Gusdurian
1 tahun lalu · 531 view · 4 min baca menit baca · Politik 43974_49352.jpg
Republika

Pak Jokowi, Anda Butuh Penasihat Spiritual

Mendekati Pilpres 2019, posisi Presiden Jokowi sebagai petahana nampaknya cukup mengkhawatirkan. Kebijakan dan sikap pribadinya sering blunder dan kontroversial. Oleh oposisi kemudian dijadikan senjata untuk menyerang dan bahan olok-olok.

Tidak hanya di media sosial, di dunia nyata juga demikian. Mulai dari racun kajengking, motor chopper, daftar 200 ulama, dan gaji BPIP. Masalah sepele, tapi bagi oposisi, menjadi amunisi yang ampuh untuk mendelegitimasi pemerintahannya.

Hasilnya cukup efektif menggerus elektabilitas Jokowi. Lihat saja, mulai dari tim kepresidenan, partai pendukung, sampai dengan para kecebong, kedodoran dan berantakan menghadapi serangan oposisi. Alih-alih mengembalikan citra positif Jokowi, celakanya, mereka justru terlibat dalam percakapan kotor bersama pendukung oposisi. Sungguh memalukan.

Melihat posisinya yang semakin mengkhawatirkan, Jokowi perlu mengevaluasi orang-orang di sekelilingnya, baik konsultan politik, tim komunikasi, relawan, dan partai pendukungnya yang tidak bekerja efektif dan cerdas. Salah satu opsi yang bisa diambil Jokowi adalah dengan cara mengangkat penasihat spiritual.

Kenapa harus penasihat spiritual? Penasihat spiritual akan lebih bermanfaat dibandingkan dengan Wantimpres, dan lebih murah daripada konsultan politik.


Kelebihan lainnya, penasihat spiritual akan memudahkan Jokowi melihat peta politik 2019 tanpa harus melakukan survei, menaikkan citra positif presiden tanpa menggunakan media massa, dan tentu saja bisa memengaruhi rakyat tanpa melakukan aksi bela ini-itu. Untuk itu, saya merekomendasikan tiga tokoh ini untuk menjadi penasihat spiritual Presiden Jokowi. Siapakah mereka?

Roy Kiyoshi

Yup, Roy Kiyoshi sangat layak menjadi penasihat spiritual Jokowi. Dengan kemampuan supernya, akan sangat membantu kerja-kerja presiden untuk menghadapi Pilpres 2019. Karena Pilpres 2019 bisa dipastikan akan sangat keras dan brutal.

Dengan menggandeng Roy Kiyoshi, Jokowi tidak perlu khawatir lagi. Karena semua track record, strategi, dan masa depan lawan-lawan politiknya bisa diketahui. Dengan kemampuan Roy, Jokowi bisa memanfaatkannya untuk membuat kebijakan agar ke depannya tidak menimbulkan kontroversi lagi.

Oleh Roy, kebijakan Jokowi akan ‘dicium aromanya’ lebih dahulu. Apabila Roy Kiyoshi sudah mengatakan, “Pak Presiden, saya mencium aromanya, kebijakan Bapak akan bermanfaat dan didukung rakyat, saya melihat setan-setan yang sering merasuki Fahri Hamzah dan Fadli Zon sudah pindah ke selokan, jadi Bapak tidak perlu khawatir diganggu lagi."

Ada lagi, dengan kemampuan penerawangan Roy, Jokowi bisa mengetahui langkah politik yang akan diambil lawan-lawannya. Misalnya, untuk menghadapi manuver Amien Rais yang akan maju sebagai Capres, Jokowi tinggal bobo manis karena dari hasil terawangan Roy, begitu Amien Rais resmi mendaftar ke KPU, dia akan langsung tereleminasi. Bukan karena tidak memenuhi presidential threshold, tetapi karena ada satu persyaratan terbaru dari KPU yang tidak bisa dipenuhi oleh Amien Rais, yakni surat keterangan dari Ketua RT yang menyatakan bahwa yang bersangkutan sudah pernah jalan kaki dari Jogja ke Jakarta.

Limbad

Tahun 2019 merupakan tahun politik yang harus disikapi oleh Jokowi dengan sangat hati-hati. Di tahun ini, semua persolan akan menjadi sangat sensitif. Tidak hanya persoalan agama, tetapi juga ekonomi dan sosial. Sekecil apa pun kesalahannya, dampaknya akan sangat dasyat. Kursi presiden dua periode bisa amblas. Dan ini yang akan dihadapi oleh Jokowi.

Bukan rahasia lagi, salah satu kelemahan Jokowi adalah cara berkomunikasi. Ia tidak punya kemampuan retorika yang bagus. Diksinya juga kadang sangat buruk. Kelemahan inilah yang akan dimanfaatkan oleh lawan-lawan politiknya untuk menjatuhkannya.


Untuk menghadapi masalah ini, Jokowi harus mengangkat Limbad sebagai penasihat spiritualnya. Ya, daripada mengangkat buzzer ngehek dan berisik.

Pilihan Limbad sebagai penasihat spiritual Jokowi sangat tepat. Semua tahu, salah satu kemampuan Limbad adalah bisa menahan untuk tidak berbicara sepanjang waktu.

Kemampuan ini tidak sembarang orang memilikinya. Limbad nantinya akan mengajari Jokowi lelaku untuk tidak berbicara sepanjang Pilpres. Apa pun bentuk kebijakan yang akan disampaikan dan berbagai pertanyaan yang ditujukan kepadanya, Jokowi cukup menggunakan bahasa isyarat seperti Limbad: geleng, angguk, dan senyum.

Ustaz Tengku Zulkarnain

Saat ini, bukan zamannya lagi kita mendengar tausiah yang adem, penuh cinta, dan mengajarkan kedamaian. Umat muslim now lebih mencintai dan puja-puji ulama yang sekalipun dalam dakwahnya mengajari kita untuk makan taik saat harga kebutuhan naik.

Jokowi butuh ulama seperti itu untuk dijadikan penasihat spiritualnya. Nah, tokoh yang tepat dan cocok adalah Ustaz Tengku Zulkarnain. Dijamin, dunia maya dan dunia nyata adem dengan tausiah-tausiah beliau.

Jokowi tidak butuh ulama macam Gus Mus, Quraish Shihab, Habib Luthfi, Buya Syafii, Gus Nadir, apalagi macam Kiai Yahya Staquf. Tidak sama sekali. Tausiah mereka yang mengabarkan perdamaian, cinta kasih, dan persatuan tidak akan laku karena mereka itu liberal, Syiah, dan agen Yahudi.

Jangan salahkan Jokowi kalau mengangkat penasihat spiritualnya seperti Almukarrom Romo Kiai Tengku Zulkarnain. Karena tokoh seperti beliau yang saat ini sangat dicintai umat muslim Indonesia, bisa menguasai masjid di kampung-kampung, dan mendominasi percakapan di media sosial. Keuntungan lain, Jokowi akan mendapatkan tambahan suara dari tujuh juta umat. Hebat, kan?

Sudah, ya, Pak. Ini masukan sedikit dari saya. Diterima, syukur. Kalau tidak diterima, yo wis biasa. Tapi tolong, Bapak jangan bilang ke saya. “Lho kok sampeyan yang ngatur?” Nanti saya jadi baper, Pak.

Oh iya, besok lebaran. Mohon maaf lahir dan batin, ya, Pak. Selamat mukidi. Eh, mudik!


Artikel Terkait