Seorang guru untuk menghimpun perhatian seisi kelas terkadang sengaja membangun sunyi, meredam keriuhan dengan tegak diam tak bersuara di depan kelas. 

Makna "menempuh hidup baru" bagi mempelai timbul setelah pesta berakhir; para undangan pulang dan sepilah yang tinggal. Janda, duda, anak yatim atau piatu sesungguh-sungguhnya menangis atas kejandaan; kedudaan; keyatiman atau kepiatuan mereka setelah semua pelayat pulang meninggalkan sepi. Lantas di situlah titik awal semuanya memulai "kenyataan hidup" selanjutnya.

Selaiknya banyak kali adegan hidup manusia timbul, terkait, terjadi oleh sepi, sunyi, demikian juga halnya dengan seorang Romo Mudji yang menarik garis membentuk sketsa dikarsa dari keheningan pagi hari atau malam hari. Rupanya momentum sepi, sunyi, membawa Romo Mudji kepada hening-Nya. Sebanyak 40 sketsa terwujud hasil pengendapan sepanjang tahun 2015 hingga Mei 2016. 

Penggambaran seorang guru yang menghimpun perhatian seisi kelas (murid-murid) dengan sunyi mungkin bisa mewakilkan Romo Mudji yang memang seorang guru. Romo Mudji memilih jalan seni dalam menyuarakan ajaran Kristus yang disembahnya untuk mewartakan Kabar Baik, yakni seni gambar/sketsa yang cenderung lebih kalem dibanding jalan seni terdahulu yang pernah digunakannya juga seperti prosa, esai, filsafat atau puisi.

Jalan seni, menurut Romo Mudji, memuliakan hidup serta merupakan media yang universal, karena ini adalah culture of life; kebudayaan yang prokehidupan.

Melalui sketsa, Romo bercerita tentang Salib Yesus Kristus yang ngeri (L'abbraccio Della Croce, Untitle, Yang 'Tersalib, Yang Terjepit dan Terhimpit); Bunda Maria yang pilu karena anak sulung yang dibesarkan ketika dewasa hanya berakhir dalam keadaan mati (Title La Pieta) dalam pangkuan; Penderitaan Umat (Salib, Salib, Salib) yang mana tiap manusia punya jatah salib sendiri-sendiri.

Semangat dan pengharapan umat dalam alternatif sketsa (Menghijau Segarlah Katedralku, Jangan Mengelabu Beku) kombinasi tinta hitam, semburat hijau serta kuning, persis warna padi yang bertumbuh hijau lalu menguning siap dituai; Misteri ke-Ilahi-an---Kristus (Untitled -- katalog hal. 64) diguratkan sosok-Nya memakai warna sehitam arang tertunduk dilatarbelakangi warna merah.

Lalu di mana terdengar gugat perlawanan itu? Mengapa pameran ini digelar?  

Melengkapi pameran ini, digelar sesi diskusi. Kerinduan Romo Mudji terungkap dari kesempatan tanya jawab diskusi. Dikhawatirkan kedamaian hilang dari peredaran di Nusantara ini. Romo Dr. A. Setyo Wibowo sebagai pembicara, dosen STF Driyakarya, seorang ahli Platon lulusan Universite Sorbonne, dipandu moderator Irawan Karseno seorang pelukis yang juga Ketua Harian DKJ.

Menarik melalui diskusi tersebut tampaknya semua mahfum bahwa belakangan ini situasi di masyarakat adalah kegaduhan karena tuding menuding penistaan, bersikukuh kebenaran atas religi, pemisahan kaum yang makin menjauhkan Indonesia dari persatuan.

Teladan yang dinyatakan Kristus di salib-Nya, mengajar manusia untuk menghapus rasa ‘keterhinaan’ di antara kita karena penghinaan yang paling hina sudah ditanggung-Nya di atas kayu salib yang ngeri di bukit Golgota yang sepi.

Romo Setyo menyatakan, dari momentum keheningan yang dilakoni tercipta kesadaran hasil pengendapan pikiran, suatu dorongan untuk melawan pengotak-kotakkan manusia. Bentukan perlawanan adalah ‘tidak boleh diam’ bila melihat ketidakadilan, tindak anarkis, kecurangan, dengan melakukan sesuatu yang adalah antinya dari hal-hal buruk itu, dalam keseharian kita.

Pameran karya sketsa beliau yang bertajuk "Paskah Gabah: Via Crucis" tersebut dipamerkan di Galeri Museum Cemara 6, Menteng, mulai 11 Oktober 2016 lalu hingga 31 Oktober 2016 mendatang.