D

Tidak akan pernah ada kemanusiaan yang adil dan beradab kecuali setelah adanya kesadaran akan Ketuhanan Yang Maha Esa. (Arianto Achmad)

Pancasila sebagai Ideologi yang lahir dari pandangan dunia, yang berdiri di atas dasar-dasar epistemologi tertentu, dalam diskursus filsafat, tidaklah memiliki pengertian tunggal, atau bahkan penafsiran tunggal. Pancasila, sebagaimana dikatakan sendiri oleh Bung Karno, adalah ideologi yang dinamis, menandakan bahwa Pancasila itu bebas tafsir. Maksudnya adalah siapa pun bebas menafsirkan Pancasila sesuai basis epistemologi yang ia yakini yang dapat di pertanggungjawabkan secara akademik.

Itu artinya, kita tidak mungkin mengatakan bahwa tafsir kita lebih benar dan tafsir yang lain salah. Jika hal ini dipaksakan, maka yang terjadi adalah otoritarianisme dan diktatorianisme dengan alasan ideologis.

Hal semacam ini tentu kita hindari bersama. Sebab kita memiliki banyak referensi dalam sejarah bagaimana klaim kebenaran akan tafsir tunggal terhadap ideologi itu telah dijadikan sebagai alasan diskriminasi, penjajahan, dan segala macam kebengisan terhadap umat manusia.

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Yang paling dapat kita lakukan adalah kita hanya dapat berusaha merasionalisasikan ideologi itu secara kontekstual zaman, tentu sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia. Sehingga, bisa saja tafsir Pancasila era Bung Karno secara praksis berbeda dengan tafsiran pada abad ini. 

Memang, kita mungkin sepakat dengan hal-hal universal yang bersifat final yang termuat dalam rumusan Pancasila, yang menurut sudut pandang sejarah memiliki akar tradisi dan teologi masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu ketika masih berbentuk kerajaan-kerajaan mandiri.

Seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan. Kelima nilai ini, sejauh penelusuran sejarah, merupakan prinsip-prinsip hidup yang dijadikan sebagai pedoman dan pegangan masyarakat Indonesia dalam menjalani hidup dan kehidupannya, tentu sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual dan spiritual masyarakat itu sendiri.

Nah, pertanyaan kemudian adalah bagaimana dan seperti apa upaya merasionalisasikan ideologi Pancasila agar tetap kontekstual?

Baru-baru ini, sebagian kita dihebohkan dengan pernyataan Bung Rocky Gerung soal nilai-nilai Pancasila yang menurutnya terdapat kontradiksi. Ia mengemukakan bahwa Sila Pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, sejatinya bertentangan dengan Sila Kedua, yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Menurutnya, mustahil kemanusiaan atau humanisme yang memiliki akar sejarah dan pemikiran perlawanan terhadap gereja berpadu dengan nilai-nilai Ketuhanan. Sementara humanisme itu sendiri berusaha melawan dominasi gereja, melawan dominasi segala macam hal yang berusaha mengatur dan mengungkung kehidupan manusia atas dasar agama, atas dasar gereja.

Namun, seandainya Bung Rocky mau jujur, atau setidaknya membuka kembali catatan-catatan sejarah, maka ia mesti mengetahui bahwa dalam perkembangannya, jauh sebelum Eropa mengenal suatu pemikiran yang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan umat manusia, para nabi, khususnya Yesus AS dan Nabi Muhammad SAW, telah lebih dulu meletakkan dasar-dasar kemanusiaan yang jitu bagi perjuangan kemerdekaan dan kebebasan umat manusia.

Dengan prinsip egaliter, kesederajatan, anti-diskrimansi, anti-dominasi, anti-pemasungan hak-hak, dan bahkan anti segala macam penistaan nilai-nilai kemanusiaan atas dasar apa pun, termasuk klaim pemuka agama. Lalu, apakah dasar-dasar nilai kemanusiaan yang diletakkan oleh kedua manusia suci itu adalah kemanusiaan yang anti-agama, anti-Ketuhanan?

