Jika di awal tahun 1950-an sastrawan Mochtar Lubis menulis novel Jalan Tak Ada Ujung yang sedikit banyak menggambarkan suasana perang mempertahankan kemerdekaan saat itu, maka dengan sedikit menyiratkan rasa optimis, tidak ada salahnya jika suasana perang melawan pagebluk saat ini digambarkan seperti jalan tak tentu ujung. Mengapa demikian?

Di awal-awal pagebluk ini menyerang, boleh dikata rasa optimisme akan wabah ini segera menemui titik ujung masih meliputi suasana kebatinan mayoritas bangsa ini. Atas dasar sifatnya yang akan mati dengan sendirinya, bangsa ini begitu optimis bahwa akhir dari pandemi ini hanya persoalan waktu. Sepanjang protokol kesehatan yang telah digariskan pemerintah dipatuhi.

Pemerintah kemudian memilih bulan Maret tahun 2020 sebagai permulaan perang melawan pandemi ini. Hal tersebut ditandai dengan pembatasan yang diterapkan di berbagai ruang dan waktu. 

Alhasil jalan-jalan yang biasa ramai menjadi sunyi senyap. Pusat perbelanjaan, tempat wisata, sebagian kantor dan unit usaha tutup serta jam malam di beberapa tempat diberlakukan.

Orang-orang diimbau bahkan terkadang dipaksa jaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan serta berdiam diri di rumah. Hastag dirumahAja pun menjadi familiar. Semua itu dilakukan dengan harapan pandemi ini segera menemukan ujung jalannya.

Di masa awal pembatasan sosial, beberapa pihak sempat mempublikasikan prediksi kapan wabah ini akan berakhir. Berdasarkan pendekatan yang digunakan, beberapa pihak memprediksi bahwa wabah ini akan segera berakhir. Prediksi-prediksi ini semakin membuat publik makin optimis bahwa wabah ini hanya tinggal tunggu ajal menjemput.   

Sekitar tiga bulan berjalan, tepatnya bulan Juni 2020, pembatasan tersebut mulai direnggangkan dengan kebutuhan ekonomi sebagai dalil utama. New normal adalah diksi yang dipilih untuk menarasikan tatanan hidup baru di musim pandemi ini. Aktivitas pun berangsur-angsur kembali seperti sedia kala. 

Mesin–mesin ekonomi kembali dinyalakan pelan-pelan. Kantor-kantor, pusat perbelanjaan dan tempat umum lainnya pelahan-lahan mulai beroperasi, yang tidak lain bertujuan agar kantong-kantong yang mulai menipis bahkan kosong bisa terisi kembali untuk melanjutkan hidup.

Namun di balik itu semua, entah sadar atau tidak, perjalanan pagebluk ini ternyata seperti masih jauh dari titik akhir perjalanannya. Bahkan bukannya dijemput ajal, virus ini justru semakin agresif menuntun orang menemukan ajalnya. Grafik korban terus meningkat. Petugas medis pun dibuat lelah bahkan ada yang menyerah sebab dirinya sendiri menjadi korban.

Waktu terus berjalan hingga tepatnya di pertengahan September 2020, dengan alasan grafik kasus semakin menanjak, Gubernur DKI Anis Baswedan menarik rem darurat PSBB masa transisi yang diterapkan sejak bulan Juni. Pembatasan sosial skala besar kembali diperketat.

Dari ibukota kita beralih ke ujung timur Indonesia. Pemerintah Kota Jayapura juga sepertinya bisa jadi melakukan hal yang sarupa dengan Jakarta. Sinyal-sinyal tersebut sudah ada. Walikota Jayapura, Benhur Tomi Mano dalam sebuah kesempatan menyatakan bahwa kasus covid-19 di Jayapura terus meningkat selama pembatasan dilonggarkan. Dan di akhir bulan September ini, kebijakan akan dievaluasi. 

Jika PSBB kembali diterapkan di berbagai tempat, maka kita sepertinya akan kembali seperti bulan-bulan awal perang melawan pandemi di bulan Maret lalu. Bahkan situasi yang dihadapi diprediksi semakin sulit karena energi yang tersisa sudah berkurang.

Rasa optimisme publik bahwa pandemi akan segera berakhir pun semakin tergerus. Apalagi hingga sejauh ini pihak-pihak yang mengeluarkan publikasi prediksi kapan pandemi ini akan berakhir tak seramai dulu. Padahal prediksi-prediksi optimis mereka bisa menambah optimisme publik menghadapi wabah ini. 

Sepertinya suasana hari-hari beberapa waktu kedepan, tidak jauh berbeda dengan saat ini. Ketakutan akan teror pandemi ini belum bisa jauh-jauh dari suasana kebatinan masyarakat luas. Waktu pandemi ini mengakhiri musimnya adalah saat yang paling dinanti.   

Saat ini publik sangat berharap kepada para ahli agar menyegerakan diri menemukan vaksin. Vaksin yang diharapkan dapat menuntun pagebluk ini menemukan ujung jalannya.

Sejalan dengan keinginan publik, saat ini beberapa pihak sedang berlomba-lomba menemukan vaksin. Bahkan ada yang sudah diuji coba. Di samping alasan kebutuhan, penemu vaksin tercepat juga akan mendapatkan prestise yang akan tercetak oleh sejarah dengan tinta emas.

Akan tetapi ketika satu atau beberapa jenis vaksin berhasil ditemukan, belum tentu pagebluk ini akan segera berakhir.  Sebab sebagian ahli ada yang mensinyalir bahwa jenis virus ini bermacam-macam. Sehingga belum tentu pagebluk ini bisa diselesaikan dengan satu atau beberapa jenis vaksin.

Selanjutnya ketika semua jenis vaksin untuk masing-masing jenis virus corona telah ditemukan, belum tentu corona ini bisa dihilangkan seketika. Sebab berdasarkan karakternya, bisa jadi virus ini bertransformasi membentuk jenis baru yang kebal akan vaksin yang telah ditemukan sebelumnya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sepertinya pagebluk ini memang memilih jalan yang tak tentu ujung. Jalan yang hingga saat ini belum ada pihak yang berani memprediksi secara persis dimana titik ujung perjalanannya.