Pada tanggal 1 Juni 2020, kita memeringatinya sebagai hari lahir Pancasila. Banyak di antara pengguna WhatsApp yang menulis pembaruan pada status mereka, Pancasila dalam Tindakan, Melalui Gotong Royong, Menuju Indonesia Maju.

Tiga potong kalimat tersebut seakan memberikan ruang berpikir bagi kita untuk memaknainya, sehingga kita mampu meresapinya secara bersama, sebagai refleksi atas hari lahirnya Pancasila. Untuk itu, pada tulisan ini saya akan mencoba mengulas maksud dari tiga potong kalimat indah tersebut secara mundur, untuk mengudar pesan yang terkandung dalamnya.

Menuju Indonesia Maju

Kalimat ini tentunya telah membuat kita bertanya-tanya, apakah Indonesia saat ini belum maju? Seberapa majukah Indonesia saat ini? Indikator apa saja yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan itu? Kemajuan apa saja yang hendak dicapai?

Untuk menjawab pertanyaan pertama tentang kondisi Indonesia yang sudah maju atau belum itu, tentu kita memerlukan indikator sebagai ukuran perbandingan. Baik itu perbandingan dengan kondisi sebelumnya maupun detail aspek kemajuan yang meliputinya.

Sebagai contohnya, manakala kita melihat kemajuan sebuah negara, biasanya identik dengan pembangunan infrastruktur atau pembangunan secara fisik. Hal ini tidak sepenuhnya salah, mengingat sesuatu yang physical merupakan indikator termudah untuk diamati. Dan manakala indikator fisik ini kita gunakan sebagai ukuran kemajuan, mungkin saja negara kita sudah semakin maju dari waktu ke waktu.

Bangunan gedung bertingkat yang semakin menjamur, kondisi akses perhubungan yang semakin mulus, jaringan telekomunikasi yang semakin lancar. Saya kira gambaran ini sudah cukup sebagai representasi atas ukuran kemajuan pembangunan yang sifatnya physical. Namun hal yang perlu kita pertimbangkan, apakah kira-kira kemajuan itu sudah cukup diukur dari sesuatu yang sifatnya fisik saja tanpa mengungkap perihal yang ada di baliknya?

Perihal yang perlu diungkap di balik pembangunan secara fisik yang jamak disebut sebagai kemajuan itu antara lain meliputi sumber pendanaan dan kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat. Benarkah pembangunan secara fisik yang didengung-dengungkan itu pelaksanannya murni dengan menggunakan dana pribadi milik negara tanpa berhutang ke negara lain? Dan benarkah pembangunan fisik tersebut memiliki pengaruh terhadap kesejahteraan masyarakatnya?

Jawabannya tentu kita tahu sendiri. Sejak kapan negara tercinta kita ini memiliki kondisi surplus pendapatan secara konsisten sehingga memiliki cadangan devisa yang melimpah yang dapat digunakan untuk pembangunan sewaktu-waktu sekaligus untuk menutup utang luar negeri? Jawabannya pasti belum pernah, atau barangkali jika kita bertemu dengan kelompok yang oportunis, pasti jawabannya adalah suatu saat nanti, yang sebenarnya tetap merupakan bahasa halus dari belum pernah.

Saat ini, saya masih menggunakan ukuran kemajuan dengan pendekatan pembangunan fisik yang dibangga-banggakan itu dengan faktor yang ada di baliknya. Dan nyatanya, dari indikator inipun, sebenarnya negara kita belum dapat dikatakan maju. Kita masih belum mampu mencapai surplus devisa selama beberapa tahun secara konsisten apalagi mengangsur utang. Dan itu sudah jelas mencerminkan kondisi kesejahteraan mereka yang ada di dalamnya, dalam hal ini adalah masyarakat suatu negara.

Untuk itu, pencapaian kemajuan negara kita harus diukur dari berbagai aspek yang komprehensif. Selain pembangunan fisik ini, masih banyak lagi aspek yang harus dijawab untuk mengukur kemajuan itu, seperti penegakan hukum, kepekaan terhadap fenomena sosial, pemerataan ekonomi, stabilitas keamanan, dan perhatian terhadap kebudayaan. Sudahkah negara kita memilikinya? Jawaban jujur dari kita merupakan tindakan awal bagi kita untuk berani melangkah lebih maju lagi.

Aset Budaya Gotong Royong 

Telah kita ketahui bersama, bahwa masyarakat kita merupakan masyarakat yang komunal. Masyarakat yang cenderung bersama, berinteraksi satu sama lain, saling membantu, saling bekerja sama, saling bergotong royong, yang keberadaannya bahkan tidak mampu tergerus oleh perkembangan teknologi.

