Tetua kampung sering menceritakan bahwa jika sang jago mulai bersahutan, itu artinya ada jiwa jiwa yang sedang mengunjungi kampung itu. Atau itu adalah pertanda bahwa bunyi sangkakala seseorang sedang dibunyikan. Tapi kali ini berbeda. Waktunya berbeda sekali dengan yang telah diceritakan tetua kampung itu. Jelas sekali kalau diakhir cerita itu, tetua kampung mengatakan bahwa itu berlaku jika waktunya tengah malam. Sedangkan kali ini adalah yang orang sebut sebagai awal dari sebuah hari.

Langit tampak lebih terang dari sekadar remang-remang. Langit begitu bersih dan indah sekali. Hanya sedikit kabut awan yang terlihat, namun itu tak membuat langit kehilangan keindahannya. Bahkan sebaliknya menambah keindahan langit kali ini. Karena keindahannya ini beberapa orang sengaja bangun lebih awal untuk menikmatinya.

Seperti biasa bunyi klakson dan motor penjual ikan mulai terdengar di tengah lorong kampung itu.

“Tunggu!” Teriak sekolompok ibu yang hendak membeli ikan. Motor itu pun berhenti. Belum lama ia berhenti, sekelompok Ibu telah ada di sampingnya masing-masing sambil menyodorkan baskom dengan selembar uang di dalamnya. Ada yang satu lembar merah bergambar rumah limas khas dari sumatera selatan, ada juga yang satu lembar hijau bergambarkan Otto Iskandar Dinata.

Seperti biasa keributan kecil terjadi pada mereka. Tak sedikit yang protes dengan jumlah ikan yang mereka dapat. Namun setiap kali mereka protes, sang penjual ikan akan mengatakan bahwa harga ikan saat ini sedang mahal. Ditambah lagi puluhan kilometer harus ia lewati untuk sampai di kampung itu. Dengan sedikit kesal, ikan-ikan itu akhirnya dibeli juga. Tidak hanya itu dengan raut wajah kesal mereka akhirnya kembali ke rumah masing-masing.

Di tengah perjalan menuju rumah yang tidak terlalu jauh, seorang ibu mendapati dua orang bapak yang bertegur sapa dan senyum. Salah seorang bapak terkenal dengan kumis dan jenggot yang jarang dicukurnya. Sedangkan seorang bapak yang lain dengan jiwa humoris yang tinggi. Sesekali terdengar tawa di sela pembicaraan mereka. Tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan.Tapi yang jelas di suatu kesempatan yang lain keduanya pernah berkata bahwa senyum dan tawa adalah bentuk ungkapan syukur. Kehidupan baru yang terus berulang dan pertemuan yang kesekian kali.

Keduanya menganggukkan kepala, tanda menyalami ibu itu. Anggukan mereka dibalas juga dengan anggukan dan senyum dari Ibu itu. Tak banyak yang ditanyakan kedua bapak itu kepada ibu tersebut. Keduanya sadar jika  pagi adalah waktu dimana banyak hal yang harus diurus dan dikerjakan seorang ibu.

Tak lama kemudian Ibu itu telah sampai di rumahnya. Ia mendapati anaknya masih terbaring nyenyak di tempat tidur. Emosi yang memuncak terlihat dari wajahnya. “Bangun Petu, Kau sekolah ka tidah?” suaranya meninggi meneriaki anaknya yang belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Bukan berarti ibu itu galak seperti yang dibayangkan tapi memang ibu-ibu yang lain di kampung itu juga melakukan hal yang sama kepada anaknya. Wajar jika banyak ibu yang lebih banyak stres karena pekerjaan rumah yang begitu banyak.

“kau seharusnya malu dengan Boli. Lihat! Ia saja sudah bangun sejak tadi dan sedang menyapu. Sedang kau malah masih asyik-asyiknya dengan tempat tidur.”

