Dalam sejarah panjang perjalanan berbangsa-bernegara kita yakni perjuangan meraih kemerdekaan dan proses-proses setelah itu, tentu kita akan melihat ada Ideologi dan juga tiga kelompok besar yang ada dan sangat mempunyai pengaruh besar pada saat itu, yakni Islam, Nasionalis, serta Komunis, yang menurut Bung Karno mengenai Nasionalisme, Islamisme, Marxisme-Komunisme, inilah asas-asas yang dipeluk oleh pergerakan-pergerakan di seluruh Asia. 

Inilah paham-paham yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia itu. Rohnya pula pergerakan-pergerakan di Indonesia-kita ini.

Islam atau islamisme secara defenisi merupakan sebuah paham politik yang berasaskan ajaran islam. Islamisme juga bertujuan sebagai acuan bagi umat Islam dalam menjalankan syariat Islam di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. 

Nasionalis atau Nasionalisme merupankan suatu paham kebangsaan yang dikembangkan dalam rangka mempersatukan semua elemen yang ada pada suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada rasa cinta terhadap tanah air, bangsa dan negara serta ideologi dan politik. 

Sedangkan Marxisme-Komunisme adalah ideologi yang berkenaan dengan filosofi, politik, sosial, dan ekonomi yang tujuan utamanya terciptanya masyarakat komunis dengan aturan sosial ekonomi berdasarkan kepemilikan bersama alat produksi dan tidak adanya kelas sosial, uang, dan negara.

Tiga kelompok besar ini pulalah yang ikut berjuang memperjuangkan kemerdekaan negara-bangsa (nasion-state), baik secara konsep dan tindakan. Di sisi lain, ketiga kelompok ini juga berangkat dari nasib yang selalu dijajah, ditindas oleh kaum kolonial-imprealisme barat, sehingga muncul semangat yang sama pula yakni semangat untuk melawan penjajahan, penindasan dari kaum kolonial-imprealisme barat dalam mewujudkan pembebasan sosial (social freedom). 

Menurut Soe Hok Gie (2005), walau saat-saat perjalanan perjuangan itu ada perbedaan tersendiri yang lahir dari tiap kelompok ini. Sehingga dari perbedaan itu pula timbul perpecahan, konflik, dan lain sebagainya diantara satu dengan yang lainnya. Dari perpecahan dan konflik itulah muncul peristiwa-peristiwa tragis dalam sejarah bangsa Indonesia, seperti peristiwa G30S PKI, peristiwa Madiun, dan lain sebagainya. 

Tetapi perlu saya tekankan bahwa dalam tulisan ini saya hanya membahas dua ideologi, Islam dan Nasionalis. Karena memang hemat saya, hanya dua ideologi dan dua kelompok ini saja yang terlibat pada peristiwa perumusan dasar negara Indonesia, Pancasila. Hal ini diakibatkan karena semua tokoh Komunis tidak ada dan ikut terlibat dalam peristiwa sejarah itu.

Pancasila adalah lima nilai fundamental yang diidealisasikan sebagai konsepsi tentang dasar negara, pandangan hidup yang lahir dari pemikiran-pemikiran murni para tokoh bangsa Indonesia pada saat itu dengan jalan yang sangat luar biasa adanya, "musyawarah" untuk mencari dasar negara secara kolektif. Singkatnya, Pancasila itu adalah karya bersama anak bangsa.

Melawan Lupa 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai jasa para pendahulunya. Soekarno pernah berkata untuk mengingatkan kita semua bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah. Artinya, proses perumusan dasar negara pancasila bukanlah proses yang turun dari langit secara tiba-tiba, proses ini adalah peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. 

Sejarah pembuatan Pancasila ini berawal dari pemberian janji kemerdekaan di kemudian hari kepada bangsa Indonesia oleh Perdana Menteri Jepang saat itu, Kuniaki Koiso pada tanggal 7 September 1944. Lalu, dibentuklah Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (bahasa Jepang) yang artinya Badan Penyeledik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 29 April 1945 beranggotakan 62 orang dengan ketua Dr. Radjiman Wedyodiningrat dan wakil ketua RP Soeroso. 

