Gedung mewah itu baru saja mereda, basah keringat belum sempat kering. Percikan darah, bau amisnya belum terganti oleh harumnya kendaraan pribadi. Mereka sudah bikin ulah. 

Aku berjejer bersama mereka, orang yang belum sempat pamit. menunggu dan menanti, menunggu kapan kau akan sadar diri, menanti keputusan terbaik rakyat kami bukan rakyatmu sendiri. Setiap hari ku lihat kau keluar masuk tanpa permisi, dengan penampilan berdasi dan otak tak berisi.

Wajah ibuku terlihat cemas, namun aku masih teguh pada pendirian. Saat akan berangkat tak lupa kuminta restu padanya, pesan singkat darinya berhati-hatilah. Kurasakan getaran tangannya, ia sangat terlihat cemas dan ketakutan. Bukan aku tak mau menuruti maunya untuk diam, tapi bagaimana lagi mereka bungkam suara kami.

Suara teriakan semangat dilontarkan, tetapi semuanya tak ada balasan. Bagaikan protes pada dinding tua saja. Mengangkat tinggi poster-poster tuntunan, kau abaikan dan seakan tak terlihat. Berjam-jam aku bersama yang lainnya  sabar menunggu balasan, tak lupa juga  tunaikan kewajiban dengan bergantian. Namun tetap saja kau tak mau keluar. 

Hingga kulihat amara beberapa kawan-kawan mulai memberontak, menaiki pagar dan melempar botol bekas. Lantas kau menyuruh aparat memuntahkan saja gas air mata, aku yang berada tak jauh dari gerbang merasakan sesak. Mataku perih terkena cairan itu, tapi bisikan hati berteriak untuk tetap bertahan.

belum berhenti disitu saat aku mencoba bertahan dengan kawan lainnya, terlihat sedikit buram. Para Polisi berpakaian lengkap mulai maju, mendorong  semua masa agar menjauhi gedung mewah ini. Aku masih memilih tetap bertahan bersama-sama kawanku, tapi kemudian berganti dengan bentrokan pukul memukul dengan aparat. 

Saat ku dengar azan berkumandang, aku berteriakan kepada yang lainnya untuk berhenti sejenak menunaikan kewajiban. Kemudian terjadilah bentrok besar-besaran, semua masa mulai melempari batu dan botol ke aparat, aku pun juga melakukannya. Tak sempat aku melirik keadaan, ternyata para kawanku mulai menyusut. Memilih mengungsi,cedera dan lain sebagainya. 

Konsentrasiku pecah, hingga  pukulan menerjang tepat pada kepala. Perlahan aku berjalan mundur, dengan kedua tangan menekan luka, untuk sedikit merahkan sakitnya. Lambat laun aku mulai geloyoran, hingga akhirnya tersungkur mencium aspal jalan. Aku berdiri kembali,  saat ku tengok kebawah, terlihat tubuhku masih tersungkur di sana.

Aku menangis, tapi semangatku belum mati. Aku membiarkan mereka membawa jasad ku pulang, dan aku memilih kembali ke depan gedung mewah itu. Terlihat beberapa orang sepertiku menuju kesana, kutemui juga beberapa orang yang pernah tergambar dalam buku sejarah. Lesuh dan kecewa, kemudian disusul dengan air mata.  Aku juga belum sempat pamit ataupun menemui ibuku dalam mimpinya, karena aku masih ingin mendengarkan keputusan mereka. 

Sudah tak terhitung berapa lama aku menetap di depan gedung ini, masih tetap ingin mengawasi dan memastikan jika mereka tak buat ulah. Malam ini terlihat beberapa mobil mewah masuk, mungkin menghadiri rapat penting. Satu persatu kursi mulai penuh, tapi sudah kupahami jika pasti ada yang tak mengikuti. Aku duduk di bangku kosong, tepat di pojok ruangan ini.

Aku ingin marah, ternyata kebiasaan mereka tak pernah berubah. Ada yang tidur, main hp dan acuh. Tak mau menyuarakan pendapat, walaupun ada tak didengarkan, percuma.  Setelah ketukan tiga kali, jika aku masih jadi manusia, ku hadapi dia dan kucekik lehernya. Permainan apa lagi ini, penyiksaan seperti apa ini, semua menjadi pertanyaan arwah-arwah kami, termasuk aku.

Matahari pun menyingsing, pejalan kaki mulai melirik dan ada yang mengernyitkan alis. Mungkin bingung atau berpikir penghuni gedung ini tak punya hati. Arwah-arwah yang lain datang menangis, bahkan arwah yang tak pernah kutemui banyak menghampiri. Mengeluh dan menangis, karena melihat sanak saudara yang masih hidup harus menderita kembali. 

Aku jadi teringat oleh ibuku, kapan aku akan pamit. Jika mereka saja belum sadar diri, percuma aku pulag, tak akan tenang malah menambah beban. Kejadian tahun kemarin, di mana aku juga ikut dalam aksi itu, kini akan terulang kembali. Semua orang sudah ramai membincangkan hal ini, kerusuhan sudah terlihat di negaraku ini. 

Akhirnya keputusan unjuk rasa dipilih, padahal masalah lama yang melanda belum diselesaikan oleh mereka. Kemudian mereka dengan asiknya menambah beban hidup rakyat, menghilangkan tidur nyenyak para pekerja di sana. Terlihat begitu liciknya mereka, mempersiapkan beribu-ribu aparat polisi. 

Ke sana-kemari aku melihat banyak arwah menangis menjadi-jadi, jika saja mereka bisa melihat, tapi nyatanya yang terlihat saja diabaikan. Segerombolan orang sudah datang kembali, membuat ramai gedung ini, karena ulah penghuninya. Aku masih belum bisa menyanggah air mata, melihat mereka berjuang lagi demi kesejahteraan rakyat. 

Aku berpikir, apakah ini waktu yang tepat untuk pamit, sedangkan ibuku sudah memanggilku dalam sujud.