Cerita yang saya tulis  ini adalah true story, seorang Pamong Desa rasa Nakes. Cerita  baik coba saya dokumentasikan menjadi agar dapat meninggalkan jejak digital tentang praktik baik yang dilakukan oleh seorang abdi negara, abdi masyarakat dalam menangani Coronavirus Virus – 19, khususnya di Desa Panggungharjo.

Di bawah kepemimpinan Lurah Wahyudi Anggoro Hadi, yang kebetulan adalah pamannya sendiri, kehadirannya memegang peranan penting dalam penanganan di Shelter Tanggon Kecamatan Sewon ( biasa dikatakan Shelter Gabungan Desa atau Shelter SMKN 2 Sewon). Berikut ini adalah tulisan Pak Bimo (saya biasa menyapanya), hanya beberapa kata saja yang kami edit, supaya lebih enak untuk membacanya.

Nama  saya : Hosni Bimo Wicaksono. Jabatan saya  : Koordinator divisi Pelayanan. Divisi Pelayanana membawahi 2 sub divisi  : medis dan non medis. Sebagai perangkat desa, di dalam Pemerintah Kalurahan Panggungharjo yang mengemban tugas sebagai kepala seksi sosial yang disebut sebagai seorang Kamituwo dalam istilah keistimewaan DIY, kesehatan merupakan salah satu tugas yang harus dilakukan selain sektor lain yang ditangani diantaranya kebudayaan, sosial, pendidikan, kelompok rentan, keagamaan, dan lain sebagainya. 

Disaat gelombang ke-2 atau ke- 3 pandemi Covid menyerang, banyak kasus positif di desa hingga ratusan warga harus isoman di rumah karena fasilitas kesehatan tidak mampu menampung. Termasuk soal pengelolaan data kasus pun tidak mampu di kelola oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam hal ini puskesmas sebagai mitra desa.

Kemudian Pemerintah Desa berinisiatif untuk mengadakan shelter desa meski di wilayah Panggungharjo sudah ada 2 fasilitas yang dipakai oleh  Shelter Kabupaten yakni, Shelter Niten di Jaranan dan Shelter Patmasuri di Krapyak Kulon.  Dengan segala keterbatasan, akhirnya kami membuka shelter desa pada tanggal 26 juni 2021 sekaligus melaunching aplikasi penanganan kasus Covid - 19 yang kita beri nama bantultangguh.com.

Dengan aplikasi itu warga bisa melaporkan kondisi kesehatan hariannya kepada pemdes sehingga kami bisa melakukan respon atas laporan warga tersebut. Respon bisa diberikan tergantung dari kategori dalam aplikasi berdasar laporan warga, apakah OTG, gejala ringan, gejala sedang maupun gejala berat.

Untuk OTG dan gejala ringan bisa kami tempatkan di shelter desa jika memang secara sosial tidak memungkinkan isoman di rumah misal karena rumah sempit dihuni banyak anggota keluarga, tidak mungkin pisah kamar dan kamar mandi, atau ada kelompok rentan yang ada di rumah seperti lansia, balita, ibu hamil atau punya komorbid.

Nah di shelter, kemudian menjadi tugas kami di divisi pelayanan pasien baik secara medis maupun non medis. Di shelter kami punya 50 bed yang kami siapkan untuk warga yang OTG atau gejala ringan, meski faktanya kadang ada warga yang gejala sedang dan berat sekalipun harus kami terima karena Shelter Kabupaten dan rumah sakit penuh.

Warga yang akan masuk shelter, setelah ada permohonan dari padukuhan secara analisis non klinis atau sosial dan persetujuan klinis dari puskesmas dan tentu data warga sudah ada dalam pantauan link bantultangguh.com, warga kami terima di shelter. Kami juga siap jika warga harus dijemput dirumahnya untuk kami bawa ke shelter karena ada armada ambulan milik puskesmas yang kami siapkan di shelter.

SOP yang kami lakukan adalah melakukan cek tanda tanda vital (TTV) saat warga/ calon penghuni shelter datang, meliputi cek tekanan darah, suhu, nadi dan saturasi dengan alat kesehatan dan kami tanya gejala-gejalanya lalu kami masukkan di data pasien shelter yang ada dalam aplikasi bantultangguh.com.

Kemudian kami berikan paket kit pasien berupa sprei, selimut, alat mandi, dan alat makan lalu kami persilakan untuk masuk kamar. Kami sediakan makan 3x untuk pasien, pagi siang malam. Di saat bersamaan kami mengelola shelter, kami juga melayani warga berdasar laporan dan pantauan di bantultangguh.com misal permohonan visit untuk cek TTV karena warga bergejala, butuh obat, bahkan warga yang mungkin darurat butuh oksigen.