Mereka dilantik pada tanggal 28 Mei 1945 dan bersidang di Gedung Pejambon Jakarta melakukan dua kali sidang, yang pertama dari tanggal 29 Mei  1 Juni 1945 dan kedua dari tanggal 10-16 Juli 1945.

Dari berbagai usulan-usulan yang muncul dari kedua kalangan (Islam dan Nasionalis) tentang dasar negara saat itu, Nasionalis melalui Moh. Yamin, Soepomo, dan Soekarno mengusulkan tiga asas sebagai dasar mendirikan negara yakni, 1) Moh. Yamin mengusulkan Peri kebangsaan, Peri kerakyatan, Peri kemanusiaan atau Kesejahteraan rakyat. 2) Soepomo mengusulkan Persatuan, Musyawarah, Keadilan rakyat. Sedangkan, 3) Soekarno mengusulkan Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia, Mufakat atau Demokrasi, Internasionalisme atau Peri kemanusiaan, Kesejahteraan sosial.

Sementara kalangan Islam menawarkan Ketuhanan (Islam) sebagai dasar negara. Dari dua penawaran berbeda inilah yang menjadi perdebatan panjang. Setelah melalui perdebatan yang panjang, dan tidak membuahkan hasil yang disepakati bersama, maka 38 anggota BPUPKI melanjutkan pertemuan dan menunjuk panitia kecil berjumlah 9 orang dan panitia kecil ini diberi nama PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). 

Maka pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia 9 berhasil merumuskan kesepakatan mengenai dasar negara yang diberi nama Piagam Jakarta (the Jakarta Charter) yang berisi rancangan Mukadimah (pembukaan Undang-Undang Dasar) yang didalamnya memuat dasar negara yang berisi:

Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 

Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab 

Persatuan Indonesia 

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan 

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Namun dari hasil kesepakatan ini, ada kalangan dari agama yang bukan islam yang merasa keberatan, tersinggung, merasa ada diskriminasi terhadap mereka karena bangsa Indonesia pada saat bukan hanya terdapat agama Islam saja tetapi juga ada agama-agama lain (Kristen, Hindu, Budha). 

Mereka diantaranya Sam Ratulangi dari wakil Sulawesi, Hamidhan dari wakil Kalimantan, I Ketut Pudja wakil dari Nusa Tenggara, dan Latuharhary wakil dari Maluku mengusulkan perubahan rancangan pada sila pertama pancasila dan pembukaan piagam jakarta. Keberatan dan usulan mereka diterima dan dikabulkan. 

Hasilnya, kata Mukaddimah diganti dengan kata Pembukaan, dalam Preaumble (Piagam Jakarta), anak kalimat: Berdasarkan kepada ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya diubah menjadi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kesadaran dan Semangat Bersatu

Pada proses perumusan pancasila kita akan melihat di dalamnya ada dua kelompok dengan paham ideologi yang berbeda, Islam dan nasiaonalis yang masing-masing mempunyai keterwakilan. Dilihat secara subtantif, semangat untuk bersatu ini berangkat dari kesadaran dan semangat untuk bersatu tentunya. Dalam pandangan saya ada dua hal yang menjembatani kesadaran dan semangat para pelaku perumusan pancasila ini. 

Pertama, persatuan kultur. Banga Indonesia adalah bangsa yang sangat majemuk yang terdiri atas berbagai suku, bangsa dengan adat istiadat, tradisi dan bahasa yang berlainan. Disamping itu, berbagai bentuk keyakinan baik yang tumbuh dari adat istiadat maupun dari agama dan pemikiran-pemikiran modern muncul, berkembang dan diyakini oleh masing-masing pengembannya. 

Hal inilah yang kemudian menyebabkan beragamnya bentuk keyakinan yang ada di Indonesia. Dan pada akhirnya dalam keadaan-keadaan tertentu dapat muncul gesekan dan perdebatan (war of thinking) dalam interaksi diantara sesama anggota masyarakat. 

