Beberapa waktu lalu, aku mendengar kabar, ada gerakan sosial yang melibatkan hanya beberapa orang mengangkat isu tentang keberagaman. Berkelindan dengan peristiwa lain yang melibatkan ratusan orang yang sedang menghadang pembangunan tempat ibadah.

Bahwa kedua fakta tersebut memberikan sketsa tentang praktik kehidupan berbangsa kita dewasa ini. Peristiwa yang seolah abnormal, ujian yang terkadang buat kita frustrasi. Frustrasi sebagai warga yang telah sepakat hidup dalam satu atap Bhinneka Tunggal Ika.

Menebarkan kebencian, menyebarkan berita bohong (hoaks), memancing permusuhan sehingga timbulkan gejala perpecahan bahkan mengundang ekstremisme di antara kita sebangsa.

Terkadang ada saja (sekelompok) orang-orang tertentu yang kerap mempertentangkan Pancasila dan agama. Seperti kata orang-orang, merasa beragama mayoritas terhadap keberagaman minoritas, padahal setiap orang beragama.

Adalah semua itu laku buruk, malpraktek Pancasila! Termasuk berbagai penyakit sosial, seperti praktik korupsi, kolusi, monopoli, ologpoli dan kartel yang mewarnai kehidupan berbangsa.

Kalau begitu, pertanyaan paling sederhana, lantas bagaimana bisa kita membangun kejayaan peradaban di atas realitas kebinekaan kita?

Rasanya kita semua sudah selesai dengan ideologi bangsa ini. Heroisme Pancasila sebagai pilar, fondasi, atau basis utama kita hidup berbangsa dan bernegara telah final tak perlu lagi diperdebatkan! Bahwa Pancasila telah menjadi konsensus tertinggi bangsa ini.

Kita akui bahwa para the founding fathers telah membuat sejarah besar. Kini giliran kita merawat dan melanjutkan estafet sejarah tersebut. Sebab sebagai anak muda bangsa Indonesia, aku, dan tanpa terkecuali siapa pun juga memiliki tanggung jawab yang sama terhadap baik-buruk atau maju-mundurnya peradaban bangsa ini.

Tentang kontradiksi toleran dan intoleransi, tentang diskriminasi dan keadilan hukum, soal klasik keberagaman (multikulturalisme) kebangsaan kita yang harus kita tenun. Mengamalkan, mempraktekkannya atau membumikan Pancasila itu, hemat saya, adalah sadar akan multikulturalisme.

Kita tak boleh nakal membuat sejarah (ideologi) negara sesuka hati masing-masing. Maksudnya, nalar, keyakinan dan multikulturalisme kita memang berbeda. Tetapi dengan Pancasila yang tersusun dari pemahaman keruntutan proses penafsiran atas fakta-fakta sosial Indonesia, telah diterima secara bulat dalam pilar kebinekaan menyatukan yang luas.

Tekstualis ke Kontekstualis

Maksudnya, Pancasila itu tidak mengawang-ngawang, abstrak di ruang yang tidak jelas. Tentu saja nilai atau inspirasinya dapat dipraktekkan secara konkret dalam keseharian kita.

Kita yang hidup dalam suasana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maju sekarang ini. Berbagai realitas baru tumbuh dan berdinamika. Maka tidak cukup mengamalkan Pancasila dengan model yang konservatif, perlu adaptasi dimensi pengamalannya.

Melalui kreasi-rekreasi kegiatan-kegiatan yang relatif mudah digerakkan. Kegiatan yang merefleksikan Pancasila. Penguatan soliditas, menomorsatukan ukhuwah kemasyarakatan, kegiatan yang mengajarkan kesejajaran, mengajarkan kemahamurahan hati antar sesama, kegiatan yang mengajarkan kerukunan, dan bersatu menaklukkan apa saja yang berbau feodalistik.

Ketika pilihan mekanisme lain macet, ikhtiar semacam itu jelaslah merupakan satu media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai model praktik konkret Pancasila ke depan.

Untuk itu, simbol-simbol penghubung persatuan atau persaudaraan semacam memang perlu dibangun sebanyak-banyak agar membantu kita anak bangsa menjadi perasa dan peka antara sesama.

