Student
1 tahun lalu · 177 view · 6 min baca · Cerpen 84346_45472.jpg
windowsnesia.com

Palestine, I am Done with You

Lampu kerlap-kerlip sungguh telah memainkan peran dengan teramat apik. Gelas-gelas Red Wine tampak setia menemani ketiga orang perempuan yang tengah menikmati masa libur mereka di sebuah club malam di kota Manhattan.

"Hello Daddyh," sapa salah seorang di antara mereka saat menerima telepon dalam kondisi yang setengah sadar.

"Maaf karena harus mengganggu liburmu, tapi ini penting."

"Yeah?"

"Bersiaplah. Tepat pada pukul tiga pagi, kamu harus segera berangkat!"

Perempuan dengan rambut kecoklatan itu pun melirik jam tangan digital merah marronnya yang sudah menunjukkan pukul 2.30 pagi. Itu artinya, ia hanya memiliki waktu setengah jam untuk bersiap-siap.

"Laksanakan!" Seketika telepon terputus seiring rasa mabuknya yang lepas landas tanpa aba-aba.

Kolonel Xan. Seperti itu orang-orang di satuan khusus memanggilnya.

Belasan tahun ia menghabiskan waktu bersama sang Ayah. Kedua orang tuanya berpisah sejak ia berusia tujuh tahun.

Ibu dan satu orang Adik laki-lakinya adalah nol koma sekian persen dari jumlah mualaf yang berdomisili di Amerika. Sedang Ayahnya adalah seorang yahudi yang berprofesi sebagai Jendral disatuan khusus Israel.

***

"Rebut pengungsian mereka!" Kolonel Xan mulai memberi instruksi melalui walkie talkie saat berada pada ketinggian seribu kaki di langit Palestina. Ya, sudah tiga hari lamanya ia memimpin misi besar tersebut.

"Lapor, ada suara bayi yang sedang menangis di pengungsian," lapor salah seorang Sersan Mayor kemudian.

"Abaikan!"

"Laksanakan!"

Dalam hitungan detik, terdengarlah suara tembakan tanpa jeda tepat di bawah helikopter mereka.

"Lapor, misi telah dilaksanakan dan pengungsian telah diamankan."

"Bagus, laporan saya terima."

Sebuah senyum kemenangan terukir begitu saja dari bibir Kolonel Xan. Namun, dalam waktu yang nyaris bersamaan, fokus sang Kolonel pun teralihkan oleh penduduk pribumi yang sedang beribadah di bawah sana.

"Jatuhkan AP bom sekarang!"

Dengan sedikit kesal, Kolonel Xan meminta anggotanya untuk menjatuhkan Armour Piercing bom (salah satu jenis bom yang sangat berbahaya dan mematikan) tepat di atas umat muslim yang sedang melaksanakan salat berjamaah.

"Tapi, Jenderal Nald melarang adanya serangan saat mereka sedang melangsungkan ibadah," sanggah Sersan Mayor lainnya.

"Saya yang memiliki wewenang penuh atas misi ini! Jatuhkan AP bom itu, SEKARANG!!"

***

Berita kehancuran dan kenestapaan Palestina mulai mendunia. Pemandangan kepulan asap hitam dan darah segar bukan lagi menjadi sesuatu yang asing, terlebih menjijikkan.

"Siapa pun yang menghalangi misi kita, habisi mereka!"

"Siap, laksanakan!"

Kolonel Xan terlihat sangat menikmati tugas yang dipercayakan oleh Jenderal Nald dalam misi besar tersebut. Tapi, siapa yang tahu bahwa di lubuk hatinya yang paling dalam, tersisa sebuah ruang yang selalu saja terusik ketika perintah pembunuhan terealisasi begitu saja sesaat setelah terucap dari mulut sang Kolonel?

Bahkan tidak ada yang tahu bahwa beberapa malam yang lalu, ia sempat menyerang salah seorang dari anggota satuan khusus demi menyelamatkan seorang nenek tua dengan semangat patriotisme di balik kerudung abu-abunya.

"Pergilah sejauh mungkin dari hadapanku, karena aku tidak akan menyelamatkan mu lagi untuk yang kedua kalinya!" teriak Kolonel Xan lantang.

"Hei anak muda! Aku tidak akan pergi dari sini! Palestina adalah milikku dan penduduk pribumi lainnya. Dan aku, aku sama sekali tidak takut pada mu!" teriak nenek tua yang tak kalah lantang hingga Kolonel Xan tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya berlalu meninggalkan nenek tersebut.

***

"Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata 'Tuhan kami hanyalah Allah'..." (QS Hajj : 40)

Perempuan berkulit putih bersih itu terlihat enggan walau sekadar memejamkan mata.

Bukan! Bukan lantaran ia terkesima memandangi sang Ibu yang tengah membaca ayat-ayat dari kitab Al Quran tersebut, melainkan maknanya. Kolonel Xan tahu persis makna dari apa yang sedang dibaca oleh Ibunya.

"Sayang, apa kamu bahagia?"

"HH!!!" Xan terkejut bukan main. Ibunya tiba-tiba saja muncul dari arah belakang. Oh Tidak! Kini Ibunya menjadi dua orang. Menggema..

Pertanyaan yang baru saja diutarakan oleh Ibunya terdengar berulang-ulang hingga dirinya mulai panik dan mundur beberapa langkah. Xan terlihat sangat ketakutan.

"Sayang, apa kamu bahagia?"

"Sayang, apa kamu bahagia?"

"Sayang, apa kamu bahagia?"

"Sayang, apa kamu bahagia?"

"OH HELLLLLLLLLLLL!!!" Ia pun terbangun dari mimpinya.