Memang betul sejak tadi bunyi goresan sapu terdengar dari samping rumah mereka. Juga terdengar hampir di setiap halaman rumah di kampung itu. Bunyi goresannya tak kalah meramaikan suasana waktu itu. Tampak ujung sapu itu sedang menendang sekelompok dedaunan kering. Sesekali mereka berteriak menggiring sekelompok tawanan ke suatu tempat untuk siap dieksekusi. Lebih tepatnya untuk siap dibakar.

Dengan begitu sebentar lagi langit yang bersih dan indah akan dihiasi dengan asap yang mengepul. Wajar karena hampir setiap orang melakukan seperti itu di setiap halaman rumah. Mereka melakukannya semacam ritual wajib ketika tawanan itu telah sampai di tempat yang telah ditentukan.

Pernah seorang yang menyebut dirinya aktivis menanyakan kebiasaan mereka itu. “Mengapa tidak kalian buang saja sampah itu di kebun?” Setiap kali pertanyaan ini dilontarkan mereka akan berujar bahwa kebun mereka sangat jauh untuk sekadar membuang sampah sampah itu. Setiap kali jawaban itu ia terima, kekhawatiran tumbuh dari raut wajahnya.

“Bukankah kemarin hal yang sama telah mereka lakukan? Mereka sedikitpun tak pernah khawatir jika sewaktu-waktu langit murka dan marah. Tapi sudahlah! Bukankah mereka juga yang akan menerima akibatnya nanti?”

Dibalik rasa khawatir itu, asap yang mengepul menjadi tanda bahwa banyak orang telah beranjak dari tempat mereka mendapat mimpi semu untuk pergi ke dunia dimana mimpi yang sebenarnya ada. Banyak orang telah berpamitan dengan tempat yang sejenak memberi mereka jeda pada semua aktivitas yang melelahkan. Jeda adalah tentang kehidupan yang harus dilanjutkan. Dan benar saja, seketika telah terdengar suara dimana-mana. Ya…itu adalah suara orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. Kehidupan telah dilanjutkan.

Sedang di sudut ruangan yang tak rapih lagi, seorang laki-laki nampak masih memeluk erat bantalnya. Keadaanya yang sudah sangat ramai tidak serta merta membuatnya beranjak dari tempat tidurnya. Matanya masih dipejamkan dengan mimpi yang membawanya entah ke mana. Ia sebenarnya telah bangun sekitar sejam yang lalu. Namun rasa ingin menikmati tidur lebih lama telah membuatnya seperti sekarang. Dia bilang pada dirinya bahwa saat seperti sekarang adalah waktu terbaik untuk menikmati tidur, dimana aktivitas yang bernama tidur pernah direnggut oleh sebuah aturan yang telah mengikatnya.

Dia ingat betul hampir tiga tahun, setiap harinya ia harus bangun lebih awal sebelum sang surya menampakan wajahnya. Ia berjuang melawan rasa kantuknya untuk menyelesaikan tugas rumah. Halaman rumah yang luasnya dua kali lapangan futsal, dikelilingi oleh tanaman dan bunga harus ia siram. Tak hanya itu, halaman yang telah disiram, yang penuh dedaunan kering dan sampah plastik yang berserakan harus ia bersihkan dengan sapu. Selesai dari itu, ia harus menyiapkan sarapan untuk seisi rumah yang jumlahnya setengah dari jumlah bulan dalam setahun.

Itu adalah aktivitas harian yang harus ia lakukan sebelum mengenakan seragam putih abu dan pergi ke tempat yang bernama sekolah. Aktivitas itu pada awalnya sangat melelahkan dan memberatkannya. Kadang marah adalah hadiah yang harus ia terima ketika pulang dari sekolah. Hal itu ia dapatkan karena tugas yang ia kerjakan terkesan dilakukan dengan setengah hati.

Pernah suatu ketika ia dimarahi karena halaman rumah yang telah dibersihkan masih menyisakan beberapa sampah. juga pernah ia dimarahi karena tumpukan sampah yang tidak sempat diangkut ke karung sampah. Ia melakukan itu dengan tahu dan mau karena lelah dan rasa malas yang terus menggodanya.

