Saya kembali teringat masa-masa saat menjadi sales sebuah perusahaan otomotif terbesar di tanah air, dengan merk terlaris berjargon "mobil sejuta umat"-nya.

Sebagai seorang salesman, kita dituntut untuk jualan mobil sebanyak mungkin, bahkan jika bisa, melebihi target yang kita ucapkan setiap awal bulannya. Ada satu hal yang menarik di sini, yang akhirnya bisa menempa pola pikir saya menjadi optimis setiap waktu.

Di cabang tempat saya bekerja tersebut, keseluruhan salesman pada saat saya masih bekerja sekitar 50 salesman (bersama dengan sales counter), terdiri dari dua team, yang masing-masing team dibawahi seorang supervisor.

Setiap awal bulan kepala cabang akan selalu memberi motivasi kepada kami agar meningkatkan penjualan setiap bulannya, lewat kerja keras (meningkatkan intensitas canvasing dan kunjungan). Yang membuat saya heran, Kacab selalu menaikkan target penjualan cabang kami, meski target sebelumnya tidak tercapai.

Dari 50 salesman, ia berharap bisa menjual sekitar 300 unit/bulan, bulan depan 320, dan meningkat setiap bulannya.

Supervisor saya juga melakukan hal yang sama. Ia berani mematok target tinggi, yakni 100 unit/bulan dari 20 salesmannya. Gila, bukan? Padahal kondisi pasar lagi lesu kala itu.

Saya sadar, kadang target itu tidak tercapai (lebih sering tidak tercapai malah). Tapi, apa yang ia bangun? Yakni pola pikir optimis anggotanya.

Beliau yakin, hanya dengan pola pikir optimislah kinerja kita bisa meningkat. Setidaknya, tidak putus asa di saat target yang diberikan tidak tercapai. Optimisme itu tetap beliau bangun setiap saat. Kadang lewat cerita motivasi, bahkan cerita emosi!

Dan setelah resign dan memilih menekuni dunia tulis-menulis, pola pikir optimis saya tetap ada. Optimisme yang ditempa supervisor dan kepala cabang saya saat itu tetap ada dan membuat saya menjadi pribadi yang optimis dalam menjalani kehidupan.

Hidup susah bukan menjadi sebuah penyesalan, karena optimisme dalam diri berkata, "teruslah berusaha, bekerja dan berdoa, niscaya keberhasilan suatu saat akan menghampiri."

Dan rasa pptimisme itu adalah hadiah atau bahkan pesangon terbesar yang saya terima dari tempat saya bekerja saat itu, hingga saat ini.

***

Pak Prabowo Subianto yang terhormat, seluruh rakyat Indonesia tahu siapa Anda. Salah seorang tokoh bangsa, pimpinan partai Gerindra, dan saat ini tengah berjuang menjadi seorang Presiden di negara ini.

Latar belakang Anda seorang TNI AD, yang prestasinya tidak diragukan lagi. Danjen Kopassus termuda, bahkan beberapa kali terjun ke daerah konflik, termasuk Papua dan Timor-Timor (Timor-Leste saat ini). Jasa Anda untuk Indonesia juga tidak diragukan lagi.

Dan kami, segenap rakyat Indonesia tahu betul, sebagai anggota TNI dulunya, jiwa optimisme selalu ditanamkan dalam benak Anda, hingga menjadi jati diri Anda.

Di samping segala kontroversi yang menghampiri karier Anda, rakyat tetap hormat pada Anda sebagai salah seorang tokoh bangsa saat ini, bersamaan dengan beberapa tokoh bangsa yang lain.

Namun, ada yang mengganjal dari sikap Anda beberapa tahun belakangan. Ya, keinginan Anda untuk berkuasa, seolah-olah tidak terbendung, meski sudah dua kali tersandung. Bukan menjadi sebuah masalah, karena siapa pun anak bangsa berhak untuk mengajukan diri menjadi penguasa,aaa bukan? Selama ada simpatisan dan pendukung.

apa yanga Anda lakukan akhir-akhir ini tidak mencerminkan sikap Anda sesungguhnya. Dan semoga memang bukan sikap Anda yang telah berubah.

Bukan optimisme yang Anda bangun, melainkan pesimistis yang Anda suarakan, bahkan terkesan menakut-nakuti. Mungkin tweet Fahri Hamzah dengan tagar #StopHantuiIdeologi cocoknya ditujukan kepada Anda, namun ia sampaikan kepada pemerintahan yang sah saat ini. Entah ideologi siapa yang ditakuti, yang jelas rakyat tidak merasakan hal yang sama.

Yang pertama, Anda mengatakan bahwa 2030 Indonesia bisa bubar, yang mana dasar Anda berkata demikian berasal dari sebuah novel fiksi, hanya karena nama Indonesia tidak disebutkan di sana.

