Tradisi pakansi atau liburan sudah ada sejak penciptaan alam ini. Pada kitab suci, Tuhan meliburkan diri mencipta alam pada hari ke-sekian. Pakansi berarti menghentikan sementara aktivitas yang telah merutin, baik jangka panjang ataupun rutinitas jangka pendek. 

Dalam senarai kata yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pakansi artinya libur. Berpakansi berarti berlibur. Kata Pakansi digunakan sebagai padanan kata liburan.

Bahasa Sunda juga mengenal kata pakansi yang artinya liburan. Pakansi berasal dari kata bahasa Belanda vacantie yang artinya liburan, dalam bahasa Inggris, vacation. Wajar mirip, karena serumpun, yaitu rumpun bahasa Jermanik, sebuah kelompok bahasa subrumpun indo-eropa.

Liburnya Tuhan dalam tahap dan proses penciptaan alam tentunya tidak mengganggu keseimbangan penciptaan itu sendiri. Karena apa? Ya, sudah jelas jawabannya: karena dia adalah Tuhan, kuasa atas segalanya. Tuhan tak peduli apa pun yang telah menjadi kehendakNya.

Jadi, pakansi atau liburan bagi Tuhan adalah sebuah kehendak bebasNya. Pakansi bagi Tuhan adalah hari bebas yang lahir tanpa adanya paksaan, stimulus, ataupun keadaan yang mendorong Tuhan libur dalam mencipta alam.

Namun, bagi hamba, liburan itu berasa lucu saja. Pakansi Tuhan paling tidak menggelitik nilai paradoks bagi sebuah kekuatan dan kekuasaan ketuhanan. Mungkin hamba akan bertanya-tanya: kenapa Tuhan libur mencipta alam?

Itu adalah sebuah pertanyaan yang wajar dari sebuah ketersediaan kekuatan yang tanpa capek yang dimiliki Tuhan. Bagi hamba yang agak songong. Mungkin pertanyaannya menyertakan nilai paradoksnya, yaitu: capekkah Tuhan?

Liburnya Tuhan bukan hal yang bernilai patriotik, karena tidak ada kelemahan dan kekurangan di atas kekuasaan superNya. Pun, liburnya Tuhan bukan hal untuk mencari sensasi. Sensasi yang model bagaimana yang tidak dimiliki Tuhan. Dia Maha Kuasa membuat sensasi. Jadi, Tuhan tak perlu mencari sensasi.

Pakansi bagi Tuhan adalah sepihak. Artinya, Tuhan tak perlu menuntut persetujuan hambaNya untuk libur. Dan ini tidak dinilai sebagai “bolos”. Nanti Anda terkutuk.

Kemudian kita tengok dan bandingkan dengan tradisi pakansi pada budaya manusia. Liburan, harian libur, atau pakansi pada budaya manusia diawali sejak adanya kewajiban merutin. 

Sistem pemerintahan beserta kekuasaannya membuat kesepakatan dengan warganya tentang hari libur. Sedang pada level terkecil, perusahaan swasta atau sejenisnya bersepakat dengan karyawannya tentang hari libur dan cuti.

Budaya pakansi bagi manusia adalah hal wajar. Kelemahan dan keterbatasan fisik dan psikologis manusia memerlukan hari-hari tenang dan bebas untuk berpakansi. Tak perlu menghujani pertanyaan: kenapa manusia menyukai liburan? Semua pasti berjingkrak mendengar kata liburan.

Budaya pakansi bagi manusia adalah pelengkap ideal bagi rutinitas yang memberat. Pakansi bagi manusia juga tidak bernilai patriotik, karena pada dasarnya tidak ada yang dirugikan dengan liburan tersebut. 

Pihak-pihak yang terkait sebelumnya sudah ada kesepakatan tentang sebuah liburan. Artinya ya tidak sepihak. Kalau sepihak, lain lagi. Itu namanya bolos alias play truant.

Bolos atau playtruant adalah hal negatif bagi sebuah kehormatan tanggung jawab rutinitas. Sangsinya juga bermacam-macam, sesuai dengan kesepakatan. Bolos juga tidak bernilai patriotik, karena jelas-jelas merugikan pihak yang sepakat dengannya. 

Bolos bagi budaya manusia juga bukan untuk mencari sensasi. Anda akan dianggap alay atau lebay jika menggunakan sarana bolos untuk mencari sensasi.

Dan kemarin, baru saja saya lihat dan baca sebuah announcement yang muncul dari hasil clickbait menu bar atau Breadcrumbs di sebuah laman media siber. Pengumuman yang mengundang penasaran saya untuk menulis artikel dengan judul di atas. 

Media siber mojok.co mengumumkan tentang pakansi sehari medianya untuk turun jalan di sebuah tagar yang lagi viral. Mungkin ini pertama kali dalam sejarah media siber untuk libur, tepatnya: bolos.

Kelihatan sepele, namun sarat makna. Liburnya sebuah media siber, walau sehari, adalah sebuah kelucuan yang tiada tara.

Walaupun dengan alasan yang bermacam; libur atau pakansi bagi media siber, yang tidak disebabkan oleh keumuman alasan seperti dihentikan atau diblokir oleh pihak penguasa atau alasan teknikal lainnya; sekali lagi, menurut saya pribadi, adalah sesuatu yang sangat lucu sekali.

Pakansi tanpa alasan yang tepat bagi media siber akan memunculkan spekulasi paradoksal. Sebagaimana liburnya Tuhan di atas, media siber yang cuti sehari akan memunculkan nilai paradoksnya. Apakah itu? Tentunya bernilai negatif, karena dia bukan Tuhan.

Media siber yang semestinya: hidup setiap hari, muncul setiap hari, menerbit setiap hari, melakukan komunikasi dua arah setiap hari, muncul di antarmuka penggemarnya setiap hari, melakukan editing setiap hari, menerbitkan setiap hari; tiba-tiba tanpa kesepakatan meliburkan diri.

Kesepakatan yang dimaksud di sini adalah suasana batin mereka yang sudah menanti-nanti naskahnya terbit, atau bagi mereka yang sedang kebelet menuliskan ide-idenya. 

Semua buyar harapan karena media sibernya bolos. Menurut saya, ini adalah play truant yang kurang baik tentunya bagi etika jurnalistik. Entah ini cari sensasi atau apa, yang pasti lucu. 

Sejauh saya tahu tentang media yang pernah bolos, adalah sebuah media cetak surat kabar ikonik El Nacional Venezuela lantaran sulitnya memperoleh kertas. 

Walaupun libur di media cetaknya, El Nacional tetap daring di situs resminya. Itulah perjuangan media massa ataupun media siber yang dengan sekuat tenaga untuk tetap eksis dengan menjaga kehormatan dan semangat kode etik jurnalistiknya.