Menyapa pagi di Kintamani
Memandangmu rebah menunggu
Ada halimun membeku
Berjajar bagai tanaman padi

Pada puncak atap pura
lengkung pelangi menghantarkan
doa doa menuju nirwana
Sepi, lengang, dan tenang
Menyelimutimu dalam kepasrahan

Lolong anjing bersahutan
Hadirkan magis pada sadarku
Terdengar alunan rindik dari seberang
Iramanya mengalir selaras jantungku

Satu satu halimun luruh
Danau Batur balik menyapa
Kita bersama menyelaraskan
Hidup dengan Dewata

Toya Bungkah

Mendekap kehangatan
Mengosongkan hati dalam
Keramaian di punggung Kintamani
Menyatu dengan jingga senja
Pada horizon kueja mantra mantra

Di antara batu batu bersemadi
Mengalirlah air menjadi husada
Anak manusia berbagai warna
Memintal harmoni kehangatan
Melepas ego diri menyelaraskan hati
Pada roh alam semesta
Pada jiwa manusia
Pada kehendak dewata agung

Saat langit sewarna air
Mereka  menyelam di danau itu dan menyatu
Pada bukit Kintamani
Mereka berjanji untuk selalu ke Bali

Gayatri

Pada tiap hasrat lelaki
merindumu menjadi bagian pengindah tahta
sebagaimana tatapan awas matamu
menguak cahaya kedaton dada dada prawira

kau pasrah pada jejaka jelata
beraura tahta bukan berhasrat kuasa
karena yang berhasrat telah tunduk pada ketiakmu
sebagaimana Putri Dedes kau memilih untuk dipilih

memendam hati yang perawan
mengorbankan tubuhmu pada pangeran
cinta yang tak pernah kau lepaskan
membuat tahta itu lemah

kesalahanmu adalah menunggu
perempuan tak harus menunggu
kehidupanmu menjadi duri
dan sekali lagi kepasrahan itu perih, Gayatri

Nusa Surga

Surgamu tertinggal
menyepi di antara butiran manikam
aroma padi serupa dupa
seindah gerak rancak kecak tanpa rebana

setiap senja miliknya
menjadi catatan kenangan
jingga senja adalah warna surga
dirindukan tiap penjuru anak bangsa

gemericik air dan hembus angin
adalah irama lagu pujian
melembutkan hasrat keduniawian
menyepi menjemput Sang Abadi

Panglipuran

Meniti hutan bamboo
Berbisik bisik daun menyapaku
Damailah di Panglipuran

Tiga perempuan berkebaya
Menyunggi sesajen beraroma melati
Di antara kelopak bunga kamboja
Senyumnya tertinggal pada cermin mataku

Lengang dan tenang
Aroma loloh cem ceman merayuku
Aku ekstase di penataran

Kebaya itu melayang di rumah Panglipuran
Lambaikan selamat datang dayang dayang
Saraswati dan Laksmi menjelma pada
Gerbang gerbang rumah di Panglipuran
Merasuk Tri Hita Karana di hati warga Panglipuran

Mahabbah

Ribuan kamus tak mampu mendefinisikan kamu
tak jua ratusan ensiklopedia

Kamu adalah definisi yang selalu datang
Meski sulit untuk diterangkan

kerahasiaanmu abadi
mencarimu adalah kerinduan tak henti

hanya cahayamu menghidupkan
cahayamu di atas cahaya
cintamu segala cinta
kasih sayangmu menghujam segala
kubersimpuh saat terlupa
atas kehendakmu keberserah
oh mahabbah

Saat Luka

saat luka itu ada karenamu
obat itu pun karenamu

saat rindu ada karenamu
jumpa itu pun tersebabkanmu

dan bila cinta adalah darimu
pada jalan takdir aku mengikutimu

bila segala sebab berasal karenamu
maka Mengapa kusandarkan padamu

Saat Kita Begitu Rindu

Saat kita begitu rindu, kadang ingatan itu bagai kunang kunang
ia berkelap kelip di kegelapan
kita mengejarnya tapi tak hendak
....menangkapnya
membiarkannya terbang
adalah pilihan terindah

Angin Timur

Angin pantai kencang membelai
Juli yang panas menjadi hangat
wajah wajah nelayan resah
pada cakrawala utara mereka menitipkan kehidupan

air laut yang surut mengabarkan
sekarang bukan saat yang tepat
biarkan jala jalamu beristirahat
dia tlah berjanji pada karang
tak menyentuh telur yang disimpannya

mari bersama menikmati muson
dengan mengecat perahu dan menambal jaring
jangan menggerutu pada ombak di lautan
ia adalah pengingatmu
bahwa segalanya perlu istirah

buka saja celengan gerabah itu
mungkin sisa recehan tahun lalu
bisa membuatmu tersenyum
hingga teduh memanggilmu
dengan suara mesin perahu yang lebih mengaum

Tak  Berdebar Tapi Nyaman

kekasihku
ke sinilah mendekat padaku
apa masih kau ada getar di dadamu
seperti saat kita berkenalan dulu

di bawah pohon jambu
kau terlihat ayu meski terlihat kaku
ada kekhawatiran kau terlihat tak sempurna
begitu juga aku padamu
kita terdiam menikmati sepi sore itu

kini perjalanan itu kita sempurnakan
dalam sulit dan mudah kita tetap bahagia

pada malam malam paling tak romantis
meski bulan nampak seperti saat kita berpacaran
kau mendekap aku
kau bilang "meski tak lagi berdebar tapi nyaman kurasa di dekapmu."