Yang terbaru, Anda menyatakan bahwa 2030 negara kita terancam sebagai negara miskin, dengan dasar bahwa angka stunting masih tinggi di negara kita.

Saya apresiasi yang terakhir, pak, karena bapak peduli dengan kasus ini. Sebagai informasi, ada seorang figur yang tidak mengerti akan stunting, namun menang dalam pemilihan. Itu lebih hebat, bukan?

Stunting memang masih menjadi momok dalam masyarakat kita, untuk mencetak generasi yang sehat dan berprestasi. Namun, tahukah bapak bahwa kasus stunting terjadi bukan hanya karena kemiskinan semata? Akan tetapi, kurangnya rasa kepedulian orang tua, terhadap kesehatan janin dan bayinya, pak.

Jadi, yang terutama dalam mengatasi masalah Stunting adalah menggerakkan sosialisasi kepada seluruh orangtua di Indonesia akan bahaya Stunting, serta cara untuk mencegah dan mengatasi, serta mengentaskannya. Bukan malah menakut-nakuti.

***

Dari dua kata pesimis yang bapak utarakan, jelas itu seharusnya tidak keluar dari seorang pak Prabowo. Itu bukan tipe seorang calon pemimpin, pak.

Saya masih ingat, sesaat sebelum Asian Games dimulai, Jokowi masih yakin dan membangun optimisme bahwa Indonesia bisa mendulang 16 emas, dan nangkring di posisi 10 besar. Di saat bersamaan, banyak yang mencibir beliau, termasuk Roy Suryo yang katakan, "optimis sih boleh, tapi harus realisti.s"

Tapi nyatanya? Lewat optimisme yang terus dijaga dan dibangun segenap yang berkontribusi (atlet, pelatih, dan pemerintah, termasuk Anda sebagai presiden IPSI), target itu malah tercapai, bahkan melebihi.

Indonesia berhasil meraih 31 medali emas dan nangkring di 4 besar perolehan medali terbanyak. Seandainya tanpa Pencak silat-pun sebagai penyumbang emas terbanyak, kita masih punya 17 emas. Dan melihat jumlah itu, setidaknya kita berada pada posisi 7.

Sudah saatnya Anda mengubah gaya komunikasi politik Anda. Bangun optimisme, bukan pesimisme. Pelemahan ekonomi kita saat ini, siapa pun presidennya, pasti tidak akan terbendung. Tapi bapak pasti punya komunikasi yang lebih menjanjikan dari segi pembangunan ekonomi daripada sekadar menyebut "2030 kita terancam sebagai negara miskin".

Baik itu mengembangkan UKM, pembangunan pariwisata tanpa menyakiti masyarakat, bisa menjadi batu loncatan perkembangan ekonomi kerakyatan. Bahkan, bisa juga dengan mengolah hasil bumi sendiri, agar tidak tergantung impor yang besar, yang akhirnya bisa memperkuat ekonomi kita. Seperti mengolah sendiri kelapa sawit jadi minyak dan bahan komoditi lainnya. Langsung menciptakan ban dan sejenisnya dari hasil karet kita. Dan lain-lainnya, tanpa harus ekspor barang mentah, impor barang jadi.

Tapi tidak, yang Anda lakukan malah menakut-nakuti rakyat. Seolah-olah Indonesia ini hanya akan selamat jika anda terpilih menjadi presiden.

Pak, sebagai pemilih milenial, kami butuh pemimpin optimisme, pemimpin yang bisa membentuk karakter bangsa menjadi lebih kuat, bukan tetap hidup dengan mental inlander.

Ubah komunikasi politik anda, singkirkan mereka-mereka yang di samping anda yang tidak bisa membantu anda berpikir Optimisme, sebagaimana layaknya seorang pemimpin.

Karena, hanya dengan optimismelah, perlombaan menuju Pilpres 2019 sedikit berimbang, 

Di mana calon penantang memiliki jiwa yang optimis, melawan petahana yang sudah membangun optimisme terlebih dahulu kepada rakyat, sehingga rakyat yakin dan percaya, bahwa kita ini bangsa yang besar.

Begitulah seharusnya Indonesia, penuh optimisme bahwa negara ini adalah negara besar dan kuat. Negara yang akan kuat secara ekonomi di tahun 2030, dan menjadi negara emas di tahun 2045.

Dan optimisme itu telah dibangun pemerintahan saat ini. Jadi, lawanlah dengan sikap optimis juga.

Hindari politisasi SARA, karena kami (rakyat) muak dengan sikap politisi yang menghalalkan segala cara yang salah. Kami ingin politik yang damai, dan demokrasi yang sehat. Kami ingin optimis bahwa Indonesia ini negara yang kuat, dan akan tetap optimis bahwa persatuan dan kesatuan bangsa, tidak akan tergoyahkan oleh siapa pun yang hendak merongrongnya.

Salam sada roha!