Dengan suara lantang dan tanpa teks, Bung Besar Ir. Sukarno berpidato menyampaikan gagasan beliau tentang Dasar Negara Indonesia di depan peserta sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) Indonesia pada 1 Juni 1945. Di tengah perbedaan paham para peserta sidang pada saat itu dan keadaan dunia yang terbagi dalam 2 ideologi diantara Manifesto komunis serta Declaration of Indipendence, Bung Karno tegak berdiri membawa suatu nilai jati diri Bangsa yang menjadi “Philosophische Grondslag” dan “Weltanschauung” Indonesia yang disebut Pancasila. 

Sekaligus menjadi titik temu diantara paham peserta sidang yang beraliran Nasionalis dan Islamis. Sehingga momentum ini bukan saja tentang lahirnya Pancasila yang menjadi peristiwa sejarah yang menarik, namun bagaimana para bapak dan ibu Bangsa kita mempraktekan “Demokrasi Deliberatif” jauh sebelum Jugen Hubermas mengemukan teori ini. Sungguh sejarah yang membawa nilai teladan bagi anak bangsa kini.

Namun jikalau kita menarik benang sejarah Bung Karno dan Pancasila dalam penggaliannya dari 1945 hingga itikaf beliau di bawah pohon sukun ketika diasingkan ke Ende pada rentang waktu 1934 - 1939, kita menemukan Marhaenisme pada tahun 1930. Berdasarkan catatan Bernhard Dahm kata marhaen pertama kali digunakan beliau pada pledoi terkenalnya “Indonesia Menggugat” di tahun tersebut. 

Tetapi pemikiran Bung Besar tentang paham ini terbentuk pada tahun 1927 ketika beliau sedang bersepeda mengitari pertanian di Kota Bandung dan bertemu seorang petani yang bernama Marhaen.

Ada kesamaan nilai jika kita melihat Marhaenisme yang mengandung nilai Sosio – Nasionalisme, Sosio – Demokrasi yang memuat Sosio – Ekonomi Politik, Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Pancasila. Maka banyak pihak menyebutkan “Pancasila is Marhaenism, Marhaenism is Pancasila. Namun sebenarnya juga tidak bisa disebutkan segamblang demikian, ada pula perbedaan daripada Pancasila dan Marhaenisme.

Pancasila merupakan sebuah nilai – nilai luhur Bangsa yang disepakati pada Sidang BPUPK 1 Juni 1945 dan ditambah dengan maknanya pada setiap nilai yang beliau uraikan dalam beberapa kali peristiwa.

Pemaknaan dari nilai tersebut dapat kita pahami pada buku “Filsafat Pancasila menurut Bung Karno”. Sedangkan Marhaenisme mengandung filsafat materialis – historis dan tersistem. Maksud daripada tersistem disini ialah selain nilai yang di kandungnya Marhaenisme memiliki rumusan, unsur golongan marhaen, asas perjuangan, tujuan utama dari perjuangan, kerangka revolusi – perjuangan, dan tahap perjuangan – pembangunan. Dengan kata lain, Marhaenisme lebih kompleks dari Pancasila.

Lalu jika kita berbicara tentang ideologi, timbul pertanyaan apakah Pancasila adalah sebuah ideologi yang sama? atau apakah letak ideologi Pancasila terdapat pada Marhaenisme? dengan menggugurkan Pancasila adalah sebuah Ideologi, apakah  benar demikian? Jika kita merujuk pada KBBI, ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. 

Louis Althusser menyebutkan ideologi adalah segala yang sudah tertanam dalam diri individu sepanjang hidupnya (History turn into nature). Bukanlah suatu “kesadaran palsu” seperti yang disebutkan Marx pada “The German Ideology”. G. W. F Hegel menggambarkan ideologi sebagai produk kebudayaan dari suatu masyarakat. 

Lalu Alfian dalam bukunya “Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia” menyatakan ideologi ialah pandangan atau sistem bilateral yeng menyeluruh dan mendalam mengenai suatu cara hidup yang secara moral dianggap benar dan adil.

Dari berbagai pendapat yang telah disebutkan, dapat kita ketahui bahwa pengertian ideologi tidak mudah untuk dirumuskan. Hanya saja yang dapat kita pastikan ideologi selalu menyebutkan bahwa dirinya ialah suatu “kebenaran”. Selain karena konsepnya yang abstrak, pemaknaan seseorang terhadap ideologi juga beragam. 

Lantas kemudian kita kembali lagi berbicara Pancasila dan Marhaenisme dalam konteks Ideologi. Pancasila dan Marhaenisme sama – sama dapat dikatakan sebuah Ideologi. Walaupun ada beberapa para ahli dan pengamat saat ini yang menyebutkan Pancasila bukanlah sebuah ideologi serta mengklaim bahwa tidak ada sumber sejarah para tokoh bangsa Indonesia terdahulu menyebutkan hal yang demikian, maka saya sebagai penulis berani membantah pernyataan ini.

Sebetulnya Bung Karno telah menyampaikan secara tersirat melalui penyataan beliau yang mengkritik filsuf Inggris Lord Bertrand Russell yang membagi penduduk dunia kala itu menjadi 2 kelompok yaitu pengikut Declaration of Indipendence dan Manifesto Komunis. Bung Karno menyebut Russel melupakan sesuatu, yaitu masih banyak penduduk di Dunia tidak mengikuti paham tersebut dan memilih Pancasila. Pada pernyataan tersebut sangat jelas Bung Karno memposisikan Pancasila “setara” dengan ideologi besar pada saat itu.

Tetapi ketika kita telah bersepakat bersama bahwa Pancasila ialah sebuah ideologi yang menjadi dasar Negara serta “sumber daripada segala sumber” dan disaat yang bersamaan Marhaenisme pun dalam nilai yang merupakan inti daripada semuanya substansinya, maka bisa dinyatakan bahwa Pancasila adalah ideologi dan Marhaenisme ialah asas perjuangannya.

Namun kesimpulan dari Pancasila dan Marhaenisme saat ini ialah menjadi pemikiran kita bersama bagaimana entitas tersebut betul – betul dapat dipahami secara seksama dan dengan penuh kesadaran dalam jalannya bermasyarakat, berbangsa, serta bernegera. 

Dalam memahami Pancasila, seharusnya terlebih dahulu memahami Marhaenisme. Maka akan timbul pemahaman Pancasila yang komprehensif dan timbul kesadaran akan dirinya (The Social Consience of Man) serta keadaan bangsanya. Pancasila dan Marhaenisme bukanlah sebuah “jalan ketiga” seperti yang disebutkan Anthony Giddens diantara 2 ideologi besar saat itu. 

Hal ini dikarenakan ideologi kita merupakan sebuah antitesa dan bukan sebuah “pendamaian” antara ekonomi pasar bebas dengan ekonomi demokrasi sosial. Kini bahkan dunia sangat mengakui bagaimana Pancasila menjadi ideologi yang terbaik terlebih dengan hyrbridnya ke ideoligian dan keadaan dunia seperti yang diakui oleh Prof. Thomas Meyer seorang Pakar Ilmu Politik Universitas Dortmund Jerman. 

Memang Pancasila yang mengandung nilai yang statis dan sekaligus dinamis akan selalu mampu menjawab tantangan bangsa dan dunia. Pancasila dan Marhaenisme yang merupakan suatu warisan daripada pendahulu merupakan asa besar dan sebuah Leitstar untuk memandu kita menuju cita sosial keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.