutkan di atas. Selain itu, stigma terhadap aborsi masih kental di masyarakat Indonesia.

Seperti di negara-negara berkembang lainnya di mana terdapat stigma dan pembatasan yang ketat terhadap aborsi, perempuan Indonesia sering kali mencari bantuan untuk aborsi melalui tenaga-tenaga non-medis yang menggunakan cara-cara alternatif, antara lain dengan meminum ramuan berbahaya dan melakukan pemijatan pengguguran kandungan. Cara-cara ini tentunya dapat mengancam nyawa si Ibu.

Aborsi yang tidak aman dapat berujung pada kematian si Ibu. Setiap tahun antara 4,7% - 13,2% kematian ibu disebabkan oleh aborsi yang tidak aman (WHO). Praktik aborsi tidak aman bisa menjadi pangkal masalah kematian ibu akibat pendarahan, infeksi, kegagalan menghapus semua jaringan kehamilan dari rahim, cedera vagina, serviks, dan uterus.

Argumen kelompok Pro-Choice berlandas pada sudut pandang kemanusiaan karena korban utama dari aborsi adalah perempuan. Di mana sering kali mereka tidak memiliki pilihan selain dari menggugurkan kandungannya. 

Di banyak kasus, alasan perempuan melakukan aborsi jauh lebih rumit dari sekedar kedaruratan medis atau korban pemerkosaan. Alasan lain yang menjadi sorotan utama adalah ketidaksiapan perempuan secara fisik, psikis, maupun finansial.

Yang diinginkan kelompok Pro-Choice adalah agar Indonesia dapat menyediakan hukum yang juga melindungi para perempuan untuk selalu memiliki pilihan untuk aborsi, meskipun alasan di baliknya tidak memenuhi 2 kondisi yang diatur dalam Undang-Undang yang sudah ada.

Meskipun kedua argumen tentang aborsi memiliki poin-poin yang valid, keduanya memiliki kelemahan. 

Dari satu sudut pandang, argumen kelompok Pro-Life dianggap tidak menghormati hak perempuan untuk memiliki otoritas atas tubuh mereka. Namun, dari sudut pandang yang lain, argumen kelompok Pro-Choice juga dianggap terlalu feminis dan liberal, terutama di Indonesia, di mana masyarakatnya bernotabene konservatif, seolah-olah melazimkan adanya perzinahan.

Lalu argumen manakah yang paling benar? Jawabannya adalah tidak keduanya. Kenyataannya, argumen apa pun yang dipilih adalah hak pribadi masing-masing orang. Namun, kita perlu mempertimbangkan 2 hal: kondisi umum masyarakat Indonesia dan hak perempuan.

Seperti halnya setiap argumen dalam suatu perdebatan, di mana kedua belah pihak membela satu pandangan secara ekstrem, begitu pun kondisi yang terjadi antara kubu Pro-Choice dan Pro-Life. Kedua pandangan mengenai aborsi ini tidak dapat diterima seutuhnya di Indonesia karena menyalahi norma sosial yang ada dan tidak sejalan dengan Pancasila. 

Namun, topik tentang aborsi sebenarnya memiliki grey area atau wilayah abu-abu, di mana wilayah ini tidak memiliki keberpihakan ke kubu mana pun.

Justru wilayah ini mengambil titik terang, atau sebagai jalan tengah atas perdebatan yang ada mengenai aborsi. Pandangan ini mengambil esensi dari masing-masing argumen. Apabila argumen Pro-Choice dianggap melazimkan adanya perzinahan dan argumen Pro-Life dianggap menintervasi hak perempuan atas tubuhnya, maka di grey area ini, argumennya mengambil esensi dari kedua kubu.

Mengambil esensi dari Pro-Choice, tuntutannya tetap sama, yaitu tersedianya akses aborsi yang aman bagi perempuan. Namun, mengambil esensi dari argumen Pro-Life, di grey area ini, argumennya adalah aborsi tidak semata-mata dapat dilakukan sebebas-bebasnya seperti yang terjadi di dunia barat, sehingga tidak menyalahi norma yang ada di Indonesia.

Di grey area ini, aturan terhadap aborsi diartikan kembali. Disebutkan di atas aborsi dapat dilakukan di Indonesia di bawah 2 kondisi, salah satunya kedaruratan medis. Kedaruratan medis dianggap hanya apabila kehamilan mengancam nyawa ibu dan/atau janin. Namun, sebenarnya kedaruratan medis tidak hanya mencakup masalah fisik, tetapi juga masalah psikis dan sosial.

Sehingga aborsi di bawah kondisi yang lain, seperti permasalahan ekonomi dan ketidaksiapan mental masuk ke dalam kategori kedaruratan medis. Calon pasien aborsi juga diharuskan melakukan sesi konseling dengan konselor yang kompeten dan berwewenang, sehingga praktik aborsi tidak dilakukan tanpa aturan.

Melainkan, aborsi tetap mengikuti aturan yang ada di Indonesia, yaitu aborsi hanya dapat dilakukan apabila usia janin di bawah 8 minggu, sehingga tetap memperhatikan argumen yang dilayangkan oleh kubu Pro-Life bahwa janin di bawah 8 minggu tidak bisa dikatakan sebagai entitas hidup.