Kedua, persatuan ketuhanan dan kemanusiaan (agama). Dalam islam diperintahkan agar umat manusia yang hidup dengan perbedaan latar belakang jenis kelamin, suku, golongan, dan lainnya harus melakukan kerja sama, tolong menolong, beradaptasi, bersinergi, dan membentuk suatu bangsa guna tercapainya kerukunan, kedamaian, toleran dan sejahtera. 

Pendasaran dari kesadaran ini rujukannya Al-Qur'an Surat Al Hujurat, 49: 13. Yang artinya, "Wahai Manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami menjadi kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah maha mengetahui, maha teliti". Selain memerintahkan manusia untuk membentuk persatuan dan bersinergi, ayat ini juga meletakkan dasar-dasar kesatuan atau kebangsaan tersebut.

Inilah satu keistemewaan tersendiri negara Indonesia karena ada bentuk pertemuan antara kelompok Islam dan Nasionalis, sebab hal semacam ini jarang terjadi di negara-negara lain. Misalkan di negara-negara di Timur Tengah tidak ada satu bentuk titik temupun antara islam dan nasionalis, sehingga sering terjadi konflik kemanusiaan sampai jatuhnya ribuan nyawa manusia diakibatkan benturan kedua kelompok ini. 

Hakikat Pancasila 

Perumusan pancasila sebagai suatu dasar dan falsafah dalam bernegara oleh para founthing father bangsa menjadi babak baru bagi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Kehadiran pancasila sebagai falsafah dan dasar Negara ini kemudian pada hakikatnya adalah pemersatu dari berbagai macam perbedaan yang ada dalam kehidupan kita untuk mencapai tujan bagi keberlangsungan dan kejayaan bangsa.

Dalam perjalanan sejarahnya, bahwa tepat di tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila telah menjadi dasar falsafah Negara (Philosophische Grondslag), ideologi negara dan pandangan hidup (Weltanschauung) bangsa Indonesia. Istilah-istilah tersebut bersumber pada pidato 1 Juni 1945 oleh Bung Karno. 

Dalam pidatonya, Bung Karno menyebut istilah Philosophische Grondslag sebanyak 4 kali plus 1 kali memakai istilah filosofische principe, sedangkan istilah Weltanschauung ia sebutkan sebanyak 31 kali.

Berdasarkan pendekatan itulah, sehingga pancasila diartikan adalah lima nilai fundamental yang diidealisasikan sebagai konsepsi tentang dasar (falsafah) negara, pandangan hidup dan ideologi kenegaraan bangsa Indonesia. Kelima nilai dasar itu adalah:

Ketuhanan Yang Maha Esa

Kemanusiaan yang adil dan beradab

Persatuan Indonesia

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut Yudi latif dalam bukunya Revolusi Pancasila, dijelaskan bahwa secara historis, kelima sila Pancasila merupakan perpaduan (sintesis) dari keragaman keyakinan, paham, dan harapan yang berkembang di negeri ini. Sila pertama merupakan rumusan sintesis dari segala aliran agama dan kepercayaan. Sila kedua merupakan rumusan sintesis dari segala paham dan cita-cita sosial kemanusiaan yang bersifat transasional. Sila ketiga merupakan rumusan sintesis dari kebhinekaan (aspirasi-identitas) kesukuan ke dalam kesatuan bangsa. Sila keempat merupakan rumusan sintesis dari segala paham mengenai kedaulatan. Sila kelima merupakan sintesis dari segala paham keadilan sosial-ekonomi.

Dilain tempat, Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna; Historitas, Rasionalitas dan Aktualisasi Pancasila menjelaskan bahwa sejak disahkan secara konstitusional pada 18 Agustus 1945. Singkat kata, Pancasila adalah dasar statis yang mempersatukan sekaligus bintang penuntun (Leitstar) yang dinamis, yang mengarahkan bangsa dalam mencapai tujuannya. Dalam posisi seperti itu, Pancasila merupakan sumber jati diri, kepribadian, moralitas, dan haluan keselamatan bangsa.