Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Palestina masih dalam keadaan berduka. Konflik antara Palestina dan Israel yang telah berlangsung puluhan tahun lalu kini tersulut Kembali. Praktik kolonialisme yang dipertontonkan secara vulgar oleh Israel terhadap rakyat Palestina menjadi sebuah keperihatinan seluruh lapisan warga negara diseluruh penjuru dunia, bahkan kini tidak hanya negara-negara mayoritas Muslim saja yang ikut bersuara akan kemerdekaan Palestina dari Israel.

Konflik yang terjadi memunculkan empati yang mampu meredam perbedaan-perbedaan politik, intelektualitas dan gaya hidup dalam rasa yang seirama. Rasa dan empati terhadap nasib rakyat Palestina tumbuh bersemi disetiap sudut negara khususnya di Indonesia. 

Ditengah prahara wabah virus corona 19 yang tengah mengintai dan merebut kebahagiaan keluarga, namun masyarakat Indonesia mampu menunjukkan empatinya dengan turut berpartisipasi mengulurkan tangan dengan mengumpulkan donasi dan menyuarakan perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka.

Gerakan penggalangan dana yang terjadi begitu masif seiring dengan orasi menentang agresi Israel menjadi bukti bahwa ada perjuangan yang tak memandang strata, suku, ras dan agama. Sehingga ini menjadi wujud toleransi yang menguat ditengah isu-isu terorisme.

Tergeraknya penggalangan dana dari organisasi masyarakat, Lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, influencer, media hingga yang tergerak dijalanan dengan  mengenakan jas mahasiswa disertai suara dari toa, semua untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kemerdekaan warga Palestina.

Kilas Sejarah Indonesia dan Palestina

Dalam sebuah catatan sejarah Indonesia, bahwa pada tahun 1944, Palestina melalui tokoh Mufti Agung Syaikh Muhammad Amin Al Husain memberikan dukungannya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia serta menggandeng negara lain yang berada pada peta Timur Tengah untuk melakukan hal yang serupa, yakni mendukung kemerdekaan Indonesia (Rubenstein, 2005).

Peristiwa tersebut mengalir mengiringi perjalanan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan. Sehingga Palestina semakin lekat dengan terdapat satu kota yang berada di Jawa Tengah yakni Kota Kudus yang diambil dari kata ‘Al Quds’ yang memiliki makna suci. 

Bahwa sejarah itu terjadi dalam proses penyebaran agama Islam yang dibawa oleh seorang tokoh Wali Songo yang dikenal dengan sebutan Sunan Kudus atau dengan nama asli Syaikh Ja’far Shadiq. Konon penamaan itu memang diambil dari kota di Palestina, yaitu Kota Baitul Maqdis atau Al Quds Jerussalem.

Hubungan Indonesia dengan bangsa Palestina adalah hubungan yang sangat erat dan akrab. Bahkan Indonesia menolak mengakui negara Israel hingga kesepakatan damai tercapai antar Israel dan bangsa Palestina. Indonesia membela hak-hak kebangsaan rakyat Palestina dan mendukung perjuangan rakyat palestina. (Fardah, 2012)

Bahkan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno (Bung Karno) menegaskan sikap dukungannya akan kemerdekaan Palestina sejak 1962. Sikap itu ditunjukkan dengan pernyataan bahwa “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel”. (kompas.com/2021)

Sikap itulah yang menjadi dasar bahwa Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan Palestina. Sudah sepatutnya ditengah kondisi penindasan yang meluluhlantakan perikemanusiaan atas bangsa Palestina menjadi urusan kita bersama. karena Indonesia memiliki peran strategis menghadapi konflik yang terjadi di Palestina, yaitu donasi, diplomasi, demonstrasi serta doa.

Donasi kemanusiaan Palestina

Rasa empati sebagai kemampuan untuk menyadari, memahami dan menghargai perasaan dan pikiran individu lain, dengan menyelaraskan diri (peka) terhadap apa, bagaimana dan latar belakang perasaan (Stein dan Howard, 2002), akan mampu memberikan ruang kesadaran untuk memberikan sebuah uluran tangan.

Ditengah kondisi sosial yang terdampak oleh pandemi global covid 19, justru semakin banyak gerakan dalam menggalang solidaritas dengan semangat kemanusiaan. Persoalan palestina yang saat ini dianggap bukan sebagai pekara agama semata, melainkan telah menjadi persoalan krisis kemanusiaan.

Aksi penggalangan dana yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat khususnya di Indonesia akan mampu menciptakan solidaritas yang kuat tanpa memandang strata baik si kaya maupun mereka yang hanya mampu menyisihkan beras jimpitan (jatah beras untuk kebutuhan makan sehari).

Keterpanggilan masyarakat Indonesia tidak lepas dari peran serta organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, NU, dll sebagai wadah yang mampu menggerakan anggota/simpatisan untuk turut serta dalam peranan kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Bahkan Muhammadiyah telah mengumpulkan dan menyumbangkan lebih dari 10 miliar untuk Palestina dari donasi seluruh lapisan masyarakat.

Gerakan donasi ini sebagai sebuah ruang gerakan sosial yang mampu memberikan dukungan kepada saudara yang sedang mengalami musibah. Gerakan social ini sebagai bagian dari perintah ajaran agama Islam yakni “seruan untuk menafkahkan sebagaian dari hasil usaha yang baik-baik” (Al-Baqarah ayat 267), seruan tersebut tentunya dapat diaplikasikan dengan turut serta berdonasi untuk Palestina.

Palestina ditengah deraian peluru dan rudal yang telah meluluhlantakan tatanan kota di jalur Gaza, hanya mampu menyampaikan sebuah harapan kepada seluruh dunia untuk turut serta menyuarakan dukungan kemerdekaan atas negaranya.