Penulis
2 tahun lalu · 354 view · 5 menit baca · Pendidikan kata-kata-untuk-hari-guru-nasional-dalam-bahasa-inggris-696x400.jpg
www.google.com

Pak Budi dan Bu Ani, Sama Profesi, Beda Kondisi

Pada 24-25 November 1945 diselenggarakan Kongres Guru Indonesia di Surakarta dari segala kelompok dan golongan guru untuk bersatu dan menghapuskan segala kelompok dan golongan guru yang ada. Di kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 yang bertepatan dengan seratus hari kemerdekaan Indonesia menjadi sejarah lahirnya hari guru nasional yang bertepatan juga dengan lahirnya Persatuang Guru Republik Indonesia (PGRI). Semenjak saat itulah guru-guru di Indonesia seakan mendapat naungan yang jelas untuk mengutarakan ide, kondisi, bahkan nasib mereka.

Tahun ke tahun berganti, dan tiap tahun itu pulalah nasib guru-guru di Indonesia merasakan pasang surutnya. Kebijakan dan wacana untuk mensejahterakan guru-guru di Indonesia pun silih berganti walau terkadang hanya bagaikan fatamorgana di tengah gurun pasir yang hanya menjadi bayangan semu dengan segala janjinya. Dan hari ini, tepat di hari guru ke-71, nasib guru pun tak begitu menentu walau beberapa kebijakan telah dicoba oleh pemerintah.

Di saat mulai banyak sekolah modern dengan segala sarana prasarana yang sangat baik untuk menunjang kebutuhan guru beserta kesejahterannya bermunculan, namun ternyata masih sangat banyak pula sekolah di Indonesia yang jauh dari kata baik untuk menunjang kebutuhan guru baik dari segi sarana prasarana maupun kesejahterannya. Padahal hari ini profesi guru di beberapa daerah tak lagi hanya menjadi pilihan terahir untuk profesi seseorang, bahkan guru bagai primadona yang menjadi bahan rebutan si pemilik gelar S.Pd.

Dalam artikel ini saya ingin menceritakan dua kisah yang bertolak belakang kondisinya dari dua sosok berbeda. Pak Budi dan Bu Ani rasanya nama yang tak asing bagi kita yang telah melewati masa sekolah dasar, nama yang santer muncul dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Namun hari ini nampaknya Pak Budi dan Bu Ani telah mengalami kondisi yang berbeda.

Pak Budi, seorang tamatan sarjana pendidikan dari Sekolah Tinggi swasta yang telah mengenyam berbagai ilmu tentang bagaimana untuk melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar di kelas dan manajeman pendidikan diluar kelas kemudian memilih untuk melanjutkan mengajar di sekolah swasta di daerah yang dinaungi oleh sebuah yayasan dan memiliki sarana dan prasarana yang tak begitu baik.

Setiap hari senin hingga sabtu Pak Budi mengajar mata pelajaran Pendidikan Matematika di beberapa kelas, terhitung hingga 28 jam per minggu waktunya dihabiskan di dalam kelas untuk melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar dengan segala keterbatasan sarana prasaran yang ada.

Diluar kelas pak budi pun harus menyelesaikan tugas guru lainnya seperti membuat RPP dan media belajar yang sesuai dengan kondisi sekolah, membuat soal dan melakukan pengkoreksian, dan lain sebaginya. Namun Pak Budi harus berlega diri karena tak ada tekanan dari orang tua dan wali murid dan tak banyak tuntutan dari atasan di sekolahnya.

Untuk pekerjaan yang telah dilaksanakannya tersebut, Pak Budi mendapatkan upah sebesar Rp. 7.500 per jamnya, yang artinya pak Budi hanya mendapat gaji pokok Rp. 210.000 per minggu dan Rp. 840.000 per bulannya. Dari jumlah gaji tersebut, Pak Budi memang masih mendapatkan tambahan lagi dari program sertifikasi yang turun setiap 3 bulan sekali sejumlah 3 juta, walau terkadang tersendat bahkan sempat terlupakan, namun cukup menjadi angin segar sesekali untuk Pak Budi.

Jika dirinci kembali, Pak Budi mendapatkan sekitar Rp. 1.840.000 per bulannya. Jumlah tersebut sudah sangat jauh membaik dibandingkan dengan teman guru lainnya yang tak sanggup memenuhi beban mengajar 24 jam. Cukupkah untuk Pak Budi yang harus membuat media pembelajaran di kelasnya sendiri? Cukup kah untuk Pak Budi yang juga merupakan seorang kepala keluarga yang juga harus menafkahi keluarganya?

