Ini pasti mimpi, ia menyangkal sembiluan yang menggerogoti sekujur tubuhnya. Keadaannya sangat mengerikan. Kepalanya penyok seperti bola kehabisan udara. Alat indera yang menempel di kepalanya tak lagi lengkap. 

Terang warna hanya bisa dilihat dengan mata kirinya. Bola mata yang satunya mencelat entah. Kedua daun telinganya copot dan telah dijadikan santapan anjing.

Bibirnya seperti digerus dengan parutan rujak dan bentuknya lebih mengerikan ketimbang gambar iklan di bungkus rokok. Ia bisa berpura-pura bahwa apa yang dialami hanya mimpi, tapi tak bisa melawan kenyataan bahwa ia masih hidup.  

Ia  sadar bahwa saat itu tak sedang berada di neraka atau di surga. Dengan upaya keras dan menahan kesakitannya, ia duduk bertongkat lutut lalu memandang sekelilingnya. 

Matanya tertumbuk seonggok mayat pemuda yang keadaannya sepantun korban kecelakaan kelindas kereta api dan tak jauhnya tergeletak seorang bocah dengan lubang di tenggorokannya. Ia tak bisa lagi menganggap semuanya hanya mimpi.

Ah, Tuhan menghukum saya. Saat itu ia ingin meraung sejadi-jadinya dan memukul kepalanya, tapi tak ada tenaga yang terkumpul dan ia tak bisa menggerakkan kedua tangannya yang lunglai menggantung. 

Pemuda dan bocah itu pasti sekarang sudah di surga. Saya senang kalau memang begitu, sudah sepantasnya mereka berada di surga. Mata kirinya bersinar teduh. Bibirnya yang tak lagi rapi berusaha membentuk sebuah senyum. 

Tak lama berselang, darah  tersembur dari rongga yang ditinggalkan bola matanya dan air mata mengalir dari mata yang beberapa detik lalu bersinar teduh, kehangatan darah bercampur air mata. 

Ia memang berharap dan bersyukur jika pemuda dan bocah itu masuk surga, tapi ia mempertanyakan keadilan Tuhan. Kenapa ia masih berada di dunia fana ini? Mengapa ia tak mati saja dan dijebloskan ke lunas neraka?

***

Hujan yang telat dua-tiga hari mematangkan awan dan buntutnya angin jadi berembus kuat, meniup-runtuhkan dedaun pohon beringin, menerbangkan kantong-kantong plastik, mengoyak poster kampanye bertuliskan gombalan janji.

Palang kereta api yang turun menimbulkan bunyi teng-teng-teng mengisi udara. 

Kuda-kuda logam berhenti berlari. Katak-katak besi menghentikan langkahnya. Satu monster baja yang ditunggu proyek gedung Babel ikut terhenti, menghabiskan sebagian ruas jalan. Beberapa kuda logam nekat menerobos palang kereta api. 

Dari barat seorang tua berlari tergopoh, di belakangnya 30-an massa mengejarnya dengan beringas, seperti ombak ganas yang membayangi peselancar.

“Maling!”

“Anjing!”

“Bakar!”

“Bunuh!”

Tubuh lapuknya yang tabah dan tenaga diesel tuanya, mendadak kehilangan kegaibannya. Ditelan kegamangan batinnya.

Bukan kematian benar menusuk kalbu, teringat ia sepotong sajak Chairil. Saya tidak takut mati, berulang kali ia mengatakan itu dalam hati. Namun, apakah ini adil buat saya? Napasnya tersenggal. Kakinya masih dipaksa berlari. 

Saya hanya mengambil yang bukan menjadi hak saya, palingan cuma sejuta, beda dengan koruptor yang saya baca di koran. Itupun bukan buat senang-senang, tapi untuk berobat isteri. 

Pak Tua hanyalah tukang becak merangkap kuli dan kadang memulung, tapi di setiap senggangnya ia selalu memanfaatkan waktunya dengan membaca koran bekas, buku bekas, dan majalah bekas. 

Ia mendapatkan itu semua dari salah seorang langganan becaknya. Mas Goen, begitu Pak Tua memanggilnya. Atau harta karun itu juga ia temukan ketika memulung.

Biarpun napasnya tinggal satu-dua, jantungnya meronta-ronta, paru-parunya jebol, kakinya terasa mau copot, Pak Tua mesti tetap berlari. Tak ada pilihan lain. 

Ia berlutut memohon ampun dan mencium kaki mereka satu per satu, tak akan menolongnya, massa tak akan memberinya ampun. Pun, ia tak bisa berlindung dengan ungkapan Inggris yang terkenal itu dan biasa dipakai politikus maupun Orang Besar jika tersandung perkara hukum. 

