Topik mengenai pendidikan seks dan kesehatan reproduksi merupakan suatu hal yang tabu untuk dibicarakan oleh orang tua dengan anak-anaknya. Lebih umum mendengar orang tua bertukar cerita tentang gigi pertama dan langkah pertama anak daripada mendengar tentang perkembangan seksual anak. 

Bagi anak, kata seks adalah sesuatu yang tidak boleh didengar. Ketika mereka penasaran, mereka keliru mengajukan pertanyaan tentang alat kelamin, seks, dan persalinan, orang tua dan lansia di sekitarnya bersama-sama memarahi dan meneriaki mereka karena berani mengucapkan kata-kata “sakral” tersebut.

Mengingat maraknya kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, dan kehamilan anak usia muda menggambarkan mirisnya pendidikan seks di Indonesia. Sebagai contoh seorang anak yang melakukan hubungan seksual tanpa mengetahui risiko yang akan didapatkan membuat pendidikan seks adalah suatu hal yang sangat penting.

Meskipun pendidikan seks harus diperkenalkan di sekolah, penting bagi orang tua untuk mendidik anak mereka tentang seks bahkan sebelum sekolah dimulai. Oleh karena itu, pendidikan seks harus diperkenalkan sedini mungkin untuk memastikan perkembangan seksual anak yang sehat.

Sejak bayi, anak-anak mulai memiliki kesadaran tentang tubuh mereka, termasuk menyentuh alat kelamin saat telanjang, hal itu merupakan hasil dari rasa ingin tahu dan bukan merujuk pada aktivitas seksual. Jadi, apabila anak-anak menanyakan mengenai topik seperti itu, orang tua disarankan untuk menjawabnya secara konstruktif, bukan meneriaki dengan alasan belum cukup umur.

Lantas, berapakah umur yang cukup itu?

Topik mengenai usia yang pantas untuk menerima pendidikan seks menuai pro kontra tersendiri. Beberapa kelompok orang tua menganggap bahwa pendidikan seks harus dimulai sejak usia tiga tahun. 

Pada saat yang sama, ada pula yang menganggap pendidikan seks harus diajarkan saat usia tiga belas tahun. Alasan orang tua mengajarkan pendidikan seks pada usia tiga tahun yaitu ingin menghindari anaknya terjerumus pada konten berbau pornografi yang dapat diakses melalui internet.

Anak-anak pada usia tiga tahun memiliki rasa ingin tahu yang besar terutama menganai “dari mana bayi berasal” dan apa yang membuat anak laki-laki dan perempuan berbeda dari usia yang sangat muda. Mungkin orang tua akan terkejut dan khawatir dengan pertanyaan ini tapi pertanyaan tersebut harus dijawab dengan yang sebenarnya. Dengan memberi jawaban yang sebenarnya dengan batasan tertentu dapat mengurangi kemungkinan menghadapi efek negatif dari kurangnya pengetahuan tentang topik untuk anak-anak.

Saat anak berusia tiga tahun adalah waktu yang ideal untuk memperkenalkan pendidikan seks. Mengingat pada usia tiga tahun anak-anak mulai keluar untuk bersekolah dan dihadapkan pada komunikasi dengan anak laki-laki dan perempuan lainnya. 

Oleh karena itu, orang tua harus memberi tahu mereka tentang batasan di bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Penting untuk mengkomunikasikan dengan anak-anak mengenai mengenai batasan ini, hal ini membuat mereka memahami apa yang mungkin tidak pantas ketika berinteraksi dengan anak-anak lain.

Seiring bertambahnya usia, pengenalan mengenai pendidikan seks tidak perlu menggunakan nama panggilan untuk bagian tubuhnya. Hal ini membantu anak untuk memahami fungsi tubuh mereka dan tidak heran ketika tubuh mereka mulai berubah selama masa pubertas. 

Anak tidak akan malu lagi untuk membahas topik yang berhubungan tentang seks dan tidak membuat lelucon kasar menggunakan nama alat kelaminnya. Hal ini juga dapat menyadarkan anak mengenai risiko dan dampak negatif yang dapat ditimbulkan  jika terjadi perilaku seksual yang tidak pantas.

Anak-anak usia tiga tahun mulai terpapar internet dan game di mana pesan yang berkaitan dengan seks yang tidak pantas berhamburan terutama pada iklan yang muncul. Tanpa pengetahuan mengenai pendidikan seks, mereka bisa salah menafsirkan pesan-pesan yang bersifat seksual yang disajikan di internet dan mengembangkan gagasan yang salah tentang tubuh mereka. Hal ini relevan jika menyangkut gambar yang ditampilkan di internet yang merepresentasikan tubuh pria dan wanita.

Perkenalan pendidikan seks usia dini bukan hanya tentang memahami bagian tubuh dan memahami batasan yang perlu dilakukan tetapi juga tentang keamanan dan cara-cara untuk menghindari situasi merusak dan membahayakan kesehatan psikologis anak yang dapat mempengaruhi kehidupan dewasanya. Terutama pada kasus kehamilan di luar nikah pada usia dini.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa pendidikan seks usia dini terutama pada umur tiga tahun sangat penting dengan orang tua memberi pemahaman tentang tubuh dan perkembangan seksualitas mereka untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual, memberikan pemahaman mengenai konsep seksual, dan mencegah kasus kehamilan pada usia dini. 

Dengan cara ini, pendidikan seks dapat membantu anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam perkembangan seksual dan menerapkan langkah-langkah keamanan untuk menghindari risiko  dan efek negatif dari aktivitas seksual usia dini. Jadi, hal yang dulunya dianggap tabu berubah menjadi topik yang harus dibicarakan karena yang kita butuhkan adalah pendidikan seksual bukan bagaimana cara melakukan hubungan seksual.