Mungkin hanya semangat dan keikhlasan dari Pak Budi saja yang membuat dirinya senanantiasa terus ada dan hadir untuk setiap hari mentransfer ilmu kepada muridnya. Mungkin hanya senyum dari murid-muridnya lah yang membuat Pak Budi senantiasa terus melangkahkan kakinya dari hari ke hari untuk menyapa mereka di kelas.

Lain Pak Budi, lain pula Bu Ani, seorang tamatan sarjana pendidikan dari universitas negeri yang juga sama seperti Pak Budi telah mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana mengajar di kelas dan manajemen pendidikan yang baik . Setelah mendapatkan gelar sarjana pendidikannya, dengan kemampuan yang telah dimiliki ditambah dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya, Bu Ani memilih untuk menjadi guru Pendidikan IPA di sekolah internasional yang murid-muridnya berasal dari kalangan anak pejabat dan pengusaha.

Bu Ani mengajar setiap hari senin hingga jumat mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 15.00, sedangkan di hari sabtu dan minggu dapat digunakan Bu Ani berada di rumah. Bu Ani mendapatkan jumlah jam mengajar hingga 24 jam per minggunya. Sama seperti Pak budi, Bu Ani pun harus mengerjakan pekerjaan guru lainnya diluar kelas seperti membuat RPP, media pembelajaran, soal-soal, dan lain sebagainya.

Soal upah yang harus didapat, Bu Ani berbeda dengan Pak Budi, Bu Ani mendapatkan kontrak per tahun dengan sekolah tersebut dengan tanpa perjanjian hitungan upah perjam seperti Pak Budi, Bu Ani dikontrak oleh sekolah inernasional tersebut sebesar Rp. 3.500.000 per bulannya. Dengan jumlah tersebut, Bu Ani mendapatkan tambahan kembali dari pengayaan atau bimingan yang diminta para orang tua kepada mata pelajaran yang dipegang Bu Ani, jumlahnya hingga mencapai Rp. 2.500.000 per bulannya.

Jadi jika di total, per bulannya Bu Ani mendapatkan pendapatan hingga Rp. 6.000.000 dari hasil mengajar di kelas dan diluar jam mengajar. Tentu enak bukan? Tak seperti Pak Budi, Bu Ani tak harus menanti hembusan angin untuk menyegarkan dirinya, Bu Ani tak perlu lagi rasanya menunggu belas kasihan pemerintah untuk mendapatkan dana bantuan atau sertifikasi, dan lain sebagainya.

Apakah Bu Ani benar-benar senang? Ternyata masih saja ada yang mengganjal dihati Bu Ani walaupun dengan pendapatan yang melimpah. Tuntutan dari orang tua dan wali murid kepada sekolah sangat tinggi karena merasa sudah membayar mahal untuk sekolah anaknya, sehingga membuat pihak sekolah memberikan tekakan kepada Bu Ani. Jika saja Bu Ani melakukan kesalahan walaupun sekecil apapun itu, hal itu akan membuat orang tua dan wali murid menuntut ke pihak sekolah yang kemudian membuat Bu Ani mendapatkan tekanan lebih. Bahkan tak sedikit orang tua dan wali murid yang meminta perhatian lebih ke tiap anaknya, seperti memberilatihan tambahan yang berbeda dengan yang lain, komunikasi lebih, dan lain sebagainya.

Pak Budi dan Bu Ani adalah contoh dua sosok dari sekian banyak guru di Indonesia. Sama-sama memiliki gelar sarjana yang sama dan memilih jalan untuk tetap setia dengan gelarnya, namun memiliki kondisi yang berbeda. Tak dapat di generalisasikan begitu saja memang, namun setidaknya dua perbedaan kondisi inilah yang dapat menjadi gambaran kita tentang bagaimana seorang guru selalu memikul beban yang begitu berat dipundaknya, bagaimanapun itu kondisinya.

Pundi rupiah tak hanya satu-satunya faktor yang membuat seorang guru lantas kemudian bahagia ternyata, lebih dari itu, guru hanya ingin menyelesaikan tugasnya untuk mencerdaskan anak bangsa. Pak Budi, Bu Ani, tak banyak orang tahu bagaimana kondisi batin mereka, kebanyakan orang hanya ingin tahu bagaimana murid di sekolah dapat mendapatkan ilmu yang layak.

Tak banyak pula yang tahu tentang bagaimana harus bekerja kerasnya Pak Budi dan Bu Ani harus menyelesaikan tugasnya walaupun itu diluar jam kerjanya. Pak Budi, Bu Ani, terima kasih atas segala pengorbanan yang kalian telah berikan, selamat hari guru nasional.