Mungkin saja kita seringkali diusik oleh beberapa berita yang menyatakan bahwa perkembangan teknologi menjadikan kehadiran orang yang dekat menjadi terasa jauh. Dan sebaliknya, orang yang jauh menjadi lebih dekat. Saya menganggap itu hanyalah persepsi dari sebagian orang saja. Nyatanya, masyarakat kita yang komunal, yang gemar bergotong royong itu tetap mampu menggunakan teknologi informasi sebagai piranti untuk menjadikan yang dekat semakin dekat, dan yang jauh semakin mendekat, atau berkontradiksi dengan anggapan sebagian orang tadi.

Hubungan guyub masyarakat kita tetap rekat meski mereka mengenggam erat gawai masing-masing. Selain itu, interaksi mereka terhadap pihak yang berjauhan pun mampu terakumulasi dengan adanya jejaring warganet, netizen. Para warganet biasa memperhatikan, mengomentari, menghakimi, dan bahkan memberikan sumbangan bantuan atas fenomena yang mereka temui di sekeliling mereka. Tidakkah ini cukup menjadi penanda bahwa masyarakat kita tetaplah masyarakat komunal yang memiliki kepedulian dengan tradisi gotong royongnya?

Mungkin saja, diantara kita saat ini semakin jarang mendapati para anggota masyarakat yang bahu membahu, bergotong royong untuk membangun rumah. Namun tentunya kita tidak boleh lupa, bahwa solidaritas masyarakat kita untuk memperhatikan masyarakat lainnya adalah hal yang sulit terelakkan. Sekelompok masyarakat tetap banyak yang bersedia menjadi relawan saat saudara sebangsanya sedang dirundung musibah, mereka banyak yang rajin menggelar aksi bersama untuk meringankan derita sahabat setanah airnya.

Mereka yang siap untuk menggelar aksi solidaritas itu saat ini biasanya terbentuk melalui nota kesepahaman bersama (MoU) yang terwujud melalui sebuah tanda pagar, hashtag. Hal ini kian menegaskan bahwa sifat gotong royong masyarakat kita tetaplah eksis dengan bermetamorfosa dalam bingkai yang lebih unik sebab mengikuti pola perkembangan zaman, teknologi, industri, budaya, infrastruktur, dan perihal lainnya.

Jadi, masihkah kita meragukan budaya gotong royong yang ada pada masyarakat kita?

Pancasila dalam Tindakan

Pancasila sebagaimana kita ketahui merupakan konsep yang begitu luhur yang berisi tentang nilai-nilai kemanusiaan. Dalam setiap butirnya, siapa saja akan diajari tentang pentingnya bertuhan, betapa mulianya menjadi pribadi yang beradab, menjadi ringannya sebuah persoalan karena saling bersatu, pentingnya sikap untuk saling mempercayai, keutamaan patuh terhadap pemimpin, keharusan mengambil keputusan secara bijak dan teliti dengan jalan bermusyawarah, dan tentunya akan paripurna dengan penegakan keadilan.

Namun hal yang patut kita renungkan adalah konsep luhur yang tertuang dalam setiap butir Pancasila itu adalah nilai-nilai tersebut tidak akan pernah memiliki bekas apapun dalam kehidupan kita, bangsa kita, dan negara kita, jika tidak diiringi dengan pemahaman sekaligus tindakan untuk mengamalkannya.

Maka pertanyaan kita berikutnya sebagai bagian dari refleksi atas kelahiran Pancasila ini adalah sudahkah kita paham benar dengan makna yang tertuang dalam setiap butir Pancasila ini? Sudahkah kita mengamalkannya dalam bentuk tindakan? Dan jika sudah, maka kita pun dapat menjawab pertanyaan yang terakhir, sudah semakin majukah Indonesia dengan Pancasila yang kita amalkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya akan banyak menghadirkan kebingungan dan membuahkan kegelisahan mengingat keberadaan kita saat ini ternyata masih banyak hal yang harus dijawab, ditindaklanjuti, dan diimplementasikan. Dan untuk meredakan kebingungan dan kegelisahan itu tentu tetap ada banyak jalan untuk mengatasinya.

Diantara jalan yang dapat kita tempuh menghilangkan kegelisahan-kegelisahan itu adalah dengan menelusurinya melalui berbagai hikayat cinta yang telah dilalui oleh para pejalan sunyi, dimana semuanya akan menjadi lebih mudah lantaran adanya benih-benih cinta. Berangkat dari pemahaman itu, kita dapat menyemai sebuah ungkapan yang akan menjadi mantra sekaligus doa, Aku Cinta Indonesia, Aku Cinta Pancasila.

Apakah ini akan manjur? Tentu, akan tetapi setelah kita meiringinya dengan tindakan yang nyata.