Saat ada panggilan itu kami lalu memakai APD, membawa alat kesehatan untuk TTV kemudian menggunakan armada ambulance kami visit mengunjugi warga. Setelah kami visit, cek TTV, hasilnya kami sampaikan ke WAG klinis yang ada kepala puskesmas, dokter, dan lurah yang akan memberikan rekomendasi apakah yang bersangkutan isoman dirumah, shelter atau dicarikan rujukan ke Shelter Kabupatan atau rumah sakit, termasuk resep untuk obatnya.

Misal rekomnya adalah dibawa ke shelter, langsung kami bawa ke shelter desa dengan menggunakan ambulance yang kami bawa. Kami melakukan kegiatan medis ini tentu kami bukan tenaga kesehatan (nakes) apalagi tenaga medis yang terdaftar di kemenkes kami hanya perangkat desa yang harus melakukan hal ini untuk melayani warga dalam kondisi darurat.

Kami lakukan itu siang malam. Dalam melakukan ini tentu ada suka dukanya. Suka karena kami  bisa membantu warga, menolong warga yang membutuhkan, bisa segera melayani panggilan warga yang membutuhkan. Sepulang dari cek warga, ada warga yang membawakan kami oleh-oleh, buah tangan hasil dari usaha nya sendiri (pembuat keripik Belut).

Hal ini membuat kami haru namun juga bingung dan cemas karena sampai di shelter kami ragu untuk memakannya karena kan makanan ini dibuat oleh warga yang positif (hehe). Dukanya, saat kami merespon panggilan warga, sesaat kami sampai di rumah warga untuk kami cek, ada warga yang sudah meninggal atau sudah tidak ada tanda tanda kehidupan, justru tanda-tanda nyawanya sudah pergi.

Atau ada kabar setelah beberapa hari kami cek lalu sudah dibawa ke rumah sakit rujukan, warga tersebut meninggal dunia. Tentu kabar itu membuat kami sedih walaupun kami lalu mencoba untuk menghibur diri dengan bahwa kami sudah lakukan semampu kami untuk memberikan pertolongan pertama.

Selain itu, pada tanggal 1 Agustus 2021, setelah sekitar lebih dari satu bulan shelter berjalan, saya merasakan gejala, saya tidak enak badan, batuk, demam. Tanggal 2 Agustus 2021 saya tes swab antigen dan hasilnya positif. Langsung istri dan anak saya minta untuk tes antigen, alhamdulillah hasil negatif, dan langsung saya minta mengungsi di rumah orang tua dan saya isoman di rumah sendiri.

Sampai hari ke3 saya merasakan lemas, pegel linu, batuk, alhamdulillah tidak sesak napas. Saya siapkan alat untuk cek tekanan darah/ tensi, saturasi, dan suhu. Yang biasanya saya melakukan cek ke warga, sekatrang saya cek diri saya sendiri setiap hari. Dan alhamdulillah hasilnya baik.

Saat isoman, saya dikirim makan 3x oleh istri. Banyak juga dari saudara, kerabat, dan kolega yang memberi semangat motivasi bahkan juga mengirim paket bingkisan makanan buah dan lain sebagainya. Saya jadi terharu karena banyak yang peduli. Termasuk banyak WAG yang tau memberikan semangat seperti WAG teman sekolah, warga, kader dan rekan-rekan yang melakukan video call untuk memberikan semangat.

Bahkan ada satu WAG kader yang membahas untuk melakukan gotong royong iuran untuk membeli bingkisan yang akan diberikan kepada saya, padahal saya ada dalam WAG tersebut. Setelah lama meraka saling bahas dalam WAG, saya kemudian saya muncul ikut komen.

Saya bilang dalam WAG tersebut, “ga usah repot-repot bu, bantu aja tetangga atau warga di sekitar ibu-ibu. Saya ga papa kok, hehe”.  Spontan semua yang ada di WAG kaget dan tawa pecah karena mereka baru sadar bahwa orang yang dibahas oleh mereka ternyata ada dalam satu WAG bersama mereka, hahaha. 

Penciuman saya juga menghilang, baru muncul kembali sekitar hari ke 12. Pada hari ke 14 ternyata masih ada batuk sedikit sehingga diminta oleh puskesmas untuk melanjutkan 3 hari isoman, dan di hari ke 17 terbit surat sehat dari puskesmas. Alhamdulillah sekarang sudah sehat dan siap kembali bertugas melayani warga.   

Saya akhiri cerita ini, dengan sebuah  kalimat yang pernah diucapkan oleh Wahyudi Anggoro Hadi,”luka yang paling pedih ketika melihat rakyat kita sudah mau mati, tapi kita tidak bisa ngapa – ngapain, tak ada lagi yang bisa kita lakukan kecuali hanya menemani”.

(JUNAEDI, S.E., esais Mbantul, Crew Media Sanggar Inovasi Desa)