Secara teologia, kita menemukan akar kuat mengenai ajaran kemanusiaan yang memiliki ikatan erat dengan ajaran Ketuhanan. Kita dapat menemukan hal itu dam kita-kita agama samawi semisal Kitab Taurat, Kitab Injil, dan Alquran. 

Dikabarkan dalam Kitab Injil Matius Pasal 22 Ayat 36, ketika orang-orang Farisi yang ingin mencobai Yesus dan menanyakan, "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Lalu di lanjutkan oleh Yesus, "Perintah kedua sama pentingnya dengan yang pertama: Kasihilah sesama manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri." (Pasal 22 Ayat 39).

Sementara dalam QS  Al-Hujurat Ayat 13, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Sedangkan dalam QS. An Nisa Ayat 1, Allah SWT berfirman, "Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah swt. yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah swt. adalah pengawas atas kamu."

Sementara jika ditinjau dari sudut pandang historis sosiologis bangsa kita, maka sungguh kita dapati bahwa relasi masyarakat kita dibangun berdasarkan nilai kemanusiaan yang bertalikelindan dengan nilai-nilai spiritualitas yang diyakin oleh masyarakat. 

Bagaimana kita menyaksikan masyarakat Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku bahkan Papua, semua dasar-dasar nilai kemanusiaan mereka berdiri di atas dasar dan keyakinan bahwa sebagai manusia, mereka adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Tinggi, Tuhan langit yang Maha menciptakan segala sesuatu. Dan oleh karena mereka manusia adalah ciptaan Tuhan di langit itu, sehingga dalam menjalani kehidupannya, mereka berperan sebagai manusia yang menjalankan amanah Tuhan di muka bumi. 

Jadi, dengan demikian, kita telah membuktikan bahwa nilai kemanusiaan masyarakat kita dari zaman ke zaman terbangun di atas dasar nilai Ketuhanan yang kokoh.

Jika kita menelusuri sejarah relasi antara agama dan masyarakat yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat kita, maka jarang, atau bahkan tidak akan ada sama sekali kita temui antara pemangku adat atau agama memiliki pertentangan sosiologis religius sehingga menciptakan friksi yang menganga antara agama dan kehidupan sosial. Pertentangan semacam ini baru kita temukan ketika datangnya imperialisme pada interval abad pencerahan, atau ketika masa Revolusi Merkantil yang bergulir di Eropa kala itu. 

Hal itu dapat dipahami, sebab pada zaman itu, Eropa mengalami pergolakan ideologi dan teologi yang sengit. Bahkan karena pergolakan itu, sistem kehidupan Eropa mengalami perubahan secara drastis. Hingga mengubah segala sistem ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan mereka.

Contoh yang paling konkret dampak dari perubahan itu adalah ketika terjadinya Revolusi politik di Prancis, Revolusi Industri di Inggris, dan juga Revolusi Konstitusi di Belanda, yang kesemuanya membatasi peran agama dalam kehidupan sosial. 

Dari semua pergolakan yang disebutkan di atas, jika ditelusuri secara mendasar, maka kita akan dengan cepat mengetahui bahwa pemicu utama semua pergolakan itu adalah karena perubahan cara pandang bangsa-bangsa Eropa dalam melihat relasi manusia, Tuhan, dan alam.

Pada mulanya Eropa sangat meyakini mistisisme. Semua yang bersifat takhayul diyakininya sebagai sumber kebenaran. Lalu datanglah agama sebagai pengganti otoritas kebenaran itu. Dan hal ini terjadi berabad lamanya.

