Ini adalah kisah orang gila dari pamulang. Selama ini saya hanya mendengar kisah yang membingungkan dari orang-orang gila dalam buku (Kebijaksanaan Orang-orang Gila) salah satu tokohnya adalah Majnun yang gila akan cintanya kepada Layla. Namun disini saya berdialektika langsung pada orang gila itu. Beliau adalah Pak Kholis, si penggila cinta dari Pamulang. Kira-kira begini kisahnya.

Siang itu langit mulai mendung, mendukung situasi berkabung. Angin membisikan kabar kepergian Bu Lastri kepada Pak Kholis yang sedang sibuk bekerja. Hujan turun dan membanjiri hatinya, seakan menghentikan detak jantung, membunuh dalam sunyi senyap.

Pak Kholis dan Bu Lastri telah 30 tahun mengarungi lautan rumah tangga. Selama pelayaran di lautan rumah tangga itu, mereka mendapatkan harta karun yang sangat berharga, mereka dikaruniai buah hati tercinta yang bernama Vina.

Vina yang pada saat itu hari kematian ibunya. Ia sedang berhadapan dengan dosen penguji dalam sidang skripsi. Dengan segala usahanya ia menyelesaikan ujian tersebut dan dinyatakan lulus. Setelah dinyatakan lulus, kemudian ia keluar dari ruangan itu. Berharap dapat menyebarkan kabar gembira kepada ibunda. Namun, Dewi Fortuna tak berpihak kepadanya. Ia mendapatkan pesan dengan kabar kepergian ibunda tercintanya.

Sebelum Pak Kholis berangkat bekerja dan Vina pergi untuk sidang skripsinya. Bu Lastri mengucapkan kepada mereka “Demi Allah, aku mencintai kau suamiku dan anakku”.

Hanya saja Allah SWT berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ.

“Dan setiap umat memiliki ajal, sehingga jika telah datang ajal mereka maka mereka tidak akan mampu memundurkannya dan tidak pula memajukannya walaupun sesaat”. (QS. Al-A’raf : 34).

“Dia adalah sebaik-baiknya istri yang selalu menurut kepada saya. Menjadikannya sebagai rumah pelipur lara. Dia adalah bunga yang menghiasi taman hati saya, saya selalu tersenyum setiap kali memandangi bunga itu” Ucap Pak Kholis.

Bu Lastri meninggal karena serangan jantung. Hal yang menjadi penyesalan Pak Kholis adalah ketika ia tak ada di sisi istrinya ketika menghembuskan nafas terakhirnya. Menyaksikan kekasih hatinya menghadap sang pencipta.

Pak Kholis tak dapat berkata apa-apa. Beliau hanya terdiam kehabisan kata dan memandangi tubuh istrinya yang sedang terbujur kaku. Sambil memaki keadaan mengapa hal ini bisa terjadi, bernegosiasi dengan diri sendiri. Bahwa barang yang dibeli harus dibayar dan barang yang dipinjam harus dipulangkan.

Pada saat pemakaman Bu Lastri, Pak Kholis tak henti-hentinya meneteskan air mata. Menyaksikan penguburan istrinya yang sedikit demi sedikit tertimbun tanah. Usai dimakamkan, dan orang-orang meninggalkan pemakaman. Pak Kholis tidak mampu meninggalkan istrinya, beliau tidur di sisi makam istrinya hingga malam tiba.

Pukul 10.00 malam. Pak Kholis memutuskan untuk meninggalkan makam Bu Lastri, kemudian ia meninggalkan sebuah harmonika kesayanganya dengan maksud menemani sang istri.

Hal seperti itu sudah menjadi rutinitas Pak Kholis, ia datang dan memainkan harmonika yang ia tinggalkan di batu nisan sang istri. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Sudah hampir 6 tahun ia melakukan hal tersebut. Tidak jarang pula ia melakukan hal yang membuat bingung orang-orang. Pada suatu malam menjelang pagi, ia teringat kepada sang istri.

Sebagaimana Majnun yang buta akan cintanya kepada Layla. Begitu pula Pak Kholis yang pukul 03.00 dini hari, memanjat pagar kuburan dikarenakan rasa rindu kepada Bu Lastri itu muncul. Kaliwara menjadikan ia insomnia di ranjangnya. Tak tahan dengan kerinduannya kemudian ia memutuskan tidur bersama gundukan tanah kuburan cintanya, demi mengobati rasa rindu yang menggebu.

Seorang tetangga yang tidak mengerti cinta, dengan sangat percaya diri berteriak “Woi Lis, apa tidak takut di medi’in lu?”. Pak Kholis yang sebegitu cintanya kepada Bu Lastri dengan mengangkat kepala, membusungkan dada, namun dengan nada yang halus ia menjawab “Jangankan medi mas, macan yang sedang kelaparan juga saya cuekin”.

Matahari pun memancarkan sinarnya. Namun rasa rindunya tak jua terobati, kewajibannya sebagai pegawai kantoran menjadikan ia harus terpaksa meninggalkan makam sang istri. Dengan berat hati, ia pulang bersiap diri untuk berangkat kerja seperti biasanya.

Pukul 15.00, sepulangnya Pak Kholis bekerja. Bergegas ia kembali ke makam sang istri untuk merebahkan rasa lelah sehabis bekerja. Waktu berjalan begitu cepat, sore pun ditalak sepi. Matahari perlahan demi perlahan berganti bulan, pada saat itulah ia meninggalkan makam sang istri dengan langkah yang amat sangat berat hati.

Hari-hari yang beliau lalui hambar rasanya. Tak ada kopi di meja ketika ingin berangkat kerja, kini ia harus bangun lebih dini dan menyeduh kopinya sendiri, lalu membungkus kopi itu dan membawa sepotong roti. Menunaikan ritualnya setiap pagi, bicara dengan cintanya yang sekarang tak lagi se – dimensi. Lalu ia kirimkan do’a dan tak henti-hentinya membacakan ayat kursi.

“Ya Allah. Aku menjadi saksi untuknya kepada-Mu, bahwa ia adalah istri yang shalihan untukku” Pak Kholis selalu menyisipkannya ketika berdo’a.

Dengan Bu Lastri tidak lagi disisinya, bukan berarti akan terkikis pula cintanya. Rasa itu tak dapat terkubur bersama jasad istrinya, seakan cinta itu tumbuh menjadi pohon kamboja yang selalu memayungi makam istrinya.

Semenjak kematian Bu Lastri hingga sampai kini. Pak Kholis tidak ingin menikah lagi, karena ia percaya bahwa cintanya akan selalu ada di sisinya. Wajah teduhnya selalu terbayang dikala sepi. Walaupun tidak lagi dapat menggenggam tangannya, namun ia merasakan cinta sang istri yang menaunginya. Ia tersenyum karenanya dan ia bahagia karenanya.

Ketika sendu sepi mendatangi, ia tetap menanti. Pertemuannya kelak di tempat indah dengan Bu Lastri. Menyatukan kembali cinta yang sempat terhenti. Bercerita kembali kepada Bu Lastri tentang hari-hari sepi.  

Padahal Pak Kholis kini sudah seperti sore yang di arak mendung, menghilangkan senja. seperti pagi yang tak terdengar kicauan burung, seperti kopi yang kehilangan aromanya. Itulah ia si penggila cinta. Salam hormat sehormat-hormatnya kepada “Si Majnun Dari Pamulang”.