Pak Tua sampai hafal di luar kepala, dan sempat menanyakan ke Mas Goen presumption of innocence itu maksudnya apa.

“Itu asas praduga tidak bersalah. Artinya, seseorang yang belum diputus bersalah oleh pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dengan kekuatan hukum tetap."

“Kalau maling yang sudah jelas-jelas kepergok itu gimana, Mas?”

“Ya, harusnya kalau mau memegang asas ini, maling itu tetap tidak boleh dianggap bersalah apalagi digebukin, karena cuma pengadilan yang berhak memutuskan seseorang itu bersalah atau tidak.”

Pak Tua saat itu cuma terangguk-angguk menanggapi penjelasan Mas Goen, dan kini ia diburu-buru massa lantaran merampas tas Nyonya Besar. Isinya macam-macam. 

Tak perlu dirincikan, sebab betapapun itu, ia tak tahu sebetapa fantastisnya nilai tasnya, yang ia tahu uang di dalam tas itu cukup buat perpanjangan hidup istrinya. 

Pak Tua sudah berusaha semampunya, bahkan di usia senjanya ia hanya tidur lima jam dalam sehari. Ia juga sudah bolak-balik ke kantor kelurahan guna mengurus BPJS, tapi Pak Tua bukan siapa dan tidak membawa apa ketika datang. 

Ia dipersulit dan ditanggapi dengan main-main, padahal waktu sudah tak mengizinkannya untuk bermain-main.

Bahkan Pak Tua juga sudah membuang gengsinya jauh-jauh, lagi pula ia sadar betul bahwa dirinya belum tentu dibolehkan punya malu. Pak Tua mengetuk satu per satu rumah-rumah warga yang dikenalnya maupun dianjurkan oleh orang yang didatanginya lebih dulu. 

Dari ujung ke ujung, dari cendekiawan yang lokal hingga yang nasional, dari yang punya satu mobil hingga yang sepuluh mobil, dari rumah yang berdinding tembok hingga yang berdinding marmer. 

Semuanya menolak samar-samar maupun terang-terangan. Alasannya, mereka hendak mendidik Pak Tua agar tidak menjadi pemalas yang mengharapkan belas kasihan orang lain. 

Mereka bisa saja menolongnya, hanya saja Pak Tua akan menjadi contoh buruk bagi yang lainnya. Terlihat kejam memang, kompak mereka menegaskan, tapi sebenarnya ini baik karena niatnya mendidiknya agar tak bermental pengemis.

Pak Tua yang terlanjur basah setengah badan, tak berpikir dua kali untuk basah hingga ke ujung-ujung rambutnya. Kalau hukum tak melindunginya, ia mesti mencari perlindungan dengan caranya sendiri. Ia melompat masuk ke angkot yang—menanti kereta melintas—di dalamnya sepi. 

Hanya ada bocah 8 tahunan yang duduk tenang seraya mengunyah cilok, tak mengerti bahaya kunjung mendatanginya. Pak Tua mengambil pisau dapur berkilat, yang disimpannya di sebalik celana kain hitam usangnya, lalu Pak Tua memangkunya dan dengan gemetar mengarahkan pisau ke batang leher anak itu. 

Tentunya tak ada perlawanan yang berarti dari bocah itu. Tidak aneh. Masuk akal. Apa yang bisa dilakukan seorang bocah untuk melindungi dirinya sendiri? Namun, jika tak ada raut kengerian pada bocah itu, siapakah yang bisa menjelaskannya?

“Mendekat—anak ini mati!” kata Pak Tua. “Cepat jalan, Pir!” sopir justru melompat, menyelamatkan diri dari segala risiko dengan keadaan celana terlanjur basah.

***

Pemuda itu berusia 24 tahunan, terlekat padanya pakaian usang, celana lapuk yang koyak-moyak dimakan usia. Mukanya suram dan tampak kasar berkat sentuhan sabun murahan, rambutnya gondrong, di sudut kanan bibirnya diisi rokok kretek. Asap keunguan mengurung wajahnya. 

“Minggir donk, kalian jangan kayak belatung yang mengerubungi bangkai.” Pemuda itu menyerobot kerumunan massa, lalu dengan enaknya masuk ke dalam angkot.

“Keluar kamu! Jangan berlagak jadi pahlawan!”

“Saya nggak cocok jadi pahlawan, Bro. Jadi penyair saja nggak laku, Bro.” Pemuda itu ketawa mendengar kata-katanya sendiri. 