Sementara, pada perkembangannya, lahirlah pemikir-pemikir seperti David Hume, John Locke, George Berkeley, dan beberapa lainnya dengan gagasan mereka tentang empirisme. Menurut mereka, segala sesuatu tidak berasal dari Tuhan. Begitu juga dengan kebenaran, kebebasan, dan kemerdekaan, semua itu adalah hasil dari perjuangan manusia sendiri, bukan sesuatu yang di berikan oleh Tuhan, apalagi gereja. 

Maka pemikiran ini, yang bertumpu pada basis epistemologi empirisme, menjalar dan memengaruhi seantero Eropa. Berubahlah alam pemikiran Eropa. Bukan hanya pemikiran saja, namun perubahan itu juga berpengaruh pada sistem kehidupan mereka. 

Lalu suatu ketika, sebagian orang menggugat legitimasi dan otoritas gereja sehingga pada akhirnya peran gereja dibatasi bahkan dihilangkan sama sekali dari urusan-urusan manusia dan kehidupan sosial. Dengan demikian, gagasan sentral religius, spiritualisme, berganti dengan gagasan humanisme. Agama dengan gereja sebagai pusat otoritas diganti dengan manusia sebagai pusat segala kebenaran, kebaikan, dan lain sebagainya.

Dari pemaparan singkat di atas, maka kita mendapatkan gambaran bahwa humanisme Eropa lahir dari pergolakan perlawanan empirisme terhadap agama dan gereja (spiritualisme). Sementara humanisme timur, khususnya Indonesia, tidak demikian. 

Humanisme kita adalah humanisme yang lahir dari kesadaran teologis. Humanisme yang menyadari bahwa manusia tak mampu hidup di luar dari batas-batas nilai-nilai spiritualitas. Jadi, humanisme kita menurut sudut pandang sejarah dan kefilsafatan memiliki landasan epistemologis yang berbeda secara fundamental dengan Eropa.

Sampai di sini, maka apa yang dikemukakan oleh Bung Rocky bahwa Sila Pertama bertentangan dengan Sila Kedua adalah karena ia memahami bahwa humanisme dalam Sila Kedua adalah berakar dari tradisi humanisme Eropa yang empirisme, materialisme. Padahal para pendiri bangsa yang merumuskan Ideologi Pancasila itu tidak sama sekali menjadikan humanisme barat sebagai acuan dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan.

Para pendiri Bangsasebagaimana yang dikemukakan di atas, justru menggalinya dari keadalaman tradisi dan agama yang hidup dan berkembang dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sendiri. Sehingga, menurut sudut pandang ini pula, humanisme yang berlandaskan religiositas yang diyakini sebagai identitas bangsa adalah akumulasi nilai kemanusiaan yang berakar pada nilai tradisi dan agama yang ada di Indonesia. Dan tidak satu pun agama yang ada di Indonesia yang tidak memiliki akar teologisnya masing-masing 

Sampai di sini pula, maka sudah terang benderanglah bahwa apa yang dikemukakan oleh Bung Rocky adalah suatu over generalisasi terhadap sejarah perkembangan paham kemanusiaan di dunia. Bahkan apa yang dikatakannya adalah bukti kedunguannya yang lahir dari kebuntuan epistemologis yang nyata!

Akhirnya, the last but not least, aku menyarankan kepada Bung Rocky agar mengikut jenjang pengaderan di Human Illumination tentang Pancasila, supaya ia dapat memahami dengan benar-benar, bahwa setiap sila dalam Ideologi Pancasila memiliki basis pandangan dunia dan landasan epistemologis yang kuat, kokoh, dan padu satu sama lainnya. 

Supaya ia dapat memahami dengan jelas sejelas-jelasnya, bahwa Ketuhanan dan Kemanusiaan tidak sama sekali memiliki pertentangan secara epistemologis seperti apa yang ia kemukakan.

Sebagai penutup, aku akan mengutip wejangan dari guruku sendiri, Sesungguhnya Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab itu hanya terdapat pada jiwa-jiwa insan kamil. Jiwa yang telah menyerupai( akhlak) Ketuhanan Yang Maha Esa". (Arianto Achmad)