Tak hanya itu, lelah dan rasa malas terus menggodanya untuk ingin mengangkat koper lebih awal. Namun banyak pertimbangan membuatnya terus bertahan di rumah itu. Keadaan seperti itu harus ia jalankan sehingga menjadi hal yang biasa baginya. “Beginilah kira kira jika kita menyandarkan kepala di rumah orang untuk selembar cita-cita dan ilmu. Tak ada yang mudah, yang ada hanyalah proses yang sulit dan akhir yang indah jika dijalankan dengan sungguh-sungguh.” Katanya ketika menguatkan dirinya.

Baginya tugas yang ia kerjakan tak sebanyak dan seberat yang didapatkan oleh teman temannya di rumah yang lain. “Aku sudah diperlakukan seperti pembantu rumah,” curhat seorang teman kepadanya. “memangnya apa saja tugas mu di rumah?” laki-laki itu bertanya. “kau tahu tugas seorang pembantu rumah kan?” suaranya meninggi. Jawabannya itu mengisyarakatkan bahwa jawaban yang laki laki itu inginkan hanya akan menjadi penambah luka baginya. Laki-laki itu pun terdiam dan sedikit merasa bersalah. Seharusnya ia lebih peka sebagai pendengar yang baik.

“Perempuan dalam rumah kami tak bedanya dengan seorang penjajah,”

“Maksudnya?” tanyanya laki-laki itu dengan dahi sedikit mengkerut.“Ya… tak bedanya dengan pemalas, tukang perintah dan penindas,” balas temannya itu.

Memang benar, semenjak kedatangan anak-anak dari kampung yang menumpang untuk sekolah, “perempuan” dalam rumah itu tak bedanya dengan seorang penjajah.

Kali ini laki-laki itu sadar. Akibat banyak pekerjaan rumah yang dibebankan kepada mereka, teman-temannya banyak yang tak sempatkan diri untuk belajar di rumah. Jangankan belajar, mengerjakan tugas sekolah pun sulit untuk membagi waktu. Mungkin itu ada hubungannya dengan banyak teman seangkatannya yang mengerjakan tugas asal-asalan. Ada juga yang sampai di sekolah baru menyalin dari temannya. Dan lebih parah lagi akibat terlalu banyak pekerjaan rumah membuat banyak temannya yang putus sekolah dan pulang ke kampung asalnya. Mau pindah rumah, pekerjaan yang sama banyaknya pun menanti. Memang tak hanya di satu rumah yang terjadi seperti itu tapi hampir di semua rumah terjadi seperti itu. Seorang temannya menyebutnya dengan penjajahan secara halus.

Benar saja jika sampai saat ini laki-laki itu masih menyimpan sesal dalam diri. Bukan kepada dirinya tapi orang orang yang telah memperlakukan anak sekolah yang menumpang seperti pembantu. Dia yakin bahwa orang orang itu tahu membedakan mana pembantu dan mana anak yang menumpang untuk sekolah. Tapi apalah daya jika sifat penjajah telah membudaya dalam diri orang-orang itu. Benar bahwa penjajah dari Eropa itu hanya pergi bersama raganya, tapi sifat dan kejiwaannya telah diwariskan kepada kita. Sebenarnya bukan kita tapi lebih tepatnya kepada orang orang itu.

Di atas tempat tidur itu tak ditemukan lagi laki-laki itu. Bunyi alarm kedua telah membuatnya beranjak dari tempat tidur ke beranda belakang rumah. Ia telah duduk santai di sebuah kursi, sedangkan tempat tidurnya nampak masih berantakan. Seperti biasa suasana pagi membuatnya lebih suka duduk dengan segelas kopi walau tanpa sebuah buku. Ia juga tak kecewa jika melewatkan keindahan langit pagi hari.

Sambil menikmati segelas kopi, ia ingat kembali kenangan-kenangan itu.“Aku telah melewati seleksi alam itu. Tak banyak kenangan yang ku rindukan namun banyak yang harus ku ceritakan. Tak mungkin juga aku harus kembali ke masa itu lagi. Yang harus ku lakukan adalah meneguk sebuah janji untuk tak mau menjadi penjajah seperti orang-orang itu.”