Jam sudah menunjukkan pukul 5.00 pagi. Semestinya ia sudah memimpin rapat penting pagi ini.

Tanpa berpikir panjang, Kolonel Xan akhirnya bergegas menuju markas satuan khusus. Sebuah markas rahasia di mana pengrakitan misi-misi rahasia mereka terencana.

***

"Tempat yang akan kita geledah kali ini adalah tempat persembunyian terbesar mereka. Ada lebih dari seribu orang penduduk pribumi di sana. Jika kita berhasil merebut tempat ini dan menghancurkan mereka semua, saya pastikan Palestina akan jatuh ke tangan kita!"

Putri sulung dari Jendral Nald itu tampak sangat berambisi. Ia terlihat sangat lincah sekali memaparkan lokasi yang menjadi target mereka pada peta.

Sampai pada akhirnya tiga puluh menit yang penuh dengan bumbu ketidaksabaran itu akhirnya berlalu.

Sama halnya seperti masyarakat Palestina, satuan khusus Israel pun tampaknya sudah lelah dengan perang yang tak berkesudahan ini. Maka, sesaat setelah rapat berlangsung, mereka mulai berjalan menuju tempat persembunyian yang dimaksud.

TAR! TAR!

TAR! TAR! TAR!

"Kolonel Xan, bukankah ini tidak ada dalam rencana kita?"

"Saya hanya ingin memastikan bahwa saya benar-benar sudah siap untuk penggeledahan kali ini," sahut perempuan itu bahkan tanpa menoleh.

Anggota satuan khusus lainnya saling berpandangan setelah mendapati lima orang bocah Palestina yang tewas dalam hitungan detik setelah mendapat serangan peluru berkaliber 12 mm dari kolonel mereka.

Kolonel Xan hanya ingin memastikan bahwa dirinya sama sekali tidak terusik dengan mimpi semalam.

***

"Jangan mendekat!!!"

Ruang bawah tanah yang baru saja digeledah oleh anggota satuan khusus terasa sangat tegang. Semua ini benar-benar di luar dugaan mereka.

Ya, sesosok perempuan berkerudung merah yang tengah hamil tua seketika mengarahkan pistol tepat dipelipis Kolonel Xan. Meski ia tahu ada puluhan anggota satuan khusus yang juga mengarahkan senjata mereka, perempuan hamil itu sama sekali tidak merasa takut. Ia sama sekali tidak merasa gentar. Ia tahu persis jantung dari satuan khusus adalah perempuan yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.

"Aku tidak takut pada kalian semua!" lagi-lagi perempuan yang berdiri di barisan paling depan itu menentang anggota satuan khusus yang sudah berada dalam posisi siap.

Kolonel Xan terdiam untuk beberapa saat. Bukan! Bukan lantaran ia takut pada perempuan hamil yang kini mengancam nyawanya. Ia sama sekali tidak khawatir tentang hal itu. Sebagai seorang Kolonel yang sudah bertahun-tahun terjun di dunia militer, ia tahu persis bahwa sekadar cara memegang senjata saja, perempuan itu salah.

"AAHHHHHH!!!!!" Lihat! Kolonel Xan berhasil melempar senjata yang digenggam dengan sangat ceroboh tersebut hingga sejauh sepuluh meter.

"Sekarang giliranku." Dengan geram, Kolonel Xan kini mengarahkan senjatanya tepat di pelipis perempuan berkerudung merah.

"Aku tetap tidak takut! Aku tidak takut pada kalian semua! Palestina akan tetap menjadi milikku! Milik kami semua!! Lihat! Ini putri pertamaku!! Aku akan mengabadikan negeri ini menjadi namanya! Dia adalah putriku, Palestine!"

Suara perempuan hamil itu terdengar bergetar meski dirinya masih berusaha untuk tegar. Matanya mulai berkaca-kaca.

Kolonel Xan menurunkan senjatanya dan mengarahkan senjata tersebut tepat di perut yang membuncit. Ia tahu ada kehidupan dan harapan baru yang mesti ia habisi detik itu juga.

Namun, tiba-tiba tangan Kolonel Xan tampak bergetar. Tak lama kemudian, sekujur tubuhnya menunjukkan reaksi yang sama. Ia terduduk di lantai, sedang senjatanya terjatuh begitu saja.

"Kolonel Xan!" teriak anggota satuan khusus lainnya serentak.

"Aku..Aku..Aku menyerah," ucapnya pelan namun berhasil mengejutkan ribuan orang yang sedang berada di dalam ruangan.

"Aku tidak bisa." Ia pun mulai meneteskan air mata.

"Palestina ini milik kalian. Dan kamu! Palestine itu milikmu," tambahnya kemudian sembari menatap lekat sepasang mata perempuan yang sempat mengancam nyawanya.

***

Ruangan Brigadir Jenderal yang sengaja dipinjam oleh Jenderal Nald beberapa menit yang lalu seketika hening. Tidak ada yang terdengar melainkan isakan tangis seorang Kolonel cengeng yang baru saja menggagalkan penggeledahan terbesar bahkan sudah direncanakan dengan sedemikian rupa dengan kata "Menyerah".

"Apa yang menjadikan kamu seperti ini Xan?" tanya sang ayah geram sembari memplototi putri sulung sekaligus Kolonel terbaiknya.

"Ini persoalan hati nurani Ayah. Aku tidak bisa," sahut Xan sembari menatap lekat sepasang mata ayahnya.

"Hati nurani? Kamu menyerah hanya untuk persoalan sesederhana itu?"

"Tidak, ayah, ini bukan persoalan sederhana. Bagiku, berperang dengan hati nurani itu justru sesuatu yang sulit," aku Kolonel Xan penuh kejujuran.

Artikel Terkait