Kekerasan simbolik yang terkadang muncul itu, kita percaya sebagai efek sesaat psikologis akibat dari pertengkaran politik elite yang memainkan sentimen aliran moral komunal agama, suku, etnik, ras kemarin yang lalu menjadi kesalahpahaman ideologis.

Peran Kreasi Pemuda

Negeri ini melimpah kemujurannya, tapi hanya orang-orang yang punya kemauan dan tekun yang dapat menikmati kemerdekaan tersebut. Prinsip demikian itu digunakan oleh penguasa-penguasa bbangsa Persia. Bagi mereka, kemujuran adalah kemampuan memanfaatkan itu.

Bagi kita, kemujuran adalah kemampuan mengontekstualisasikan yang tekstual. Usai itu, maka tibalah saatnya kita menikmati kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi.

Kita prihatin, terutama terhadap atmosfir embrio kepemudaan kita yang terjebak oleh mainstream politik sekat akhir-akhir ini. Kondisi masyarakat kita yang mudah terpengaruh dengan godaan globalisme dan modernisme barat, sehingga nilai-nilai humanisme keindonesiaan kita ikut tergerus layu. Keadaan ini yang memacetkan keluasan intelektual dan menumpulkan etos kita.

Memang diakui, betapa pun tentu saja kemewahan yang datang di luar budaya keindonesiaan tak bisa dielak. Tetapi Pancasila mestinya tetap menjadi mozaik, haruslah menjadi perisai. Sehingga sederas apa pun arus luar, bisa menjadi ringan.

Kaum muda tak mesti melulu berpandangan atau bersikap-laku dengan mengandalkan teriakan yang mengandung kritikan atau protes, bergolak terhadap dinamika atau skeptis terhadap sesama kawan (saudara) yang kebetulan saja beda selera pandangan politik.

Selain perlu juga berlaku arif pada diri sendiri agar tumbuh natural kesadaran sosialnya. Tugas pemuda ialah menuntun pancasila secara kolektif. Artinya perdebatan ideologi kita harus daratkan pada dunia empiris.

Terlalu banyak keterlibatan dan cerita heroik kaum muda yang bisa kita kliping. Kepeloporan kita boleh bangga, tapi juga jangan lupa pada realitas sosial yang mengancam tata pergaulan kita.

Semangat kepeloporan dan partisipatoris kaum muda itu, kini dunia nyata membutuhkannya untuk harus bersentuhan dengan problem-problem riil yang dihadapi bangsa. Bangsa saat ini butuh pemuda sebagaimana dimaksud dalam pidato Bung Karno, “Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia.”

Ini menyiratkan kaum muda sebagai sosok yang energik, aktif dan memiliki semangat serta daya juang yang tinggi. Dituntut memiliki pandangan visioner, mampu mengambil peranan penting membangun imperatif-imperatif sosial dalam negara. Banyak yang ingin memalingkan kita dari sejarah, ada pula yang berupaya membutakan generasi muda pada sejarah. Adalah semua itu termasuk musuh-musuh Pancasila.

Khusus kepada pemuda Indonesia yang melimpah, tumbuh dan berkreasilah! Sebab negara serta perkembangan peradaban menyandarkan harapan pada sebuah karya, inspirasi dan kreasi yang Pancasilais dari anak-anak muda.

Tumbuhkan rasa-karsa, solidaritas dan keadilan sosial untuk sesama anak bangsa. Itulah kehidupan "Pancasila dalam Tindakan" sesuai falsafahnya yang menjadi tema besar dalam memperingati hari lahir Pancasila, 1 Juni Tahun 2020 ini.

Terakhir, tiba-tiba saja saya tergerak ingin mengutip puisinya Wiji Thukul. Puisi yang menyajikan sastra, ‘Tujuan Kita Sama Ibu’.

Esai ini saya rancang untuk disampaikan secara lisan orasi Pancasila Ketua Umum DPP KNPI pada forum Deklarasi Pembumian Pancasila di Gedung Sate, Bandung, 16 Februari 2020 lalu.