30638_54733.jpg
Darunnajah.com
Agama · 3 menit baca

Pamer Hafal Alquran: Antara Adu Gengsi dan Adu Prestasi

Lima tahun saya berada di pesantren, waktu yang tidak sebanding dengan perjuangan guru atau kiai saya selama beliau mondok di pesantrennya. Pesantren yang jauh dari  hiruk pikuk kehidupan modern, namun tak perlu diragukan kekhidmatan beliau terhadap NU sebagai benteng NKRI yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.

Pesantren yang tidak memiliki program menghafal Alquran belakangan ini nampaknya tidak lagi menjadi tumpuan harapan masa depan anak-anak. Maka dari itu, program menghafal Alquran menjadi program unggulan di setiap pesantren. 

Walaupun pesantren saya tidak memiliki program menghafal Alquran, namun kiai saya sangat mengapresiasi santri yang bisa hafal Alquran tanpa dibimbing oleh beliau.

Memasuki pertengahan tahun saya berada di pesantren, tiba-tiba beliau menghimbau santri-santrinya untuk tidak terjebak pada gaya hidup yang materialistis dan hedonis, seperti memperjualbelikan ilmu agama dan ayat-ayat suci Alquran sebagai instrumen untuk meraup keuntungan, harta, dan popularitas. Beliau sangat khawatir jika hal itu terjadi pada santri-santrinya.

Perhatikan sabda Rasulullah berikut:

"Bacalah Alquran dan jangan menggunakannya untuk mencari makan, jangan mencari kekayaan dengannya, jangan menjauhinya, dan jangan melampaui batas di dalamnya."

Hidup ini sudah serba menggoda, mulai dari tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan bagi mereka yang pandai melantunkan ayat-ayat suci Alquran bil ghaib dan pandai membaca kitab kuning, ditambah dengan praktik-praktik yang berpotensi membelokkan tujuan utama dari belajar dan menghafal Alquran. 

Jebakan-jebakan seperti ini yang kadang membuat kita lupa bahwa Alquran itu sejatinya adalah untuk selalu ditadabburi sehingga muncul inspirasi, bukan adu prestasi dan adu gengsi.

Keberhasilan orang menghafal Alquran bukan dilihat dari seberapa besar prestasi yang mereka torehkan. Tapi, seberapa besar mereka memuliakan dan mengagungkan Alquran, sebagai wujud dari penerapan Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilainya dan sebagai sarana untuk mendapatkan syafaat Alquran dan sebagai obat untuk menyembuhkan hati.

Hafal Alquran secara harfiah tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebagian orang, karena di situ ada poin dan manfaat penting yang bisa diambil. Apalagi didukung oleh keberanian dan mental yang kuat untuk menampilkan hafalannya di depan banyak orang melalui layar kaca. Pujian akan menggelegar di sepanjang sudut arah nusantara. Praktik-praktik seperti ini akan banyak menyihir jutaan orang, dan menjadi objek tontonan yang sangat intens.

Tak heran bila hafalan Alquran kini mulai menjadi sejajar dengan uang, popularitas dan sejenisnya sebagai strategi untuk memperoleh piala, penghargaan dan sarana untuk berkontestasi ria dalam pemenangan. Sebuah upaya untuk menunjukkan kepandaian dan kecerdasan kepada publik. Sehingga, publik yang hadir itu akan menilai bahwa hafiz itu memang direstui sebagai manusia pilihan. 

Namun, ketika hafalannya mangkrak, tidak jalan dan lupa di tengah jalan, mereka menangis tersedu-sedu, seolah-olah mereka gagal, merasa berdosa, dan merasa banyak mengecewakan orang. Sungguh sangat ironis.

Bahkan, tak jarang ditemui di berbagai arena panggung, orang yang hafal Alquran dijadikan sebagai tontonan untuk menegaskan bahwa kehadirannya di panggung sebagai representasi dan cerminan dari sebuah perjuangan yang tidak biasa. Perjuangan yang cukup melelahkan dan tak banyak orang yang bisa melakukannya. Ia mampu membuat penonton bersorak sorai, terkagum-kagum dengan kehebatannya.

Lalu muncullah sebuah kebanggaan yang tak tertandingi oleh siapa pun dalam dirinya. Maka, bukan tidak mungkin, atas tindakan artifisial ini, justru yang akan didapati bukanlah berkah dari syafaat Alquran melainkan laknat berupa kekalahan yang mendera mereka.

Hafal Alquran secara maknawiyah tentu menjadi harapan terpenting sepanjang masa, karena hafal Alquran secara maknawiyah merupakan kebutuhan hidup rohaniah sepanjang masa. Orang yang hafal Alquran secara maknawiyah tentu akan lebih mudah memposisikan dirinya untuk tidak terjebak ke dalam praktik-praktik yang sangat pragmatis.

Hafiz yang hafal secara maknawiyah dan didukung oleh disiplin keilmuan lain, sangat mungkin menggunakan mata batin untuk menengarai dengan cerdas bagaimana seharusnya Alquran ini dibawa menuju peradaban Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Ia tidak akan mudah terseret ke dalam paham-paham yang dapat merusak ideologi agama dan bangsa.

Agama, jika dipahami melalui pesona dunia yang sublim, akan terdistorsi bila salah memaknai bagian pentingnya. Begitu pula seorang hafiz yang ditarik ke dalam pusaran tajuk pencarian bakat yang hanya ingin menunjukkan kehebatan dan ingin merebut piala kekuasaan.

Satu hal yang harus diperhatikan dalam membumikan Alquran, yaitu menyerap nilai-nilai kandungannya sedini mungkin. Jadilah pembawa Alquran dalam bingkai penghayatan dan pengamalan, bukan jadi penghafal Alquran yang paripurna dan berakibat tidak punya daya apa-apa