Konsultan
1 tahun lalu · 1224 view · 3 min baca menit baca · Hiburan 95061_93814.jpg
Salah satu scene dalam film 'In a Heartbeat' (foto: Youtube)

Pahit-Manis Keuniversalan Cinta

Dalam Film Animasi Pendek ‘In a Heartbeat’

I’m way too late to the party, but it’s better late than never—‘In a Heartbeat’ really is a beautiful masterpiece that the world really needs right now.

Saya yakin pengguna internet di Indonesia juga sudah mendengar kehebohan luar biasa atas film animasi pendek ‘In a Heartbeat’ ini, yang mengguncang jagat maya sejak Bulan Agustus lalu (per hari ini, lebih dari 30 JUTA views di Youtube).

Sudah cukup lama mendengar kehebohan film ini, saya memutuskan untuk tidak menontonnya (padahal durasinya cuma empat menit—EMPAT MENIT). Mostly, selain karena saya bukan penggemar film animasi, saya juga sibuk dengan “urusan-urusan di dunia nyata”, serta banyaknya hal-hal “penting” lain yang menyita perhatian saya, mulai dari Trump dan “ancaman Perang Nuklir-nya”, hingga memanasnya isu “hantu” PKI.

Anyway, hari ini (bertepatan dengan ‘Spirit Day’ di Amerika), saya memutuskan untuk meluangkan empat menit waktu saya untuk melihat film pendek ini. And all I can say after watching this film is, it’s simply one of the most profoundly beautiful films OF ALL TIME. And that I never thought a cartoon would make me cry—like EVER.

‘In a Heartbeat’ menurut saya adalah film yang sangat sederhana, namun digarap dengan konten dan konteks yang sangat luar biasa. Secara konten, film ini punya daya tarik yang akan membuat orang-orang “realis” seperti saya semakin menyukai animasi.

Yang lebih luar biasa lagi, film ini tidak memiliki narasi atau dialog apa pun. Pure hanya bersandar pada kekuatan animatif yang lucu dan menggugah visual, adegan-adegan para tokoh, alur cerita, dan score (musik). Dan dengan itu semua, film ini mampu membuktikan kekuatan storytelling yang benar-benar efektif dan sangat powerful.

Secara konteks, film ini mengisahkan seorang closeted boy (anak laki-laki gay yang belum coming out) yang jatuh cinta pada seorang anak laki-laki lain di sekolahnya. Anak laki-laki itu pun beresiko untuk “ketahuan sebagai gay” karena perasaan hatinya yang benar-benar berkecamuk, dan tidak bisa ia sembunyikan atau hapuskan, apa pun usaha yang dilakukannya.

Pergulatan batin anak laki-laki itu digambarkan dengan sangat arif oleh kedua creator, Esteban Bravo dan Beth David, dalam film ini. Apakah dia harus mengikuti arah kata hatinya dan coming out, atau bertahan dengan keadaannya dan menyembunyikan jati diri dan perasaan cintanya dari anak laki-laki yang disukainya.

Sampai pada akhirnya—dengan metafora yang cerdas, lucu, sekaligus menyayat hati—digambarkan bahwa orang-orang pun mengetahui tentang rahasia si anak laki-laki itu. Tidak hanya sebagai seorang homoseksual, tapi juga bahwa ia jatuh cinta kepada seorang anak laki-laki lain di sekolahnya.

Arus homophobia yang menyambut “kejadian coming out” anak laki-laki itu pun memaksanya untuk menyembunyikan diri dengan belahan hatinya yang patah. Di akhir film, di saat penonton sudah mengalami emotional roller-coaster, kita dikejutkan dengan happy ending yang dieksekusi dengan sangat manis: anak laki-laki yang disukainya itu datang mengembalikan dan melengkapi kembali belahan hatinya yang sempat patah.

Subjek ini tentu saja tidak baru. Bahkan beberapa film dengan format sama dari Indonesia pun ada yang sudah mengangkat mengenai subjek romansa sesama-jenis ataupun LGBTQ+ terutama di kalangan remaja. Salah satunya film Boy Crush garapan aktris dan sutradara, Sigi Wimala.

Akan tetapi, belum pernah kita melihat representasi kaum gay ataupun LGBTQ+ in general dalam film animasi mainstream seperti produksi Pixar. Dan kehadiran film ‘In a Heartbeat’ ini tidak saja menjadi penting bagi progres kesetaraan kaum LGBTQ+, tapi juga meningkatkan kualitas representasi film, yang benar-benar merefleksikan kenyataan di sekitar kita, dan tidak melulu terjebak dalam dunia “khayalan” heterenormatif.

Yang lebih powerful lagi, film ini benar-benar sangat relatable bagi siapa pun. Tidak peduli anak-anak, remaja, orang dewasa, atau lanjut usia. Tidak peduli apa orientasi seksual ataupun identitas gender Anda, Anda akan sangat bisa related dengan film ini.

Saya yakin, ketika Anda menonton film ini, Anda akan bisa menemukan dan merasakan pahit dan manisnya cinta yang begitu universal yang bisa dirasakan oleh siapa saja—termasuk oleh dua orang yang bergender sama.

Dan, menurut saya, di situlah letak kekuatan konteks film ini. Ia tidak begitu fokus kepada respons homophobia yang diperoleh karakter-karakternya, tetapi lebih kepada perasaan manusiawi yang nyata, dan begitu kuat, yang sama-sama dirasakan oleh kedua karakternya. That the heart wants what the heart wants, and that’s all that matters—the love between the two boys.


Terakhir, saya hanya ingin menegaskan bahwa film ‘In a Heartbeat’ ini tidak hanya menunjukan betapa universal dan naturalnya perasaan cinta antara dua orang manusia (apa pun gendernya), tetapi juga betapa besarnya kekuatan sebuah film sebagai seni.

I mean, bahkan jika Anda memang tidak mendukung keberadaan kaum LGBTQ+, saya sangat sarankan Anda untuk tetap meluangkan waktu empat menit saja menonton film ini, demi membangkitkan jiwa kemanusiaan Anda. Saya yakin—jika tidak menangis—paling tidak hati Anda akan tersentuh dengan kekuatan humanisme dan kejujuran film ini.

If not, then there must be something really wrong with you. Go see it on Youtube, folks, and then spread the love.

Artikel Terkait