Apa itu Dasar Negara dan fungsinya? Apa itu Pancasila sebagai sebuah Dasar Negara?

Kita dapat menilik pengertian Dasar Negara dari beberapa ahli. Menurut Karl Marx, mendefinisikan Dasar Negara sebagai suatu peringkat yang memiliki kekuasaan dalam menjalankan eksploitasi kepada kelas lain. 

Penjelasan dari Marx memang agak nyeleneh dan terdengar kasar. Namun saya mengartikannya sebagai sebuah pedoman atau petunjuk guna menjalankan otoritas pada suatu kelompok besar.

Lain halnya dengan George Jellinek, bahwa Dasar Negara ialah sebuah organisasi dengan kekuasaan suatu kelompok yang bertempat di suatu wilayah.

Aristoteles menjelaskan bahwa Dasar Negara merupakan perpaduan antar-keluarga sampai pada beberapa desa, sehingga dapat berdiri mandiri dengan tujuan yang sama, yaitu mendapatkan suatu kesenangan dan kehormatan mereka.

Nah, untuk pengertian secara lebih luasnya, Dasar Negara merupakan landasan untuk dapat mengatur kehidupan bernegara hingga sampai pada cita-cita yang diharapkan suatu negara tersebut. Dan Indonesia memiliki Pancasila sebagai Dasar Negara yang kuat.

Lalu, apa fungsi sebuah Dasar Negara?

Dasar Negara mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk suatu negara. Karena berfungsi sebagai landasan mengapa negara tersebut didirikan. 

Tidak hanya itu, Dasar Negara juga merupakan dasar dari segala kegiatan penyelenggaraan suatu negara, bahwa negara yang berdiri dapat mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional, serta sebagai sumber segala hukum, dan terpenting sebagai jembatan dalam pergaulan antarwarga negara yang berbeda-beda.

Dari semua pengertian di atas, kita kilas balik sedikit tentang perjuangan para pendahulu dalam merumuskan Dasar Negara kita, yakni Pancasila. 

Pancasila bukan hanya landasan berbentuk salinan teks ecek-ecek belaka. Tapi Pancasila lahir berawal dari buah pemikiran brilian Soekarno saat beliau berada di perasingan Ende, sekitar tahun 1934. Kemudian dikonsep pula oleh M. Yamin dan Soepomo dalam versi mereka. 

Dari ketiga bahan cikal bakal dasar negara yang diajukan, lalu dirundingkan bersama dan lahirlah rumusan yang sah berbentuk Pancasila, di mana keutuhannya menjadi sebuah ideologi yang kuat demi mempertahankan persatuan Indonesia.

Lantas, apa guna Pancasila sebagai dasar negara negeri ini? 

Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Lima sila tersebut, apa fungsinya di negeri ini?

Jika saat ini dalam penerapan di segala aspek kehidupan bernegara, sangat jauh dari sikap mencerminkan Pancasila. Bahkan bisa dikatakan kita sudah lupa bahwa kita memiliki Pancasila. 

Sekarang kenyataannya, Pancasila hanya dijadikan sebagai hiasan dinding semata yang dipajang di kelas-kelas, kantor, atau ruangan formal lainnya. Itu dasar negara? Pedoman kita? Sebegitu remehnya ia di mata anak bangsanya kini? Miris.

Lirik saja kehidupan di kalangan masyarakat kini. Apakah Pancasila masih pantas disebut sebagai dasar negara yang sebelumnya diiming-imingi kesaktiannya? Atau hanya paradoks omong kosong?

Pantas saja negeri ini terombang-ambing, bagai tidak ada lagi jati diri yang merekat. Bagaimana Ketuhanan yang Maha Esa nyatanya ramai terhadap isu penista agama. Sangat intoleran dengan perbedaan agama dan kita tidak mau belajar untuk sedikit mengerti dan menerima semua perbedaan itu. Tidak menggambarkan sila kesatu.

Lalu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, jika tingkah laku kita yang selalu merasa paling benar justru menjadi bumerang keributan tiada henti. Gemar mem-bully di dunia nyata dan maya. Apakah kita masih disebut beradab?

Persatuan Indonesia. Kita berperang melawan penjajah berwujud bangsa kita sendiri. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa kita semua enggan untuk belajar mentolerir perbedaan yang alamiah tercipta, hingga pantaslah bangsa kita terpecah belah.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan. Bermusyawarah atas kepentingan pribadi, kelompok atau bersama? Jika dalam forum-forum masih suka adu debat kebaperan pribadi, maka bulshit untuk sila keempat.

Dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Nyatanya, sudahkah kita adil terhadap diri sendiri? Mengasihi orang-orang yang dekat di sekitar kita? Memanfaatkan kekayaan sumber daya sesuai pada tempat dan porsinya yang tepat?

Dari contoh fenomena di atas hanya sekadar gambaran kecil saja bagaimana keadaan masyarakat kita yang sebenarnya, di mana justru masalahnya malah sudah semakin kompleks dan mengakar. 

Patutlah kita harus merenungkan kembali makna Pancasila, fungsi beserta penerapannya dalam kehidupan bernegara yang kuat. Sehingga, apa yang para pendahulu harapkan tentang negara dan dasarnya sesuai dengan apa yang dicita-citakan bersama, bukan lagi benda mati yang hanya dipajang saja tanpa diterapkan.