“Kita cocok Bro, penyair yang nggak laku dengan maling yang diuber-uber massa, wah, pasangan yang pas. Nah, bocah ini mengganggu kita, mending dilepas saja, toh tempat bocah ini beda sama kita. Kalau mati masuk surga, menang banyak nih bocah. Lah, kita masih untung-untungan yang mau masuk surga dan kalau dihitung-hitung 70-30.”

“Keluar atau saya bunuh anak ini!”

Pemuda itu tak mengacuhkan malaikat maut dengan pisau dapurnya. Ia menoel dagu bocah yang tampak menggemaskan saat tak juga-juga berhasil menancapkan lidi ke ciloknya.

“Lu namanya siapa? Bagi ciloknya donk, laper nih.”

“Jimy, mau?” Bocah itu tersenyum, matanya membulat cerah, senyum tipis terlukis di mukanya, lalu ia melanjutkan menusuk-nusuk ciloknya.

“Suapin!”

Bunyi peringatan palang rel kembali berkumandang berpadu dengan teriakan massa, tampak wajah tiap-tiap orang kian bernafsu. Tak ada raut yang menggambarkan gelisah maupun cemas, bocah itu bagai makhluk absurd, ada di ketiadaan.

Hanya Tuhan yang tahu bahwa mereka hanya memikirkan bagaimana nantinya menyiksa maling tua itu sampai mati, selintas pun mereka tak memikirkan keselamatan si bocah.

“Keluar atau saya bunuh anak ini!”

“Silakan!”

Mendengar celetukan pemuda itu, beberapa penonton merangsek masuk untuk menarik penyair keluar. Salah seorang dari mereka yang melihat pisau agak menjauh dari batang leher bocah itu, menempel dipahanya yang gemetar dan teracung ke arah plafon mobil. 

Sang pahlawan menarik kaki Pak Tua dan berusaha melemparnya keluar dari angkot. Celakanya, kekuatan pahlawan itu luar biasa hebatnya, bocah yang berada di pangkuan Pak Tua pun terpental dan batang lehernya jatuh ke pisau yang teracung.

Darah mengucur deras, mengalir lalu menyungai dari lantai mobil ke aspal.

Penyair duduk terpaku, menutupi mukanya dengan keduatangannya, butir-butir air mata melabrak jari jemarinya, jatuh merintiki darah bocah lucu. Kakek menjerit histeris, tak ada lagi bayangan istri tercinta, ia ingin mati saat itu juga. 

Ia siap menyambut neraka. Bagaimanapun dan betapa berat siksa yang ditanggungnya—ia akan menanggungnya sesuai hitungan dosanya. Ia percaya, sekalipun ia masuk neraka, ia akan mendapatkan keadilan di sana.

Penyair baru terentas manakala kakek sudah terjengkal di aspal, ia pun melompat dari bangkunya, “Siapa di antara kalian yang merasa tak berdosa…”

Belum lagi ia selesai mengutip ayat Injil yang terkenal itu—tak hanya seorang, tampak semuanya berancang siap mengirim kakek ke lunas neraka. Pemuda itu bereaksi cepat, memayungi tubuh Pak Tua. 

Pahlawan yang menarik kaki Pak Tua, mengambil pisau yang berlumuran darah bocah lucu, mengawali serangan. Ia menghujamkan berkali-kali pisau itu ke sekujur tubuh penyair. Semangat yang lain pun terpecut, mereka pun tak mau ketinggalan menyiksa pemuda itu. 

Puas dengan pemuda itu, mereka menarik dan menyingkirkan dari Pak Tua. Tibalah giliran kakek.

“Bunuh aku, bunuh aku, bunuh aku!”

***

Tersaruk-saruk Pak Tua berjalan tanpa tujuan, pulang sudah tak mungkin. Ia sampai di tengah kota. Namun, ia tak merasakan keramaian di sekelilingnya. 

Tidak ada yang memandangnya, tidak ada yang bertanya kepadanya apa yang terjadi dengan dirinya, tidak ada yang mencoba untuk menolongnya. Kemunculannya tak disadari oleh siapa pun. 

Entah karena mereka tak melihat atau memang ia yang tak terlihat. Mungkin ia sudah menjadi arwah penasaran. Namun, ia juga tak bisa memastikan bahwa dirinya adalah hantu. 

Ia masih bisa merasakan sembiluan yang menggerogoti tubuhnya. Hantu tentunya tidak akan merasa kesakitan. Atau barangkali seorang berlumuran darah dengan tubuh penuh luka adalah hal yang lazim di dunia. 

Apa pun itu dan siapa pun ia, semuanya tidak ada yang tahu. Entahlah.