Penikmat Kopi Senja
1 tahun lalu · 510 view · 3 menit baca · Politik 82263_46263.jpg
Sumber Foto: Merdeka.com

Palu Arit dan Demokrasi Semu

Isu kebangkitan PKI (Partai Komunis Indonesia) belakangan ini laris manis dan membuat polarisasi terjadi. PKI akan laku keras dalam setiap ajang politik. Hal itu terkait sejarah kelam bangsa Indonesia dan PKI. Sejarah yang sampai detik ini masih menjadi polemik bahkan menerpa para cendekiawan maupun sejarawan.

Benar-tidaknya gerakan ideologi komunis bangkit sesungguhnya bukan hal mengejutkan. Mengapa? PKI sebagai parpol boleh dibubarkan. Akan tetapi, siapa yang bisa mematikan sebuah ideologi bernama komunis? Sama halnya dengan Masyumi yang pemikiran dan semangatnya masih terus hidup.

Masyumi beruntung pemikirannya bebas hidup dan bermetamorfosis menjadi parpol. Itu karena Masyumi tidak melawan ideologi negara, Pancasila. Hal itu berbeda dengan PKI yang dianggap bertentangan dengan ideologi negara. Padahal Soekarno yang membidani Pancasila tidak pernah mengatakan itu.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas lebih jauh. Yang menjadi fokus tulisan adalah gejala phobia terhadap PKI yang salah kaprah. Kesalahan yang mengkondisikan rasa takut pada masyarakat. Kebencian simbolistik yang tidak dibarengi ilmu, pastinya.

Simbol palu dan arit diklaim sebagai milik PKI. Padahal, jauh sebelum PKI hadir di Indonesia, emblem sudah digunakan Soviet. Vladimir Lenin (1918) mensahkan emblem palu dan arit versi final karya seniman Evgeny Kamzolkin. Emblem tersebut sekaligus slogan persatuan kaum proletar dan petani.

Masyarakat Eropa tradisional menyimbolkan palu sebagai pekerja, sementara masyarakat religius pada saat itu mengaitkan palu dengan laki-laki agresif yang memiliki kekuatan fisik dan mematikan. Penggemar film Thor bisa menyaksikan sendiri bagaimana Thor kehilangan kekuatan penuh tanpa palu.

Sementara arit di beberapa agama diartikan sebagai kematian. Di abad pertengahan, kematian tidak dilambangkan dengan sabit besar, tetapi dengan arit. Paganisme mempercayai Dewi Mara memegang arit di tangan kirinya, demikian pula dengan Hinduisme yang menggambarkan Dewi Kematian memegang arit di tangan kirinya.

Menurut sejarawan Rusia Yuri Gauthier (1921), kata palu (molot) dan arit (serp), bila di balik, menjadi prestolom yang bermakna kekuasaan. Apakah emblem Soviet digunakan PKI hanya karena ikut-ikutan atau mereka punya filosofis sendiri? Satu hal yang pasti ialah PKI bukan pemilik pertama emblem palu dan arit.

Lalu, bila ada seseorang menggunakan emblem palu dan arit, apakah serta-merta ia merupakan kader PKI? Hal ini harus dijelaskan pemerintah kepada masyarakat agar tidak muncul main hakim sendiri. Selain itu akan mencegah asal tangkap dengan tuduhan menghidupkan ideologi terlarang tersebut. Gaya represif seperti orba harus dihindari.

Terkait benar-tidaknya ideologi komunis bangkit di Indonesia, kita sebaiknya melalukan kajian lebih ilmiah. Kemungkinan ideologi itu bangkit seperti terbuka lebar. Hal itu didukung dengan semakin besarnya jarak antara si kaya dan si miskin di negeri ini. Namun demikian, kecurigaan atas bangkitnya ideologi itu jangan sampai memberangus diskusi ilmiah.

Demokrasi Semu

Reformasi 98 merupakan babak baru dalam kehidupan bernegara kita. Cita-cita bangsa Indonesia untuk mendirikan negara akomodatif, aspiratif, sekaligus bangsa cerdas akan terwujud bila kita berjiwa besar. Sebuah bangsa yang open-minded bukan closed-minded terhadap segala kemungkinan. Ketakutan akan kebangkitan PKI wajar, namun jangan sampai delusi menghinggapi kita dan merusak demokrasi yang baru belajar berjalan.

Ujian berdemokrasi kita memang lebih berat dibandingkan negara mana pun didunia ini. Demokrasi kita lahir di saat era smartphone, masa di mana kebohongan diperdagangkan, masa di mana pilar demokrasinya dalam hal ini media patuh pada kekuatan uang. Walaupun masih ada media-media yang tetap menjaga idealismenya, tetapi jumlahnya tak sebanyak yang menghasut, berbohong, serta menutupi kebenaran.

Momok PKI bangkit mampu memecah belah fokus kita, mampu mengurangi nilai-nilai demokrasi kita. Bisa jadi ideologi memang kembali bangkit di Indonesia karena ideologi apa pun tak bisa dibunuh. Ideologi merupakan pemikiran, nilai, serta keyakinan sehingga mustahil mati kecuali manusia sudah tak waras lagi. Ambil contoh perdebatan lama yang kini kembali mengemuka, debat soal teori bumi ini datar.

Di dalam Islam dan agama lain, perdebatan lama juga muncul, mazhab fiqh yang beragam hingga saling menyesatkan. Proses pencarian ilmu dan penerimaan ilmu yang menyebabkan klaim paling benar. Para pencari ilmu indikasinya tidak akan mengklaim paling benar, berbeda dengan penerima ilmu.

Pun demikian dengan nasib demokrasi kita yang mulai semu, demokrasi kepura-puraan. Klaim kebenaran hanya boleh penguasa dan pendukungnya, menentang akan dijerat pasal-pasal karet. Ancaman penjara, kekerasan, hingga nyawa begitu mudah terjadi hanya karena beda angel dalam memotret sebuah realitas.

Tanpa kita sadari, kehidupan berdemokrasi kita semakin jauh dari apa yang dicita-citakan. Aparat penegak hukum dalam hal ini BIN harusnya menjernihkan rumor atau fakta terkait bangkitnya PKI. Cegah rakyat saling mencaci karena mereka hanya mendapat asupan hasutan dari medsos maupun media tak bertanggung jawab.